Malam kian larut, dan dingin semakin menusuk. Bangunan tua yang mereka pilih untuk berlindung tampak seperti peninggalan zaman kolonial, dindingnya retak dan dihiasi lumut. Suara hembusan angin merayap di sela-sela jendela yang pecah, menciptakan irama menyeramkan yang memantul di antara keheningan.
“Kita tidak bisa tinggal di sini terlalu lama,” Sean memecah keheningan, suaranya tegas namun bergetar tipis. “Makhluk itu mungkin masih di sekitar kita.”
Hendra mengangguk. “Tapi kalau keluar sekarang, kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi. Kita juga butuh waktu untuk menyusun strategi.”
Semua duduk melingkar di lantai berdebu, hanya diterangi cahaya kecil dari lilin yang mereka temukan di salah satu sudut ruangan. Bayangan mereka melompat-lompat di dinding, menciptakan ilusi yang membuat mereka semakin waspada.
Di sudut ruangan, Chandra terlihat gelisah. Ia memeluk lututnya, tatapannya kosong. Tidak ada yang tahu apa yang berkecamuk di benaknya, tetapi ia merasa seperti ada sesuatu yang memanggilnya. Sebuah suara—halus, tetapi jelas—terus menyebut namanya.
“Chandra,” bisikan itu memanggil, terdengar dari kejauhan, namun entah kenapa terasa begitu dekat.
“Chandra, kamu baik-baik saja?” tanya Hendra pelan, menyadari perubahan ekspresi di wajah adiknya.
Chandra mengangkat wajahnya. “Aku baik-baik saja,” jawabnya singkat, mencoba menyembunyikan kegelisahan. Tetapi Hendra bisa melihat tangan adiknya sedikit gemetar.
“Aku tahu kamu tidak baik-baik saja,” Hendra menambahkan, nadanya lebih lembut. Namun, sebelum ia bisa melanjutkan, Sean memanggil mereka untuk berkumpul di tengah.
“Dengar,” Sean memulai. “Kita harus bekerja sama. Bayangan itu tidak mungkin kita kalahkan kalau kita ceroboh. Kita butuh rencana—setiap orang harus tahu tugasnya.”
Namun, pembicaraan mereka terganggu oleh suara langkah yang berat dari arah luar. Semua terdiam, menahan napas. Suara itu semakin dekat, seperti sesuatu yang besar sedang mengintai.
“Matikan lilinnya!” bisik Haiden panik.
Namun, sebelum mereka bisa bergerak, langkah itu berhenti. Suasana menjadi sangat sunyi, hingga suara napas mereka sendiri terdengar jelas.
Chandra merasa sesuatu yang tidak terlihat menariknya. Tubuhnya mulai bergerak, perlahan, menuju pintu. Ia tidak bisa melawan dorongan itu. Langkah kakinya semakin cepat, sampai ia mencapai ambang pintu.
“Chandra! Kamu mau ke mana?” suara Edwin memecah keheningan. Semua menoleh dan terkejut melihat Chandra yang sudah berdiri di sana, matanya kosong seperti dalam keadaan trans.
“Aku... hanya ingin memastikan keadaan,” jawabnya pelan, suaranya terdengar hampa.
Namun, sebelum mereka sempat menghentikannya, sebuah bayangan besar muncul dari balik kegelapan. Bayangan itu bergerak dengan kecepatan yang mustahil ditangkap oleh mata manusia. Dalam sekejap, bayangan itu menyambar tubuh Chandra.
“CHANDRA!” Sean berteriak, berlari mengejar. Haiden, Hendra dan Edwin mengikuti di belakangnya, tetapi bayangan itu terlalu cepat. Dalam beberapa detik, Chandra telah menghilang, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang mematikan.
---
Ketika Chandra tersadar, ia mendapati dirinya berada di tempat yang tidak ia kenali. Tidak ada dinding, tidak ada lantai, hanya kegelapan yang melingkupi. Udara terasa berat, seperti ada ribuan jiwa yang merintih dan menangis di sekelilingnya.
“Selamat datang, Chandra,” suara berat menggema, menggetarkan setiap sudut ruang.
Chandra menoleh, mencari asal suara itu. Dari dalam kegelapan, muncul sosok bayangan. Kali ini wujudnya lebih nyata—mata merah menyala, tubuhnya diselimuti api hitam yang bergerak liar.
KAMU SEDANG MEMBACA
Darah yang Sama
HorrorCerita ini berkisah tentang Chandra dan 12 saudaranya yang terhubung oleh darah namun berasal dari orang tua yang berbeda. Terjebak dalam kutukan gelap yang diwariskan oleh leluhur mereka, mereka menghadapi berbagai teror di rumah tua keluarga. Keti...
