40. BLOOD FIGHT

1.6K 168 41
                                        

HALLO GUYS
HAPPY READING YA
MOHON UNTUK BIJAKSANA DALAM MEMBACA, JANGAN MENIRU ADEGAN BERBAHAYA OKE!

***

Suara deru mesin terdengar memekakkan telinga saat mobil mewah berwarna hitam pekat itu melesat dengan kecepatan tak wajar di jalanan. Rey duduk di balik kemudi, kedua tangannya mencengkeram kuat lingkar kemudi dengan urat-urat yang tampak menegang. Tatapannya tajam menembus jalanan di depannya, fokus sepenuhnya pada tujuan mereka.

Di kursi penumpang, Anne duduk dengan tubuh kaku. Jemarinya menggenggam erat jaketnya yang ia kenakan, wajahnya pucat pasi dan penuh kecemasan. Napasnya tak teratur di dada, jantungnya berdegup cepat, bukan karena kecepatan mobil Rey, tapi karena ketakutan yang sejak tadi mencengkeram pikirannya.

Liane... semoga kamu baik-baik saja ya sayang... batinnya penuh kekhawatiran.

Tatapan Rey yang dingin, dengan sorotan tajam mata elangnya, menambah tekanan dalam ruang sempit mobil itu. Lengan kirinya yang bertato terbuka jelas, memperlihatkan guratan-guratan tajam dan penuh makna yang menegaskan sisi gelap dan keras dari pria itu. Gara, yang duduk di kursi belakang, mencibir diam-diam melihat sosok Rey yang tampak begitu dominan. Ada rasa iri yang muncul begitu saja, dialah suami Anne, namun kini dia malah terpinggirkan seperti penumpang cadangan.

Sial.

Kenapa juga aku duduk di belakang seperti ini? Seharusnya aku di samping Anne. Seharusnya aku yang mengemudi, bukan dia. Dia itu bajingan, bukan pahlawan. pikir Gara penuh kesal.

Tak kuat menahan gejolak di dadanya, Gara akhirnya bersuara, suaranya dibuat semanis mungkin meski terdengar jengkel.

"Sayang... kamu harusnya duduk di belakang sama aku. Jangan di samping si bajingan Rey ini."

Anne yang sejak tadi menahan segala macam tekanan, langsung menoleh dengan ekspresi sebal. Matanya tajam menatap ke arah Gara lewat spion dalam. Suaranya rendah tapi sarat ancaman.

"Please... jangan mulai drama sekarang, Gara. Aku lagi tegang. Putriku dalam bahaya dan kamu malah bertingkah kayak bocah lima tahun. Diamlah... sebelum aku benar-benar menghajar mulutmu."

Gara menciut. Bahunya turun, dan ia segera melipat kedua tangannya, menahan diri untuk tidak membalas. Ia tahu betul, Anne tidak sedang main-main.

Rey hanya melirik sebentar lewat ujung matanya. Sebuah senyum sinis terbit di wajahnya yang keras. Bukan karena senang, tapi lebih karena geli melihat betapa mudahnya hubungan pasangan itu goyah dalam situasi genting seperti ini.

"Dari mana kamu memulung... banci seperti dia?" celetuk Rey datar, tapi tajam menusuk.

Anne memutar kepalanya cepat, menatap Rey dengan amarah yang nyaris meledak.

"Kamu juga diam. Aku gak butuh pendapatmu. Kamu cukup menyetir, Rey. Lakukan apa yang kamu janjikan. Liane menunggu. Kalau kita terlambat beberapa detik saja, mungkin semuanya sudah hancur."

Nada bicaranya tegas, penuh tekanan emosional, dan Rey menangkap dengan baik maksudnya. Ia tidak membalas. Rahangnya mengeras, dan kecepatan mobil sedikit bertambah. Di bawah permukaan tenangnya, Rey juga tegang. Ia hanya tidak menunjukkannya sejelas Anne.

Di belakang, Gara kembali bersandar, menatap keluar jendela dengan tatapan kosong. Ia merasa kecil, kalah, tak berarti. Malam itu, bukan hanya tentang mengejar waktu untuk menyelamatkan Liane, tapi juga tentang mempertaruhkan peran-siapa yang benar-benar melindungi, siapa yang layak disandarkan.

Mesin mobil meraung, jalanan mulai tampak semakin sempit, dan suasana dalam mobil berubah sunyi. Tidak ada yang bicara. Hanya suara angin malam yang mendesir lewat celah jendela, dan bunyi jam digital di dashboard yang berdetak menuju kemungkinan yang tidak ingin mereka bayangkan.

I FOUND YOU BABY!  [ENDING]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang