Meskipun ancaman bayangan itu telah berlalu, mereka tahu itu belum berakhir. Chandra merasa ada yang tidak beres, seolah ada sesuatu yang lebih besar menunggu mereka di depan. Ketika mereka kembali ke rumah, segala sesuatu terasa berbeda. Hawa di sekitar rumah tua itu terasa lebih berat, dan bayang-bayang seolah bergerak dengan sendirinya.
“Mungkin kita perlu kembali ke tempat itu,” ujar Zaidan, yang masih memegang gulungan kuno yang telah dibacakan selama ritual. “Ada sesuatu yang belum selesai. Aku bisa merasakannya.”
Sean mengangguk. “Aku setuju. Terlalu banyak yang belum kita pahami. Kenapa kita yang dipilih untuk ini? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?”
Chandra menatap rumah tua itu dengan perasaan yang tak bisa dijelaskan. Rasa takut dan rasa penasaran bertarung di dalam dirinya. Namun, dia tahu bahwa ia tidak akan bisa melarikan diri dari takdirnya.
“Aku akan pergi ke sana. Aku harus menghadapinya,” kata Chandra, suara tegas meskipun hati kecilnya ragu.
“Tidak, kita semua akan pergi,” jawab Mahesa, berdiri dengan tegap di sebelahnya. “Kita hadapi ini bersama.”
Mereka pun kembali menuju rumah itu, kali ini dengan langkah yang lebih hati-hati. Di sepanjang jalan, Chandra merasa seperti ada mata yang terus mengawasi mereka, melihat setiap langkah mereka dengan penuh perhitungan.
---
Saat mereka tiba di rumah tua itu, suasana semakin mencekam. Rumah yang dulunya terlihat seperti tempat yang penuh kenangan kini tampak kosong dan menyeramkan, dikelilingi oleh kabut tipis yang menyelimuti tanah di sekitarnya. Begitu mereka melangkah masuk, suasana berubah drastis. Ruangan yang pernah terasa akrab kini penuh dengan energi yang gelap.
Chandra memandang sekelilingnya. Matahari hampir terbenam, dan hanya cahaya rembulan yang menerangi ruang utama. Di tengah ruangan, ada sebuah meja kayu besar yang tampaknya sangat tua, seolah sudah ada sejak zaman dahulu. Di atas meja itu, terdapat sebuah kotak kayu kecil yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya.
“Apakah itu?” tanya Ferdian dengan suara rendah, mencoba mendekati kotak itu.
“Aku tidak tahu,” jawab Chandra, namun hatinya berdebar kencang. Kotak itu terasa familiar, seolah ia sudah pernah melihatnya sebelumnya, meskipun ia yakin ia tidak pernah menyentuhnya.
“Buka saja, Chandra,” kata Hao, matanya penuh tanda tanya. “Mungkin itu kunci untuk mengungkap apa yang terjadi pada kita.”
Chandra meraih kotak itu dengan hati-hati. Tangan yang memegang kotak itu terasa berat, seperti ada kekuatan yang ingin menahannya. Dengan ragu, ia membuka kotak tersebut.
Di dalam kotak itu terdapat sebuah kunci kecil berwarna perak, yang bersinar lembut di bawah cahaya rembulan. Di samping kunci itu, ada sebuah potongan kertas yang tampaknya sangat kuno.
“Apa ini?” tanya Chandra, mengambil kunci itu dan kertas di dalam kotak.
Di kertas itu terdapat gambar yang sangat familiar. Sebuah simbol yang sama dengan yang ada di gulungan kuno yang mereka temukan sebelumnya. Hanya saja, ada tambahan beberapa garis yang membentuk pola misterius yang tak bisa dipahami.
“Simbol itu...,” kata Zaidan, matanya berfokus pada gambar itu. “Itu adalah simbol dari keluarga kita.”
Semua terdiam.
“Apa maksudmu?” tanya Sean, mencoba menyusun kepingan informasi yang baru mereka dapatkan.
“Ini bukan hanya tentang kita,” jawab Zaidan, wajahnya serius. “Ini tentang garis keturunan kita. Selama ini, kita tidak tahu, tapi... keluarga kita terikat oleh sebuah takdir yang jauh lebih besar dari apa yang kita bayangkan.”
KAMU SEDANG MEMBACA
Darah yang Sama
HorrorCerita ini berkisah tentang Chandra dan 12 saudaranya yang terhubung oleh darah namun berasal dari orang tua yang berbeda. Terjebak dalam kutukan gelap yang diwariskan oleh leluhur mereka, mereka menghadapi berbagai teror di rumah tua keluarga. Keti...
