15

72 3 0
                                        

Erlanda baru saja sampai ke depan rumah Giska, mereka saling turun dari mobil. Erlanda masih memikirkan yang dikatakan oleh Hani tadi.

"Rencana kita sekarang gimana?" tanya Linda menambah beban pikiran Erlanda yang makin rumit.

"Laporan dulu ke Rana. Palingan nunggu dia balik dari Bandung." ujar Erlanda.

"Yang terjadi sama mereka, bener bener diluar nalar gak sih.... Hampir enggak masuk di akal, jaman sekarang mennn, masuk teleportasi ke masa lalu pake cermin, kalo gak disangka orang gila... Ya orang aring..." ujar Linda.

"Gimanapun juga kita harus percaya, karena dia beneran Rana yang kita kenal di masa lalu..."

"Tapi sepintas ada perasaan kayak enggak percaya..." kata Linda.

"Masih aja lo enggak percaya.... Yaudah datengin aja Rana yang dirumah sakit.... Kalo perlu ajak wartawan supaya denger kejelasan dari dia." ujar Erlanda.

"Lo mau gak temenin?"

"Pergi lo sendiri ke singapura, jangan nyasar ke singaparna."

"Setdah bukannya temenin!"

Rika menarik baju Linda dan berkata. "Mbak, tentang rahasiaku, jangan kasih tahu mbak Giska ya." ujar Rika.

"Iya tenang aja... Kita enggak akan kasih tahu Giska sekarang sekarang ini.... Tapi kalo boleh tahu, mbak mau tanya sesuatu ke kamu." ujar Linda.

"Tanya apa?" tanya Rika.

"Ibu kandung kamu sebetulnya Giska atau orang lain?" tanya Linda. Rika terdiam, ia tak menjawab pertanyaannya dan hanya melihat ke arah sepatunya. Bahkan ia cenderung ketakutan dan bingung ingin menjawab seperti apa. Riko angkat suara untuk memberi pembelaan kecil.

"Rika enggak tahu apa apa... Yang tahu semuanya om sakit..."

"Om sakit? Maksudnya?" tanya Linda balik.

"Mungkin Rana yang lagi sakit maksudnya.. Yang dirawat di Singapura.."

"Tuh kan, emang kita tuh harus temuin dia kesana... Ayolah Lan, ini buat mastiin aja... Sebetulnya bener gak sih ini semua... Ya masa iya Giska yang ngelahirin, malah dia yang enggak tahu..."

"Ini konsekuensi dia Lin! Konsekuensi Rana yang udah mengubah sesuatu di masa lalu.... Makanya Giska hilang ingatan!" tandas Erlanda membungkam Linda saat itu juga.

"Kalo lo masih enggak percaya sama Rana, oke gue bakal anter lo ke sana.... Dengan catatan.... Jangan tanpa ketahuan Rana..."

Linda tersentak. Ia terdiam cukup lama.
Di Singapura.

Sebuah rumah sakit dengan bangunan yang megah, Rana akhirnya membuka kedua matanya setelah tertidur cukup lama dikasurnya.

Ia cukup dibangunkan dengan suara ventilator jantung disebelahnya. Bibirnya pucat, ia berselang oksigen dihidung serta infusan melilit di tangan kirinya.

Ia angkat tangannya sejenak ke atas kepalanya, seolah ingin menjangkau sesuatu, cahaya lampu yang menyinari.
Sebuah pintasan ingatan melayang di kabut pikirannya.

Air matanya keluar secara tiba tiba. Mengalir setetes demi tetes, melintasi pipinya.

Seorang suster datang menghampirinya dengan membawa sebuah troli obat obatan maupun alat suntikan. Ia cukup kaget dengan sadarnya Rana saat itu. Cukup senang, tersenyum padanya.

"Thank godness you are awake now.... Is there anything makes you cry, mister?" tanya suster bernama Monica itu seraya memeriksa suhu badan Rana mulai dari ketiaknya. "Dont cry, be happy... Smile..." ujar Monica tersenyum.

Suami Dari Masa LaluTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang