Hendra berada di depan bersama Sean, memimpin dengan keyakinan yang membara di wajahnya. Cahaya api dari obor yang dibawanya menyinari sesuatu yang tersembunyi di sudut ruangan itu—sebuah kotak kayu tua, diselimuti lumut dan berlapis debu tebal. Di atas kotak tersebut terdapat ukiran simbol-simbol yang tampak asing, namun entah bagaimana terasa mengundang. Mereka semua berhenti, menatap benda itu dengan perasaan campur aduk antara takut dan penasaran.
"Wah, apa ini?" tanya Hao dengan suara rendah, matanya menyipit meneliti ukiran pada kotak itu. Sean, yang selalu tenang, hanya diam sambil mengamati Hendra yang mendekati kotak tersebut.
"Jangan disentuh dulu, Kak," bisik Zaidan, sorot matanya cemas. "Kita enggak tahu apa yang ada di dalamnya."
Namun Hendra sudah berjongkok di depan kotak itu, tangannya menyentuh permukaannya dengan lembut. "Kita sudah terlalu jauh untuk berhenti sekarang. Sesuatu di dalam kotak ini mungkin menjelaskan semua keanehan yang kita alami," katanya dengan suara mantap, namun ia sendiri merasa takut.
Dengan tangan gemetar, Hendra mengangkat kotak kayu itu. Semua mata tertuju pada kotak tersebut, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Namun saat Hendra membukanya, hanya ada keheningan yang menggantung di udara.
Di dalam kotak itu terdapat benda kecil, sesuatu yang tampak seperti batu permata hitam dengan retakan kecil yang berkilau aneh di bawah cahaya obor dan sebuah gulungan aneh. Benda itu tampak seperti artefak kuno yang telah lama dilupakan.
Sean melangkah maju, melihat lebih dekat. “Ini pusaka kita. Kekuatan yang telah diwariskan oleh leluhur kita.”
Chandra merasakan energi aneh yang memancar dari batu itu, seolah benda tersebut memiliki kehidupan sendiri. Namun sebelum ada yang bisa berkata apa-apa, tiba-tiba sebuah kekuatan besar terasa merasuk ke dalam ruangan, membuat mereka semua terdorong mundur.
Kekuatan itu berasal dari batu. Suara-suara berbisik mulai terdengar di telinga mereka, suara dari masa lalu yang membawa pesan-pesan gelap tentang apa yang akan datang. Dan di sana, di dalam kegelapan ruangan, mereka semua tahu—kutukan yang mereka bicarakan baru saja bangkit.
Kegelapan yang menyelimuti ruangan semakin pekat, seakan seluruh dunia terhenti. Bisikan dari batu itu semakin jelas di telinga mereka, bukan hanya sekadar suara samar, tapi seolah setiap kata tertanam langsung di benak mereka. Sean, yang paling tenang di antara mereka, tampak semakin tegang. Kedua tangannya mengepal erat, namun tatapannya tetap terkunci pada batu permata hitam di tangan Hendra.
"Kutukan apa ini?" bisik Jojo, suaranya serak. Ia berdiri di belakang Edwin, namun tetap menjaga jarak, seolah takut sesuatu akan melompat keluar dari batu itu.
Hendra menggelengkan kepala, wajahnya pucat. "Aku tak tahu," ujarnya pelan, "Tapi jelas ini lebih dari sekadar pusaka keluarga."
Energi yang sebelumnya terasa aneh kini berubah menjadi sesuatu yang menakutkan. Atmosfer di sekitar mereka menjadi berat, setiap tarikan napas terasa sulit. Bahkan obor yang sebelumnya menerangi ruangan mulai redup, api berkedip-kedip seperti takut pada apa yang baru saja terbangun.
Chandra, yang berdiri di sudut ruangan, merasakan jantungnya berdetak cepat. Kekuatan dari batu itu memanggilnya. Ada sesuatu yang asing namun akrab yang menarik perhatiannya. Seakan batu itu bukan hanya pusaka biasa, tapi kunci untuk sesuatu yang lebih besar—lebih mengerikan. “Kita harus menyingkirkan batu ini,” katanya dengan suara yang sedikit bergetar.
"Tidak," bantah Sean cepat. "Ini adalah warisan kita. Kalau benar benda ini membawa kutukan, maka kita harus menyelesaikan masalah ini. Bukan lari darinya."
Tiba-tiba, cahaya yang memancar dari batu itu semakin terang, retakan kecil di permukaannya mulai melebar. Kilatan cahaya aneh yang muncul dari retakan tersebut terasa seperti mata yang memperhatikan mereka. Dalam sekejap, bayangan-bayangan mulai terbentuk di dinding-dinding ruangan, menari dengan gerakan yang tidak manusiawi.
KAMU SEDANG MEMBACA
Darah yang Sama
TerrorCerita ini berkisah tentang Chandra dan 12 saudaranya yang terhubung oleh darah namun berasal dari orang tua yang berbeda. Terjebak dalam kutukan gelap yang diwariskan oleh leluhur mereka, mereka menghadapi berbagai teror di rumah tua keluarga. Keti...
