25. TERBANGUN

1.5K 142 4
                                        


HALLO GUYS
HAPPY READING YA
MOHON UNTUK BIJAKSANA DALAM MEMBACA, JANGAN MENIRU ADEGAN BERBAHAYA OKE!

***

Barangkali kedua jiwa ini memang hanya diizinkan bersapa sebentar seperti dua garis orbit yang bersinggungan sekilas sebelum kembali pada jalur masing-masing.
Atau mungkin mimpi ini hanyalah bagian kecil dari perjalanan panjang yang tak pernah mereka pahami.

Namun kenapa harus berakhir secepat ini, ketika hatinya mulai terbiasa dengan kehadirannya?
Ketika napasnya mulai hafal ritme milik Setra?

Kalian pernah dengar.
bahwa sesuatu yang sudah tertulis di garis daiva tidak akan bisa digeser.
Bukan tentang sekeras apa manusia berjuang, tapi tentang apa yang memang diciptakan untuk berputar pada porosnya sendiri. Dan secara kasar, jika dua jiwa tidak ditakdirkan bersama, maka tak akan pernah ada panggung untuk akhir yang indah.

Lalu apa yang terjadi jika ia melanggar peraturan itu? Apa Tuhan murka karena poros lain terganggu?
Kalau memang begitu. Liane tidak peduli. Sekalipun akhirnya adalah kehancuran atau kematian,
ia ingin tetap memperjuangkan cinta itu.

'Aku ingin egois.
Aku mau Tera di dunia nyata, bukan hanya di dunia mimpi.
Satu kali saja, biarkan aku memilih dia.'

Tiba-tiba, sebuah sentuhan dingin menyentuh pipinya. Lembut, namun cukup untuk merobek keheningan yang membelenggunya. Cahayanya menyilaukan ketika ia membuka mata, putih, tenang, dan asing bagi hati yang masih tenggelam dalam mimpi.

“Akhirnya kamu bangun, sayang… Mama khawatir sama kamu.”
Suara itu lembut, nyaris bergetar.
Jari-jari Anne mengusap peluh di pelipis putrinya.

Pandangan Liane perlahan fokus.
Kamarnya sendiri.
Bau lavender yang familiar.
Dunia nyata yang terasa terlalu sunyi dibanding mimpi tadi.

“Mama…”
Hanya satu kata itu yang berhasil keluar rapuh, patah, dan penuh kehilangan.

Anne tak menunggu penjelasan.
Ia langsung menarik putrinya ke dalam pelukan hangat yang sudah menua, membuat dunia yang runtuh di dalam dada Liane terasa sedikit lebih manusiawi. Kecupan mendarat di puncak kepalanya seperti janji bahwa ia tidak sendirian.

“Syuuutt… it’s okay. Mama di sini, sayang.” Elusannya pelan, seirama detak jantung yang berusaha menenangkan badai. “Anak Mama kuat. Jangan dipendam sendiri.”

Namun ketenangan itu justru membuat bendungan air mata pecah.
Tangis Liane meledak keras, gemetar, seakan ada sobekan besar di dalam jiwanya.

Anne memeluknya lebih erat, menahan tubuh kecil itu dari hancur.

“Maaf…” suara Liane pecah, terdorong dari kedalaman luka.
“Maafin aku, Ma… Aku… aku gak baik-baik aja. Semuanya udah selesai.
Aku… gak punya kesempatan lagi buat ketemu.” Liane sadar ternyata
tuhan sudah mengambil satu-satunya tempat di mana Setra masih bisa ia temui.

Liane mengeratkan pelukannya pada Anne, seolah hanya wanita itu yang mampu menahan tubuhnya agar tidak runtuh.  “Mama… aku boleh minta sesuatu?” Bisiknya parau, dengan suara yang pecah.

“Aku mau Tera kembali. Aku gak mau pisah dari dia. Kumohon, tolong aku.”

Nada memohonnya terdengar seperti seseorang yang sedang meminta satu
kesempatan hidup. Dalam hatinya, penyesalan menghantam, kenapa ia harus kabur? Kenapa ia harus bersikap kekanak-kanakan di detik terakhir? Andai ia jujur sejak awal, mungkin luka ini tidak akan sekacau sekarang.

Anne menggeleng pelan, air mata ikut jatuh. “Sayang… kalian memang tidak bisa bersama. Kalian sudah berada di jalan yang berbeda.” Suaranya bergetar, seperti menahan retakan di dada.

I FOUND YOU BABY!  [ENDING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang