28: Dunia yang Gelap

109 10 0
                                        

Keheningan itu begitu pekat setelah sosok itu menghilang, seolah ruang di sekitar mereka memudar. Chandra masih memegang batu besar yang baru saja menyala dengan energi luar biasa. Rasa panas dari batu itu membuat telapak tangannya terasah, namun ia tidak bisa melepaskannya.

"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Zaidan, wajahnya masih menunjukkan kebingungan. "Apakah itu benar-benar penjaga seperti yang dikatakan sosok tadi?"

Chandra mengangguk pelan, namun tidak bisa mengungkapkan semuanya. Ada sesuatu dalam dirinya yang mulai bangkit, sebuah kekuatan yang tidak bisa ia pahami sepenuhnya. Sesuatu yang sudah lama tertidur, kini mulai terbangun dan membuatnya semakin sulit mengontrol pikirannya.

"Mungkin ada penjelasan di sini," kata Mahesa sambil menatap batu itu dengan penuh rasa ingin tahu. "Tapi kita harus mencari tahu lebih banyak tentang apa yang sebenarnya terjadi di sini."

"Benar," jawab Chandra, dan meskipun ia merasa bingung, hatinya mulai mantap. "Kita harus melangkah lebih jauh. Jika ini benar-benar bagian dari takdir kita, kita harus siap menghadapi apapun yang datang."

Namun, tepat saat mereka hendak melangkah lebih jauh, sebuah suara mengejutkan memecah kesunyian.

"Jangan bergerak!"

Sosok yang muncul di depan mereka bukan lagi bayangan besar, tetapi seorang pria tinggi dengan jubah hitam yang mengilap, wajahnya tersembunyi di balik penutup. Meskipun demikian, aura yang dipancarkan sangat kuat, dan seketika itu pula, mereka semua merasakan beban yang berat, seperti ada sesuatu yang menekan dada mereka.

"Siapa kau?" tanya Sean, suaranya tegas meskipun ia merasa ketakutan.

Pria itu tidak menjawab langsung, malah memandang mereka dengan tatapan yang tajam. "Kalian sudah membuka pintu yang tidak seharusnya dibuka," katanya dengan suara yang dalam dan tegas. "Tidak ada yang bisa menghindari takdir yang telah digariskan. Tetapi, kalian bisa memilih. Pilih dengan bijak."

“Pilih apa?” tanya Zaidan dengan penuh kebingungan.

Pilih antara bertahan atau melepaskan takdir ini,” jawab pria itu. “Jika kalian terus maju, kalian akan menghadapi konsekuensi yang tak terelakkan. Tetapi jika kalian mundur sekarang, kalian masih bisa selamat.”

"Jadi ini pilihan?" kata Mahesa, nada suaranya dipenuhi keraguan. "Tidak ada jalan tengah?"

Pria itu tersenyum tipis. "Tidak ada jalan tengah dalam dunia ini. Kalian harus memilih. Namun ingat, pilihan yang kalian ambil akan menentukan nasib bukan hanya kalian, tetapi juga dunia ini."

“Kalau begitu, kita harus maju,” kata Chandra dengan suara yang penuh keyakinan. "Kita sudah datang sejauh ini. Kita tidak akan mundur."

Sosok pria itu hanya mengangguk, seolah menghormati keputusan mereka. “Baiklah, jika itu yang kalian pilih, kalian harus siap untuk menghadapi ujian terakhir.”

Tak lama setelah pria itu menghilang, mereka semua merasakan sebuah goncangan hebat. Tanah di bawah mereka bergetar, dan batu besar di hadapan mereka mulai mengeluarkan cahaya yang semakin terang. Seiring cahaya itu semakin intens, ruang di sekitar mereka pun mulai berubah.

Tiba-tiba, dinding batu yang semula mengelilingi mereka mulai terbuka, mengungkapkan sebuah ruang besar yang tidak mereka kenal. Di tengah ruang itu, terdapat sebuah pintu besar yang terbuat dari logam hitam, penuh ukiran-ukiran kuno yang sangat rumit. Namun, di atas pintu itu, terdapat sebuah tulisan yang hanya bisa terbaca oleh Chandra, yang melihatnya dengan jelas di dalam pikirannya.

"Hanya yang terpilih yang bisa membuka jalan ini. Temukan kekuatan dalam dirimu dan buka pintu itu. Jika gagal, semua yang telah kalian perjuangkan akan sia-sia."

Darah yang Sama Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang