23: Lingkaran pengorbanan

134 5 0
                                        


Saat Prof. Armand berdiri menghadapi makhluk itu di tengah lorong yang gelap, ia mencoba berbicara dengan tegas. "Aku tau kau marah, tapi ini bukan salah mereka. Bebaskan mereka dari perjanjian ini. Aku bersedia menjadi gantinya"

Makhluk itu mendengus keras, sorot matanya memerah semakin terang seperti api yang semakin tersulut. Rasa marah yang telah terpendam berabad-abad dalam wujud kegelapan itu seolah tak bisa diredam. Aura gelapnya mengalir seperti kabut pekat, menyebar di sekitar Prof. Armand.

"Kau pikir kau bisa mengaturku dengan kata-kata murahanmu?" suara makhluk itu bergaung dengan nada penuh kebencian.

Meski merasa ngeri, Prof. Armand tetap berdiri tegak. "Ini semua bisa berakhir jika kau membiarkan mereka pergi. Aku adalah keturunan dari leluhur yang membuat perjanjian ini. Jika darah yang kau inginkan, maka ambillah milikku."

Namun, ucapan Prof, Armand justru memancing kemarahan makhluk itu lebih jauh. Seolah tersulut oleh pernyataan itu, makhluk tersebut menjerit penuh amarah. Dengan gerakan cepat, ia melesat ke arah Prof, Armand, cakarnya terangkat tinggi, dan tanpa kendali, ia menghantam tubuh Armand dengan segenap kekuatan.

Seketika, tubuh Armand terlempar menghantam dinding lorong, menciptakan suara dentuman yang mengerikan. Darah segar menetes dari sudut bibirnya, dan napasnya semakin lemah. Makhluk itu menyadari apa yang telah dilakukannya, tetapi amarahnya membuatnya tak mampu berhenti.

Di saat terakhirnya, Armand, meski terluka parah, tersenyum lemah. "Setidaknya... mereka punya kesempatan..." bisiknya dengan suara nyaris tak terdengar.

Dari balik pintu, Sean Chandra, dan yang lainnya menyaksikan dengan perasaan hancur. Tampa sadar, makhluk itu telah membunuh satu-satunya orang yang berusaha menolong mereka. Armand terkulai, napasnya berhenti di antara bayang-bayang gelap yang mengelilinginya.

Mereka semua hanya bisa terdiam dalam duka dan ketakutan. Mereka tau, pengorbanan Armand ini memberi mereka peluang untuk melarikan diri. Dengan tekad yang tersisa, mereka berlari, meninggalkan lorong yang kini sunyi dan penuh kesedihan. Mereka berjanji, apa pun yang terjadi mereka tidak akan membiarkan kematian Prof, Armand sia-sia.

Dengan hati yang berat dan tubuh yang masih bergetar, mereka berlari menyusuri lorong yang berkelok-kelok.  Pengorbanan Prof. Armand memberi mereka kesempatan untuk melarikan diri, namun kehadiran bayangan itu masih terasa begitu kuat di belakang mereka. Lorong-lorong kampus yang biasanya begitu akrab kini berubah menjadi jebakan labirin yang mencekam. Setiap sudut terasa menyembunyikan kegelapan yang mengintai mereka.

Sean, yang paling depan, mencoba menenangkan napasnya sambil memimpin. "Kita tidak bisa hanya lari tanpa rencana. Makhluk itu akan terus mengejar kita."

Chandra, yang masih terguncang oleh kematian Prof. Armand, mengangguk, namun kebingungan terpancar dari wajahnya. "Lalu apa yang harus kita lakukan? Makhluk itu terlalu kuat… bahkan Armand tak bisa menahannya."

Edwin mengamati dinding lorong yang terus berubah. "Masalahnya bukan hanya makhluk itu, tapi juga perjanjian terkutuk ini. Ada sesuatu yang mengendalikan ruang di sini, seolah-olah kampus ini membentuk perangkap sendiri."

Mereka berhenti sejenak di persimpangan, mencari tanda-tanda arah yang bisa menuntun mereka keluar. Namun setiap lorong tampak sama—panjang, sepi, dengan cahaya lampu yang berkedip-kedip, membuat bayangan yang menari di sekeliling mereka.

Tiba-tiba, Hendra menunjuk sebuah pintu tua di ujung lorong. "Lihat itu. Ada pintu lain di sana. Mungkin itu jalan keluar."

Tanpa ragu, mereka berlari menuju pintu tersebut, berharap menemukan tempat aman. Namun saat mereka tiba, pintu itu terkunci rapat. Mahesa, yang berada di belakang, mulai panik. "Ini tidak mungkin. Setiap jalan yang kita ambil sepertinya mengarah kembali ke lorong yang sama. Seolah kita terjebak dalam lingkaran."

Darah yang Sama Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang