24: Peristirahatan Sang Pemberani

188 7 0
                                        


Sean menatap teman-temannya, pandangannya tertuju pada satu tujuan yang mereka semua tahu harus dilakukan. "Kita harus kembali. Kita tidak bisa meninggalkan Prof begitu saja."

Tanpa ada yang membantah, mereka mulai berjalan menyusuri lorong-lorong dingin yang membawa mereka kembali ke tempat di mana tubuh Prof. Armand tergeletak. Langkah kaki mereka bergema, mengisi ruang kosong yang sunyi dengan rasa hampa yang dalam. Setiap langkah seolah membawa beban baru-bukan hanya karena kelelahan, tetapi juga rasa kehilangan yang perlahan menggerogoti mereka.

Saat mereka tiba di ruangan tempat Prof. Armand menghembuskan napas terakhirnya, kesunyian semakin pekat. Di sana, tubuhnya terbaring diam, seolah masih menjaga mereka dalam keheningan. Wajahnya yang biasanya penuh ketegasan kini tampak tenang, namun ada bekas-bekas luka yang masih membekas akibat serangan terakhir makhluk itu.

Hendra berlutut di samping tubuh sang profesor, wajahnya penuh dengan perasaan bersalah. "Dia mengorbankan segalanya untuk kita. Kita tidak bisa meninggalkannya di sini."

Satu per satu, mereka mendekati tubuh Prof. Armand, masing-masing mengingat kenangan yang pernah mereka alami bersamanya. Bagi mereka, Prof. Armand bukan hanya seorang pembimbing. Ia adalah sosok yang berani melawan ketakutan demi melindungi mereka.

Zaidan kemudian berbicara, memecah kesunyian. "Kita harus memakamkannya dengan layak, di tempat yang damai."

Mereka semua setuju. Dalam keheningan, mereka mulai mencari alat yang bisa mereka gunakan untuk menggali makam di dekat area luar kampus yang sedikit terlindung oleh pepohonan. Tangan-tangan mereka yang gemetar bekerja dengan cekatan, menyiapkan peristirahatan terakhir untuk sosok yang telah memberi begitu banyak.

Sementara itu, Hendra dan Mahesa mengangkat tubuh Prof. Armand dengan hati-hati, membawanya keluar ruangan menuju tanah yang telah mereka pilih. Mereka semua bekerja dalam diam, namun hati mereka penuh dengan doa dan rasa hormat. Dalam gelapnya malam yang dingin, mereka menyelimuti tubuh sang profesor dengan jasanya sendiri sebagai tanda penghormatan terakhir. Cahaya bulan menyinari wajah mereka yang basah oleh air mata.

Setelah makam selesai digali, mereka menurunkan tubuh Prof. Armand dengan penuh kehati-hatian. Masing-masing dari mereka menundukkan kepala, mengucapkan doa dalam hati. Hendra, dengan suara serak, mulai berbicara, mewakili perasaan mereka semua.

"Terima kasih, Prof. Untuk semua yang telah Anda lakukan. Kami akan selalu mengingat keberanian dan pengorbanan Anda."

Satu per satu, mereka mengumpulkan tanah dan menutup makam dengan tangan mereka sendiri, seolah berusaha memberi kesan bahwa mereka benar-benar merawat dan menghormati sosok yang telah menjadi pahlawan dalam hidup mereka. Ketika makam itu tertutup sepenuhnya, Zaidan mengukir inisial sederhana di atasnya, tanda kecil bahwa di sana beristirahat seorang pemberani yang pernah melindungi mereka.

Setelah semuanya selesai, mereka berdiri di sekitar makam dalam keheningan yang dalam. Meski hati mereka masih dipenuhi kesedihan, ada ketenangan yang tak bisa dijelaskan. Seolah mereka tahu bahwa meskipun Prof. Armand telah tiada, semangat dan pengorbanannya akan terus bersama mereka.

Sean mengusap air matanya dan berbisik pelan, "Kita akan melanjutkan ini, Prof. Apa pun yang menunggu kita di depan, kita akan hadapi bersama. Anda tidak akan pernah dilupakan."

Mereka berbalik meninggalkan makam dengan langkah berat, tetapi ada tekad yang lebih kuat dalam diri mereka. Mereka tahu bahwa pertempuran belum usai, namun dengan pengorbanan yang baru saja mereka saksikan, mereka tidak akan menyerah. Dan dalam hati mereka, suara bisikan yang menakutkan masih terngiang, mengingatkan bahwa perjalanan mereka masih panjang dan penuh rintangan yang lebih gelap menunggu di depan.

Ketika mereka berbalik meninggalkan makam, rasa damai yang menyelimuti mereka tiba-tiba tercabut oleh suara gemuruh dari arah hutan. Suara itu seperti jeritan yang tertahan, seakan hutan mengungkapkan kesedihan dan kemarahan yang mendalam. Cahaya bulan yang semula tenang kini terhalang awan gelap, memberi suasana yang semakin mencekam.

"Dengar itu?" tanya Edwin, menoleh ke arah suara.

Sebelum ada yang menjawab, suara gemuruh itu kembali terdengar, kali ini lebih dekat dan lebih menakutkan. Seolah makhluk yang sama yang menghabisi Prof. Armand kini bangkit lagi, mencari mangsa baru. Ketegangan memenuhi udara saat mereka saling memandang, mata mereka dipenuhi kekhawatiran.

Jojo, berusaha menenangkan, berkata, "Kita harus pergi dari sini. Ini tidak berakhir di sini, kita harus mencari tempat yang aman."

Namun, langkah mereka terhenti saat bayangan hitam bergerak cepat di antara pepohonan, menghalangi jalan kembali ke kampus. Bayangan itu semakin mendekat, menyebarkan aura gelap yang membuat jantung mereka berdegup kencang.

"Siapa itu?" Dimas berbisik, suaranya bergetar.

Di tengah ketakutan mereka, sosok itu muncul dari bayang-bayang, wujudnya kabur, seolah terbuat dari asap hitam. Dengan suara yang menggema, sosok itu berbicara, "Kalian pikir ini selesai? Pengorbanan seorang pahlawan tidak akan pernah sia-sia, tetapi rasa sakit akan selalu ada. Apa kalian siap menghadapi kegelapan yang lebih dalam?"

Hati mereka terhenti sejenak. Makhluk itu, dengan mata merah menyala, menyeringai, seolah menantang mereka.

Hendra yang paling berani mengangkat suaranya. "Kami tidak takut padamu! Prof. Armand telah menunjukkan kepada kami bahwa harapan masih ada. Kami akan melawan!"

Sosok itu tertawa, suara yang terdengar seperti gemuruh petir. "Sungguh berani, tetapi keberanian kalian akan teruji. Tidak ada jalan keluar dari ini. Kematian hanya permulaan, dan saya adalah bayangan dari semua ketakutan yang kalian sembunyikan."

Di tengah suasana mencekam itu, mereka merasakan angin dingin berhembus kencang, membuat mereka terhuyung. Hanya tinggal satu pilihan, mereka harus bersatu dan melawan makhluk itu.

"Jangan biarkan ketakutan menguasai kita!" teriak Sean, menarik perhatian teman-temannya. "Kita harus melawan! Ingat apa yang Prof. ajarkan kepada kita!"

Dengan semangat baru, mereka berbaris, mengangkat tangan dan bersiap untuk melawan, terlepas dari apa yang akan terjadi. Mereka tahu bahwa ini adalah ujian terakhir, bukan hanya untuk mengingat Prof. Armand, tetapi juga untuk menemukan kekuatan di dalam diri mereka. Dalam gelap malam yang mencekam, keberanian mereka menjadi cahaya yang berkilau, siap menghadapi kegelapan yang menyelimuti.

"Bersiaplah!" Hendra berseru, menatap makhluk itu dengan penuh tekad. "Kami akan menghadapi apa pun yang datang!"

Dan dalam momen itu, saat kegelapan mengancam, mereka tahu bahwa perjuangan ini baru saja dimulai. Kekuatan persahabatan dan ingatan akan pengorbanan Prof. Armand menjadi senjata utama mereka dalam menghadapi musuh yang tak terlihat, siap untuk meraih harapan di tengah kegelapan.

Darah yang Sama Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang