2 | Semakin Terasa Jelas

1.2K 98 23
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Siomay melompat dari kursi belakang dan langsung naik ke pangkuan Iqbal. Iqbal segera mendekap dan membelainya dengan lembut, karena dirinya sedang ingin merasakan ketenangan. Kucing cantik itu seakan tahu apa yang Iqbal butuhkan, sehingga mendadak datang tanpa perlu dipanggil lebih dulu.

"Sebentar lagi kita akan sampai. Titik maps yang dikirim oleh Pak Hasbi menunjukkan, bahwa lokasi Desa Ciasem Tengah sudah tidak jauh lagi dari posisi kita saat ini," ujar Ruby, seraya mengulurkan i-Padnya kepada Karel.

Karel melirik sekilas, lalu berbelok tak lama kemudian saat melihat tanda di maps pada i-Pad milik Ruby. Mobil milik Revan terus mengikuti di belakang. Mereka sama sekali tidak pernah terpisah sejak keluar dari area kantor siang tadi.

"Wah ... masih banyak pepohonan, ya, di sekitaran sini," ujar Reva.

"Malah di bagian sebelah sana tampaknya ada lokasi yang masih berupa hutan, Va. Coba lihatlah itu," tunjuk Samsul.

"Van. Delapan meter ke depan segeralah berhenti," ujar Karel, memberi aba-aba.

"Oke, Rel. Mobilku akan berhenti tepat di belakang mobilmu," balas Revan.

Setibanya di Desa Ciasem Tengah, Kota Subang, mereka langsung disambut oleh Hasbi--anggota kepolisian yang menghubungi Ruby. Keadaan desa itu tampak tidak baik-baik saja. Beberapa warga yang berlalu-lalang seakan ingin sekali mencoba mendekat saat melihat kedatangan orang yang tidak pernah mereka lihat sebelumnya. Sayangnya, mereka tidak berani melakukan hal itu. Hasbi sengaja langsung menyambut mereka, agar Ruby dan seluruh anggota timnya tidak perlu mendengarkan hal-hal yang menyesatkan.

"Assalamu'alaikum, Pak Hasbi," sapa Ruby, seraya berjabat tangan.

"Wa'alaikumsalam. Selamat datang di Desa Ciasem Tengah, Mbak Ruby," balas Hasbi, sopan.

"Terima kasih, Pak. Oh ya, perkenalkan, ini adalah keenam anggota tim yang saya pimpin. Tiga di antara mereka adalah orang-orang yang memiliki kelebihan untuk melihat hal-hal gaib serta menghadapinya. Namanya adalah Karel, Nadin, dan Samsul," ujar Ruby, mulai memperkenalkan.

Hasbi menjabat tangan mereka satu-persatu. Ruby pun segera beralih pada yang lain, setelah Hasbi selesai berkenalan dengan Karel, Nadin, dan Samsul.

"Dan yang tiga orang lagi adalah orang-orang yang sering melakukan tugas khusus. Misal, meruqyah korban jika memang ada korban. Menghadapi pengirim teror, jika ada yang diteror. Serta menghancurkan tempat-tempat ritual ilmu hitam apabila ditemukan lokasinya. Yang ini bernama Revan, Reva, dan satu lagi bernama Iqbal."

Ruby pun terus berbincang dengan Hasbi didampingi oleh Reva. Revan mendekat pada Karel, saat menyadari bahwa pria itu kini sedang menatap ke seluruh area sekitar bersama Samsul dan Nadin. Ia ingin tahu hasil pengamatan awal mereka, karena nantinya ia harus bisa mewaspadai keadaan sekitar ketika memulai pekerjaan.

"Apakah ada yang kalian bertiga lihat atau rasakan?" tanya Revan, berbisik.

"Aku jelas merasakan energi negatif, Van. Tapi masalahnya, aku sama sekali tidak menemukan sumber yang tepat dari energi negatif itu," jawab Nadin, ikut berbisik.

"Intinya belum ada yang kami lihat saat ini, Van. Mungkin nanti setelah kita memeriksa lebih jauh, barulah pelan-pelan kita akan ...."

"Hei," potong Iqbal, mendadak.

Tatapan mereka pun kini terarah pada pemuda itu.

"Perasaanku semakin enggak enak. Sulit untuk kujabarkan, tapi ... ini benar-benar terasa enggak nyaman bagiku," jelasnya.

Samsul segera merangkul Iqbal. Ia tahu kalau Iqbal sedang tidak bermain-main, soal perasaan tidak enak yang dirasakannya sejak mereka keluar dari kantor. Iqbal tidak pernah mencoba melucu tentang sesuatu yang bisa membuat cemas orang lain. Iqbal selalu jujur dengan setiap keadaan yang dilewatinya. Sehingga kini mereka mulai mewaspadai apa pun yang akan terjadi, sebelum memulai pekerjaan.

"Minum dulu, My Prince. Jangan lupa baca bismillah," ujar Nadin, seraya menyerahkan sebotol air mineral ke tangan Iqbal.

Iqbal menerima botol tersebut, lalu meminumnya setelah membaca basmalah. Reva dan Ruby mendekat kepada mereka, setelah selesai bicara dengan Hasbi. Ada sesuatu yang terjadi pada Iqbal dan keduanya langsung memahami hal itu tanpa perlu bertanya.

"Perasaan kamu mulai enggak enak lagi, Bal?" duga Ruby.

Iqbal pun mengangguk. Reva kini melayangkan tatapnya ke area sekitar mereka, sebelum akhirnya berhenti pada beberapa deret bangunan yang memiliki model sama persis. Ia tahu kalau itu adalah kandang ayam para peternak yang ada di Desa Ciasem Tengah. Kandang-kandang ayam keberadaannya sangatlah dekat dengan keberadaan mereka, sehingga pastinya akan sangat terasa berbeda apabila di sana pernah terjadi peristiwa gaib.

"Nad, apakah kamu merasakan energi negatif?" tanya Reva.

"Ya. Aku merasakannya sejak tadi, Va. Tapi aku tidak menemukan di mana sumber pasti dari energi negatif itu. Ada apa? Apakah kamu mencurigai sesuatu?" Nadin balik bertanya.

Reva pun menunjuk ke arah beberapa bangunan yang sejak tadi diamatinya. Nadin dan yang lainnya pun ikut menatap ke arah yang Reva tunjukkan.

"Kandang ayam. Keberadaannya adalah yang paling dekat dengan posisi kita saat ini. Jadi ... kemungkinan besar energi negatif yang kamu rasakan sejak tadi itu berasal dari sana. Karena di sana mungkin saja pernah terjadi peristiwa gaib, sehingga ayam-ayam para peternak menghilang secara misterius," jawab Reva.

"Ya, kemungkinan yang Reva sebutkan jelas ada benarnya. Tampaknya kita memang harus segera memeriksa kandang-kandang ayam tersebut secara langsung, agar bisa mencari tahu apa yang terjadi," tanggap Revan.

Ruby kini kembali menatap ke arah seluruh anggota timnya. Ia teringat yang harus disampaikan kepada mereka, terkait dengan kasus yang akan mereka tangani.

"Uhm ... karena kebetulan Pak Hasbi akan memperlihatkan pada kita soal rekaman CCTV yang dipasang oleh para peternak di kandang ayam mereka masing-masing, maka sebaiknya kita kali ini membagi tiga kelompok. Aku, Samsul, dan Iqbal akan memeriksa kandang ayam. Reva dan Revan pergi bersama Pak Hasbi ke rumah Pak RT yang akan bekerja sama dengan kita hari ini. Sisanya, Karel dan Nadin yang akan pergi ke hutan di dekat desa ini untuk memeriksa tempat pembantaian ayam yang ditemukan oleh warga. Bagaimana? Apakah ada yang keberatan dengan pembagian kelompok barusan?" tanya Ruby.

Semua saling menatap satu sama lain, ketika Ruby mengajukan pertanyaan itu.

"Sebaiknya kamu saja yang pergi bersama Reva, By. Biar Revan yang memeriksa kandang ayam bersamaku dan Iqbal. Kamu ketua tim ini. Jadi kamu harus selalu ada di tengah-tengah orang yang akan memberi informasi kepada kita," saran Samsul.

"Ya. Aku setuju. Aku akan memeriksa kandang ayam bersama Samsul dan Iqbal. Pergilah bersama Reva, lalu kabari kami soal rekaman CCTV yang kalian lihat," Revan ikut dengan saran dari Samsul.

"Kalau begitu, mari segera memisahkan diri. Tolong jangan ada yang matikan sambungan telepon. Earbuds masing-masing harus tetap aktif agar memudahkan komunikasi kita," pinta Karel.

"Siap, Rel!" tanggap Iqbal, mewakili yang lainnya.

* * *

KUNTILANAKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang