39. HOLD ON A MOMENT

1.6K 179 44
                                        

HALLO GUYS
HAPPY READING YA
MOHON UNTUK BIJAKSANA DALAM MEMBACA, JANGAN MENIRU ADEGAN BERBAHAYA OKE!

***

Setra memacu mobilnya menuju satu-satunya tempat yang terpikir olehnya. Di rumah lebih tepatnya tempat kerja Lio. Pria itu... satu-satunya yang mungkin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Atau lebih buruk yang mungkin menjadi dalang dari semuanya.

Kemarahan, kekecewaan, rasa sakit semuanya berdesakan dalam dada Setra, membakar pikirannya hingga tak ada ruang untuk logika. Tidak! Setra tidak bisa diam. Seluruh nalurinya berteriak, mendesak, memaksa tubuhnya untuk bergerak. Seolah ada benang halus yang mengikat jiwanya dengan Liane, dan sekarang, benang itu ditarik begitu keras hingga terasa hampir putus. Liane sedang dalam bahaya. Setra bisa merasakannya di setiap helaan napasnya, di denyut cepat jantungnya yang berdetak tak terkendali.

Dengan napas memburu dan tangan sedikit gemetar, Setra merogoh saku celananya, menarik ponsel dengan gerakan tergesa. Dunia di sekitarnya terasa menyempit, seolah waktu tak lagi berpihak padanya. Ia tahu, hanya satu nama yang bisa memberi guncangan cukup besar untuk membuat Lio mundur, Atmadja.

Jari-jarinya bergerak cepat menekan nama sang kakek di layar. Ragu sempat menyelinap, tapi amarah yang tertahan membuatnya mantap menekan tombol panggil.

Nada sambung terdengar lama. Detik demi detik menambah gelisah di dadanya, sampai akhirnya...

"Halo?"

Suara berat itu muncul. Dingin. Tenang. Tapi penuh wibawa yang tak terbantahkan.

Setra menggenggam ponselnya lebih erat. Suaranya nyaris pecah menahan amarah dan rasa tidak berdaya yang menyesakkan.

"Kek… Aku butuh bantuan. Ini soal papah."

Hening sejenak.

"Apa yang dia lakukan kali ini?" tanya Atmadja, datar.

Setra mengepalkan tangan, rahangnya mengeras.

"Dia sudah melewati batas. Aku memang bisa melawan, tapi… ini bukan soal ego. Ini soal masalah depanku. Dan aku… aku butuh seseorang yang bisa membuatnya berhenti sepenuhnya."

"Dan kamu ingin aku turun tangan?"

"Aku tak minta banyak… hanya satu langkah dari Kakek. Satu langkah… untuk membuatnya sadar kalau dia tidak boleh menyentuh miliku."

Hening kembali.

"Kirimkan lokasi. Aku datang."

Begitu panggilan berakhir, Setra memejamkan mata sejenak. Napasnya berat, tapi kini diselimuti keyakinan. Angin pun seolah berubah arah. Sekarang Setra tak lagi berdiri sendiri!

Mobil berhenti dengan suara decitan ban yang kasar. Setra turun, langkahnya berat, penuh niat membunuh. Tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-bukunya memutih. Tatapannya gelap, seperti bayangan kematian yang datang mengetuk pintu.

Dan saat itu, pintu besar berderit terbuka.

Lio berdiri di sana, mengenakan kemeja putih yang kini ternoda darah segar di bagian dada dan lengan.
Di sampingnya, berdiri para kacung setianya, mata mereka menajam, tangan mereka terjulur waspada ke arah sabuk senjata.

Suasana seketika membeku. Udara di antara mereka terasa begitu berat, begitu padat, hingga sulit untuk bernapas.

Setra tidak membuang waktu.
Dengan suara dingin dan tajam, ia bertanya, "Di mana Liane?"
Tak ada basa-basi, tak ada sopan santun hanya nada mengancam yang menyiratkan kebencian.

I FOUND YOU BABY!  [ENDING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang