Nick dan Mark berdiri membeku di ambang pintu, terkejut oleh pemandangan tak terduga di hadapan mereka. Pertama kali dalam sejarah pertemanannya, melihat Setra seperti ini kepada seorang perempuan. Di tengah ruangan yang masih berantakan dan berbau alkohol menyengat, Setra tertidur dengan damai nyaris seperti anak kecil di pangkuan Liane.
Paha Liane menjadi bantal baginya, sementara satu lengannya melingkar erat di perut gadis itu, seolah ia takut kehilangan sesuatu yang amat berharga. Liane duduk bersandar di sofa tua, tangannya perlahan mengusap rambut Setra, gerakannya tenang, penuh kelembutan yang kontras dengan ketegangan sebelumnya.
Untung saja Liane berhasil merayu amukan Setra untuk lebih tenang dan tidak menciumnya lagi. Meskipun pada akhirnya ia terjebak
“Nick lo serius? Gue gak tega lihat Setra kayak gini jing..." bisiknya nyaris tak terdengar.
Nick hanya mengangguk pelan, matanya tak lepas dari Setra dan Liane. Hatinya kacau, pikirannya sibuk menerka, apakah Liane benar-benar luluh? Atau Setra mengancamnya hingga ia tak bisa bergerak? Apakah ini kasih atau ketakutan yang terselubung? di posisi seperti ini.
Ia tahu betul sisi gelap dalam diri Setra, sisi yang bisa menghancurkan siapa saja yang terlalu dekat.
Namun saat melihat bagaimana jari-jari Liane terus menyisir rambut Setra dengan perlahan, Nick mulai ragu. Ada kelembutan yang tak dibuat-buat. Ada kesedihan yang tak bisa disembunyikan. Dan entah kenapa, itu justru membuat semuanya terasa lebih menyesakkan.
Nick menarik napas panjang.
“Gue bawa dia pergi sekarang,” ucapnya lirih pada Mark.
“Selagi Setra masih tidur. Kalau dia bangun dan sadar Liane gak di situ lagi, kita masih bisa bilang semuanya cuma mimpi.”
Mark mengangguk tanpa suara.
Dengan sangat hati-hati, Nick mendekat. Ia mengangkat tubuh Setra pelan, melepaskan pelukannya dari Liane. Gadis itu ikut bangkit dengan gerakan perlahan, matanya masih sembab, tapi ia tidak bicara sepatah kata pun.
"Sorry udah buat lo repot. Kita pulang sekarang." Ucapnya di angguki oleh Liane.
Saat Nick menggandeng tangannya keluar dari ruangan itu, Liane menoleh sekali melihat tubuh Setra yang tertidur di sofa, wajahnya tenang persis seperti yang sering ia lihat di mimpi.
Dan entah mengapa, hati Liane terasa lebih berat dari sebelumnya. Seolah apa yang baru saja ia tinggalkan adalah sebuah kenyataan yang tak bisa di hindari untuk selamanya.
***
Suara mesin mobil sport mewah milik Nick melaju halus membelah sepi, interior mobil yang dingin hanya dihangatkan oleh lampu kota yang sesekali menyinari wajah cantik Liane.
Gadis itu duduk diam di kursi penumpang, membisu dengan kepala tertunduk. Jemarinya saling meremas gelisah, sesekali matanya menatap ke luar jendela, memandangi kerlip lampu jalan seperti mencari jawaban atas segala kekacauan yang mengurung pikirannya.
Nick melirik ke arahnya sekilas. Helaan napas panjang lolos dari bibirnya sebelum akhirnya ia membuka suara.
“Gue tahu siapa lo...” katanya pelan, tapi tegas. “Lo temen masa kecilnya Setra, kan?”
Liane menoleh cepat, matanya membulat kaget. “Kamu tahu dari mana?” suaranya nyaris berbisik. “Apa Setra juga tahu?”
Nick menggeleng. “Belum. Dia gak tahu apapun, dan gue tahu juga dari bunga mawar itu.”
“Bunga yang Setra tanam di taman sekolah itu bukan sembarangan. Melainkan sebuah simbol. Setra bilang bunga itu bakal mati kalau orang yang di carinya sudah ketemu. Waktu lo sentuh, bunga itu langsung mati seketika."
KAMU SEDANG MEMBACA
I FOUND YOU BABY! [ENDING]
RandomDi antara batas nyata dan mimpi, ada sebuah pertemuan yang tak seharusnya terjadi. Setra, seorang preman bengis dengan jiwa yang hancur, menemukan dirinya terikat pada Lily gadis polos yang hadir hanya di dalam mimpinya. Semakin ia mencoba merengkuh...
![I FOUND YOU BABY! [ENDING]](https://img.wattpad.com/cover/377038371-64-k72917.jpg)