33. WHAT CAN BE MAINTAINED?

1.6K 154 14
                                        

HALLO GUYS
HAPPY READING YA
MOHON UNTUK BIJAKSANA DALAM MEMBACA, JANGAN MENIRU ADEGAN BERBAHAYA OKE!

***

Di sebuah ruangan penuh cahaya remang dan aroma cerutu mahal, Lio duduk di balik meja panjang dengan layar tablet terbuka di depannya. Di sekelilingnya, beberapa dokumen rahasia mengenai perdagangan senjata terhampar rapi, rencana perjalanan ke Milan hampir selesai ditandatangani. Segalanya berjalan sesuai jadwal. Bisnisnya, kekuasaannya, pengaruhnya semua berada dalam kendali.

Namun, sebelum ia meninggalkan kota kelahirannya untuk menutup kesepakatan penting di Eropa, ada satu hal yang masih mengganjal pikirannya, Setra.

Lio sudah menyuruh Daniel untuk pergi ke sekolah, sebagai wali. Bukan tanpa alasan tetapi dirinya terlampau sibuk hari ini hingga tak bisa di ganggu.

Ia menyandarkan tubuh ke kursi, lalu menekan tombol kecil di sisi perangkat. Seketika, suara dari alat penyadap masuk ke telinganya. Hening pada awalnya. Tapi tak lama kemudian...

Kericuhan.

Lio menajamkan telinganya. Suara-suara tak asing muncul satu per satu. Nick. Mark. Suara tergesa, penuh tekanan.

Dan kemudian pembicaraan mereka mengarah kepada Setra dan Liane.

Darah Lio seakan membeku sejenak. Matanya menyipit, dan senyum tipisnya lenyap digantikan dengan guratan tajam di rahangnya. Ia mencondongkan tubuh, mendengarkan lebih seksama. Jantungnya mulai berdebar bukan karena panik—melainkan amarah yang perlahan menyelinap dari dasar dirinya.

Kalimat demi kalimat berikutnya menegaskan apa yang selama ini ia takutkan. Setra telah bertemu dengan Liane. Dan yang membuatnya lebih murka lagi, Nick mengetahui dan membiarkannya? Dan justru dia berniat menyembunyikan hal ini?

Tak butuh waktu lama bagi Lio untuk bereaksi. Ia mengepalkan tangannya di atas meja, hingga buku-buku jarinya memutih. Dentuman halus terdengar saat kepalan itu menghantam permukaan kayu keras sebuah letupan kecil dari amarah yang sudah mendidih di dalam dirinya.

"You damn fucking bitch!" desisnya, pelan tapi tajam seperti pisau.

Ia berdiri dengan tiba-tiba, kursi di belakangnya terlempar mundur. Tubuhnya tegap dan penuh aura berbahaya. Ia mengangkat telepon satunya, memberi perintah singkat namun tegas.

"Siapkan mobil. Panggil semua bodyguard yang sedang standby. Kita ke sekolah Setra. Sekarang!"

Tanpa menunggu jawaban, ia mematikan sambungan. Napasnya berat, tapi matanya menyala dengan kebencian yang tak bisa ditutupi.

Sekarang bukan lagi soal pertemuan diam-diam. Ini perang. Dan tombol 'start'-nya sudah ditekan sejak kemarin.

Yang paling membuat Lio marah bukan hanya pengkhianatan. Bukan hanya fakta bahwa Liane masih nekat mendekati Setra. Tapi kenyataan lain yang membuat darahnya mendidih bahwa mereka selama ini satu sekolah. Satu tempat. Satu atap?

"Sudah sejauh ini mereka menipuku?" gumamnya, seperti berbicara pada dirinya sendiri.

Ia meraih jasnya, mengenakannya dengan gerakan cepat dan penuh amarah. Matanya lurus ke depan, senyum jahatnya penuh rencana. Dalam benaknya, satu hal pasti, hari ini… sekolah itu akan menjadi saksi bahwa tak ada satu pun orang yang bisa mempermainkan Lio. Terutama seorang gadis sialan bernama Liane itu.

***

Langkah kaki berat terdengar menaiki tangga darurat, cepat dan tak teratur. Nafas terengah-engah, suara sepatu bersentuhan dengan lantai beton berkali-kali. Pak Arto, guru konseling yang selalu menjadi garda terdepan dalam setiap insiden di sekolah, muncul dari bawah tangga dengan wajah cemas.

I FOUND YOU BABY!  [ENDING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang