"Laperrr..."
"Ehh??? Lap... Siapa, kamu?" tanya Rana bingung. Giska mengangguk. Rana tersenyum.
"Yaudah saya minta ke suster dulu ya makanannya. Lupa kalau kamu juga butuh makan..." ujar Rana langsung ngeloyor pergi. Giska melihat kembali ke ponselnya dan terkejut saat Rhena membalas chatnya "Ihhh bukannya dari tadi balesnya! Aaaaa..."
Giska melihat isi balasan chatnya. "Lo udah bangun Gis? Eh ini chat kapan sih? Masa iya lo udah sadar ya.... Eh Giska gue cuma mau ngasih tahu, cowok yang tadi nemuin lo itu, pacar lo bukan sih? Kok dia bilang lo calon istrinya? Apa jangan jangan dia yang lo ceritain waktu itu?" chat Rhena langsung diketik balasan oleh Giska.
"Iyaaa!! Itu dia!!!"
Rhena membalas lagi.
"Hah beneran? Ini gue enggak mimpi kan.... Pak Rana Edelmar yang suka nongol di tipi itu?? Kok bisaaaa? Dia bukannya lagi sakit?? Maksud lo dia ada dua orang gitu???"
Giska merasa sedikit gemas dengan temannya itu. Meski gemasnya ditunda dulu saat melihat Rana sudah muncul membawa troli makanannya.
"Kamu menghubungi saya sejak tadi atau baru? Udah tunggu lama jangan jangan?" tanya Rana seraya menaruh tempat makan stainles itu keatas mejanya serta gelas air putihnya.
"Enggak lama sih, baru..." ujar Giska.
"Kirain udah dari tadi, takutnya kelamaan nunggu...." ujar Rana.
"Kamu sendiri kenapa jam segini belum tidur?" tanya Giska.
"Saya mikirin perkataan Ilham tadi..." ujar Rana. Giska heran.
"Ilham? Dia ngomong apa ke bapak? Emangnya bapak udah enggak marahan lagi sama dia? Kan kata dia kamu tadi nyuekin dia..."
"E-eh enggak... "
Suasana hening setelahnya, tak saling bicara. Canggung.
"Maaf ya..." ujar Giska tiba tiba, Rana bertanya. "Soal apa?"
"Suka bikin kesal..."
"O-oh... Iya..."
Rana yang sudah memegang kembali tempat makanannya lantas berkata. "Mau disuapin apa makan sendiri?"
"Makan sendiri..." ujar Giska.
"Yakin?"
"Iyaaaa..."
Giska segera mengambil tempat makan itu dan segera buka plastik yang melingkupinya, segera dirinya suap makanannya.
Disela itu, Rana seakan sedang mencari sesuatu, ia terus googling. Ia pilah pilih mana yang menurutnya bagus, tapi nyatanya ia tidak menemukan. Ia tiba tiba berkata pada Giska. "Kamu suka bunga?"
"Heh??" tanya Giska dengan mulut penuh makanan. "Buat dimakan?" tambahnya.
"Ah enggak, teruskan aja makannya... Nanti saya ajak ngomong lagi..." ujar Rana kembali fokus ke hapenya. Giska merasa heran dengannya, ia cukup mengabaikan hal itu.
Beberapa saat setelah makan usai, Rana segera memberikan segelas air minumnya pada Giska.
Tangan dan kaki Giska penuh perban, dililit disana sini. Tiba tiba Giska berkata.
"Bapak belum tidur kan dari tadi siang? Kenapa sekarang enggak tidur?" tanya Giska.
"Sebetulnya sudah mau tidur, tapi ada saja yang saya pikirkan."
"Pak, saya mau tanya sesuatu, boleh?" tanya Giska.
"Boleh."
"Kapan saya bisa mengenal bapak di masa ini?"
KAMU SEDANG MEMBACA
Suami Dari Masa Lalu
Cerpen"Saya ingin melamar kamu." "Apa saya salah dengar?" "Dasar penguntit! Saya yakin kamu bagian dari orang orang itu!!" "Kamu tidak pernah berubah." "Dari tadi kamu nungguin disini??!" "Suatu saat kamu akan mengerti, alasan kenapa saya melakukan ini...
