26. AMARAH YANG MEMBUNCAH

1.9K 196 39
                                        

HALLO GUYS
HAPPY READING YA
MOHON UNTUK BIJAKSANA DALAM MEMBACA, JANGAN MENIRU ADEGAN BERBAHAYA OKE!

***

Setelah seminggu penuh absen tanpa kabar, akhirnya Liane kembali menampakkan diri di sekolah. Langkahnya pelan, seolah setiap jejak di lorong terasa berat. Wajahnya sedikit pucat, seperti habis melewati malam panjang tanpa tidur tetapi memang seperti itu kenyataannya. Mata murid-murid lain sempat melirik, tapi tak ada yang benar-benar berani bertanya, mungkin karena Liane orang yang kurang berbaur membuat mereka sungkan.

Kecuali satu orang, Zelin.

Begitu melihat Liane melintasi koridor kelas, Zelin langsung berdiri dari bangkunya. Seolah tak ingin kehilangan momentum, ia segera mengekori temannya itu ke meja paling belakang. Hatinya merasa lega karena temannya sudah muncul kembali setelah hilang beberapa hari, jika saja Liane tak kembali sekolah Zelin pasti akan membuat laporan kehilangan kepada pihak berwajib.

"Lian! Lo ke mana aja sih? Sakit? Kenapa pucat banget? Udah makan belum? Jangan bilang lo belum sarapan lagi!"

Liane hanya menghela napas pelan, meletakkan tasnya tanpa menoleh. Suasana hatinya masih buruk dan ia tak ingin terganggu. Tapi Zelin tak gentar.

"Serius, lo kayak mayat hidup. Muka lo pucat anjir!"

"Aku cuma... Demam biasa, Zel." Sahut Liane akhirnya, lirih.

Zelin mendelik, lalu duduk di sebelahnya tanpa izin. "Ternyata lo beneran demam? Kenapa gak ada ngasih tahu gue kalau lo sakit?"

Liane mengangkat kepalanya, untuk pertama kali menatap Zelin. Ada sesuatu di matanya yang tak biasa, campuran letih, sedih, dan takut.

"Aku juga gatau kenapa bisa sakit Zelin, aku baru aja mengalami hal aneh." Jawabnya.

KRINGG..

Tapi sebelum Zelin bisa bertanya lebih jauh, bel masuk berbunyi. Kelas pun mulai. Meski begitu, Zelin tahu, ini belum selesai.

Setelah mereka berdua duduk di bangku, atensi kelas teralih kepada sang ketua kelas yang mendadak berdiri di depan meja Liane. "Lo di suruh ke ruang konseling sama wali kelas, sekarang!" Ucapnya datar lalu kembali menuju kursinya tanpa menunggu jawaban dari Liane.

"Ayo gue anter, tenang aja dia kagak bakalan ngasih lo hukuman berat, paling cuma skors dikit doang sih." Ucap Zelin dan di angguki oleh Liane.

Beruntung wali kelas mereka termasuk orang yang pengertian. Alih-alih mendapat hukuman berat karena membolos tanpa keterangan selama seminggu, Liane hanya dipanggil ke ruang konseling untuk mendapat peringatan. Tapi tentu saja, Zelin tidak membiarkannya pergi sendiri.

Sesaat setelah mereka berdua sampai di ruangan konseling.

Di sana sang guru BK berbicara dengan nada lembut tapi tegas, menjelaskan betapa pentingnya memberi kabar dan tidak menghilang begitu saja. Sementara itu, Zelin duduk di sebelah Liane, mengangguk-angguk seolah dialah yang sedang diberi nasihat. Sesekali ia menyenggol Liane dengan siku, mengisyaratkan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Dan entah kenapa, kehadiran Zelin yang cerewet itu membuat hati Liane sedikit lebih ringan. Pikirannya tentang lelaki yang ada di mimpinya pun sedikit terobati berkatnya.

****

Setelah kondisinya membaik, Setra akhirnya kembali diizinkan untuk masuk sekolah. Wajahnya masih menyimpan sisa-sisa letih, tapi sorot matanya tajam seperti biasa. Keputusan Lio untuk membatalkan rencana pemindahan Setra ke luar negeri sempat menggemparkan seluruh isi sekolah. Bukan karena Lio berubah pikiran, melainkan karena ia ingin tetap bisa mengawasi Setra dari dekat. Ia tidak ingin kejadian kemarin itu terulang lagi. Selama Setra ada di sini, ia merasa bisa mencegah hal-hal yang tak diinginkan. Termasuk bertemu dengan gadis sialan yang amat ia hindari.

I FOUND YOU BABY!  [ENDING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang