HALLO GUYS
HAPPY READING YA
MOHON UNTUK BIJAKSANA DALAM MEMBACA, JANGAN MENIRU ADEGAN BERBAHAYA OKE!
***
Ah, sialan. Hampir saja Setra membanting gelas di meja. Bayangan wajah Lio masih menempel di kepala, tatapan marah, nada suara yang keras, tapi di balik itu semua, ada sesuatu yang Setra tidak bisa jelaskan.
Ia duduk di tepi ranjang, rambutnya berantakan, tubuhnya masih terasa lelah akibat malam penuh debat dan emosi. Asap rokok sisa semalam masih menggantung di udara kamar, bercampur dengan aroma alkohol yang belum sempat hilang. Sunyi. Hanya detak jam di dinding yang terdengar, pelan tapi menusuk.
Suaranya serak. “Apa yang bikin daddy jadi segila itu?”
Setra menunduk, menatap tangannya sendiri. Urat di pergelangan tangannya menegang. Ia tahu, di balik semua kemarahan Daddy, ada sesuatu yang jauh lebih dalam sesuatu yang bahkan ia sendiri belum bisa pahami.
Ia berdiri, melangkah ke arah meja kecil di sudut kamar. Di sana, ada bingkai foto tua. Debunya tebal, tapi Setra masih bisa melihat dua sosok di dalamnya seorang lelaki muda dengan senyum sombong khas Lio, dan seorang perempuan yang entah kenapa terasa asing. Wajahnya kabur, warnanya pudar tapi senyumnya mirip dengannya.
“Mama…” kata itu keluar begitu saja, pelan, nyaris tidak terdengar. Bibirnya kaku saat mengucapkannya, seperti menyebut nama seseorang yang tidak benar-benar pernah ia kenal.
Ia menghela napas panjang. “Apa kehilangan satu orang bisa bikin dia segila itu?” gumamnya, getir.
Matanya memejam sebentar, ia tak pernah mendengar suaranya, mencium wanginya, atau apapun tentang perempuan itu tapi hampa. Tidak ada apa-apa. Hanya bayangan samar yang tidak pernah ia sentuh.
Hari ini ia memutuskan untuk bolos lagi. Lio yang menyuruh, katanya sekolah sedang tidak aman. Tapi Setra tahu, bukan karena takut ia diserang Lio cuma takut kehilangan lagi.
Ia menyandarkan tubuh ke tembok, menatap langit-langit yang retak di salah satu sudut. “Lucu ya,” katanya pelan, senyum miris mengembang di wajahnya. “Kita berdua sama-sama rusak, cuma beda cara nutupinnya.”
Dan di balik semua kebencian, ada hal kecil yang tak ingin ia akui bahwa sebenarnya ia hanya ingin Lio menatapnya lagi, bukan dengan amarah, tapi dengan kasih yang dulu mungkin pernah ada.
***
Berbeda sama Nick, Mark dan temen-temen Setra yang lain, mereka tetap dateng ke sekolah cuma buat isi absen, habis itu pergi bolos di jam pelajaran. Udah kebiasaan.
Dan tidak ada yang berani ngejar mereka.
“Setra udah bisa dihubungin belum?” tanya Mark pelan sambil nyalain rokok.
Nick geleng santai, meski dari sorot matanya kelihatan ada kekhawatiran yang dia tutupin. “Kagak. Dari tadi gue spam, gak diangkat-angkat. Mungkin lagi mabok atau pingsan di rumahnya.”
Mark ngelirik sekilas, ujung rokoknya belum juga kebakar. “Om Lio tau gak kalo Setra sering mabok? Sama make narkoba juga?”
Nick langsung berhenti ngerokok, asap ketahan di tenggorokan. “Mabok sih udah pasti tau, bokapnya kan gak buta. Tapi kalo narkoba? Gue rasa belum. Dan lo jangan goblok ngomong beginian di tempat rame.”
Mark mendecak, ngeraut canggung. “Ya gue cuma nanya anjing, takut aja. Kalo tiba-tiba kebongkar semua dan kita di laporin kelar semua. Lo tau sendiri bokap gue, tangan dia tuh lebih cepet dari otak.”
Nick nyengir tipis, ketawanya kering banget. “Dilaporin? Ke siapa? Lo lupa Setra anak siapa? Bokapnya lebih serem dari semua orang tua di sekolah ini. Lo tenang aja.”
Dia nyandar ke pagar, ngebuang pandangan ke langit abu-abu yang suram.
KAMU SEDANG MEMBACA
I FOUND YOU BABY! [ENDING]
DiversosDi antara batas nyata dan mimpi, ada sebuah pertemuan yang tak seharusnya terjadi. Setra, seorang preman bengis dengan jiwa yang hancur, menemukan dirinya terikat pada Lily gadis polos yang hadir hanya di dalam mimpinya. Semakin ia mencoba merengkuh...
![I FOUND YOU BABY! [ENDING]](https://img.wattpad.com/cover/377038371-64-k72917.jpg)