HALLO GUYS
HAPPY READING YA
MOHON UNTUK BIJAKSANA DALAM MEMBACA, JANGAN MENIRU ADEGAN BERBAHAYA OKE!
***
Suasana kelas siang itu tenang, hanya suara AC dan denting jam dinding yang terdengar. Cahaya matahari menyelinap melalui jendela besar berbingkai putih, menyoroti barisan kursi yang tersusun rapi. Dinding kelas dihiasi lukisan dan rak buku klasik mewah, khas sekolah elite.
Liane duduk di bangku dekat jendela, dagunya bertumpu di tangan. Pandangannya terpaku pada taman kecil di bawah pohon besar. Di sana, tumbuh setangkai mawar merah yang tampak kontras di antara rerumputan. Ia mengernyit setahunya, bunga itu tak pernah ada sebelumnya.
"Liatin apa lo?" tanya Zelin, teman sebangkunya, mengikuti arah tatapan Liane.
"Bunga itu..." jawab Liane pelan. "Aneh, sebelumnya aku gak pernah lihat. Baru ditanam ya?"
Zelin mengedikkan bahu, acuh. "Kata anak-anak, itu ditanam Setra."
"Setra?" Liane menoleh heran. "Preman yang sering mangkal di ruang BK itu?"
Zelin terkekeh pelan. "Iya. Gak nyangka juga kan? Katanya, ada mitos... siapa pun yang tertarik pada mawar itu, mungkin takdirnya si penanam."
Liane terkekeh pelan, mencibir. "Takhayul. Gak masuk akal."
"Tapi lo ngelihatin terus," sahut Zelin dengan senyum menggoda.
Belum sempat membalas, Liane melihat seorang lelaki keluar dari gedung sebelah, berjalan ke arah bunga itu. Ia menuangkan air dari botol minum ke tanah, lalu menatap mawar itu sebentar sebelum berbalik pergi.
Liane terdiam. Wajah lelaki itu asing, tapi caranya memperlakukan bunga itu… lembut, penuh perhatian.
"Siapa sangka... preman juga bisa punya sisi lembut," batinnya.
Selama dua tahun bersekolah di sana, Liane nyaris tak pernah bertemu langsung dengan geng preman sekolah. Mereka seperti bayangan ada, tapi tak terlihat.
"Kamu tahu wajah mereka?" tanya Liane.
Zelin mengangguk, santai. "Pernah lihat. Gak semua berandalan itu urakan. Justru karismatik. Tapi ya gitu… sering dihukum. Bolos, tawuran, merokok di belakang aula."
Liane mengerutkan dahi. "Aku gak nyangka dunia mereka sebebas itu..."
Zelin tersenyum. "Namanya juga preman, Lin."
***
Bengkel tua yang terletak di sudut belakang sekolah itu sudah lama menjadi tempat favorit bagi para pemuda bermasalah. Dindingnya yang penuh coretan grafiti, lantainya yang dipenuhi oli dan bekas ban, serta bau asap rokok yang tercampur dengan aroma kopi hitam yang selalu terhidang, menjadikan tempat ini lebih mirip tempat berteduh bagi anak-anak nakal daripada sebuah bengkel. Di sini, aturan tak berlaku. Yang ada hanya peraturan tak tertulis yang mengikat, yaitu jangan ganggu yang lebih kuat, dan jangan tunjukkan kelemahan.
Sekelompok pemuda duduk bersantai, sebagian sibuk dengan permainan catur, ada yang saling tertawa-tawa sambil bermain kartu, sementara lainnya sedang asyik memainkan permainan judol. Suara lantai yang berderit saat dipijak dan bunyi tutup botol yang tercampur dengan celotehan dan tawa mereka mengisi ruang bengkel itu. Hampir semua dari mereka mengenakan jaket kulit yang sudah usang, tato di kulit mereka menggambarkan kisah hidup yang penuh liku, dan mata mereka yang tajam menunjukkan betapa sedikit yang mereka peduli dengan dunia luar. Mereka adalah generasi pembangkang yang dengan bangga mengenakan label "preman sekolah."
Di tengah keramaian itu, hanya Setra yang duduk diam, matanya kosong menatap seberkas cahaya yang masuk melalui celah-celah kecil di dinding bengkel. Ia tak terganggu oleh hiruk-pikuk di sekitarnya. Pikiran Setra melayang jauh, mengingatkan dirinya pada mimpi yang mengganggu semalam. Mimpi yang terasa begitu nyata, seolah-olah ia benar-benar mengalaminya.
KAMU SEDANG MEMBACA
I FOUND YOU BABY! [ENDING]
CasualeDi antara batas nyata dan mimpi, ada sebuah pertemuan yang tak seharusnya terjadi. Setra, seorang preman bengis dengan jiwa yang hancur, menemukan dirinya terikat pada Lily gadis polos yang hadir hanya di dalam mimpinya. Semakin ia mencoba merengkuh...
![I FOUND YOU BABY! [ENDING]](https://img.wattpad.com/cover/377038371-64-k72917.jpg)