17 | Bertemu Pemilik Pohon Cengkih

1.1K 93 40
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Mendengar hal itu, semua orang kini kembali mempersiapkan diri untuk menghadapi segala macam kemungkinan.

"Apakah pinggiran hutan desa sebelah itu dekat dengan area pohon cengkih yang ditanam oleh salah satu warga di sana, Pak Rijad?" tanya Karel.

"Iya, benar sekali. Area pinggiran hutan yang akan kita datangi sangat dekat dengan area pohon-pohon cengkih milik salah satu warga. Bahkan, rumah warga yang saya maksud pun dekat sekali keberadaannya dengan tempat pohon-pohon cengkih itu," jawab Rijad.

"Apabila kami bertanya-tanya pada orang tersebut, apakah kira-kira dia akan menjawab pertanyaan kami, Pak Rijad? Apakah kira-kira dia bisa diajak bekerja sama?" Samsul ingin tahu.

"Insya Allah, bisa. Setahu saya, Pak Harsa itu orang yang terbuka pada siapa saja. Jika ada yang meminta bantuan atau sekedar bertanya padanya, sudah pasti dia akan mencoba untuk andil agar permasalahan bisa cepat selesai."

Mereka akhirnya tiba di pinggiran hutan desa sebelah sekitar dua puluh menit kemudian. Rijad langsung mengarahkan mereka ke tempat beradanya pohon-pohon cengkih yang sejak tadi mereka bicarakan. Keberadaan pohon-pohon cengkih itu benar-benar tidak jauh dari jalur yang tadi mereka ambil. Kebetulan, ternyata malam itu masih ada beberapa orang yang sedang bekerja di sana. Mereka sedang mengarungi cengkih-cengkih yang masih basah, karena besok pagi akan segera diambil oleh tengkulak.

"Assalamu'alaikum, Pak Harsa," sapa Rijad, saat melihat keberadaan Harsa di antara para pekerjanya.

"Eh, wa'alaikumsalam, Pak Rijad," balas Harsa, seraya mendekat dan menjabat tangan Rijad.

Harsa tampak menatap ke arah Hasbi, Karel, Samsul dan yang lainnya. Ia sedikit bingung, karena mendadak ada yang datang saat hari sudah malam.

"Tumben sekali malam-malam datang ke desa ini, Pak Rijad? Ada apa? Apakah sedang ada masalah?" tanya Harsa.

"Iya, Pak Harsa. Sedang ada masalah di desa saya saat ini," jawab Rijad, apa adanya.

Harsa pun memilih untuk mendengarkan. Ia mulai tertarik dan penasaran dengan jawaban yang baru saja Rijad berikan.

"Pak Harsa pasti sudah dengar soal adanya kehilangan ayam-ayam dari kandang para peternak sejak dua hari lalu. Dan fakta yang akhirnya didapatkan dari hasil penelusuran, ternyata ayam-ayam yang hilang itu karena diambil oleh kuntilanak dan dibantai di pinggiran hutan desa saya."

"Hah? Naon, Pak Rijad? Kuntilanak?" kaget Harsa.

Beberapa pekerja yang masih mengarungi cengkih langsung berhenti sesaat, setelah mendengar kabar tersebut.

"Muhun, Pak. Itulah faktanya. Bahkan saya sendiri sudah melihat wujud kuntilanak itu, sekaligus ikut mengejarnya saat tadi kuntilanaknya hampir beraksi lagi di kandang ayam para peternak."

Semua pekerja yang mendengarkan mulai berbisik-bisik satu sama lain. Iqbal dan Samsul melihat hal itu. Kedua pemuda itu tahu bahwa ada beberapa orang yang mencurigai sesuatu, jika mulai ada yang berbisik-bisik seperti itu di tengah banyak orang.

"Orang-orang yang diundang oleh Pak Polisi ini adalah orang-orang yang bisa menangani perkara makhluk halus. Tiga di antaranya bisa melihat makhluk halus saat orang lain tidak bisa melihatnya. Tapi kuntilanak yang tadi kami kejar, justru dengan sengaja menampakkan wujudnya untuk memberi rasa takut pada orang-orang yang hendak menghalanginya mengambil ayam di kandang para peternak," jelas Rijad.

Karel dan Reva mendekat. Keduanya berdiri di kedua sisi Rijad yang saat itu masih berbicara dengan Harsa.

"Dan kami meminta dibawa ke sini pada Pak Rijad. Karena saat kami sedang memeriksa kubangan tempat kuntilanak itu membantai ayam para peternak, kami menemukan ada banyak cengkih basah seperti ini pada salah satu bagiannya," ujar Ruby, seraya memperlihatkan plastik berisi cengkih yang tadi Reva temukan.

Harsa menerima plastik tersebut dan mengamatinya. Ia tahu persis bahwa itu memang cengkih segar yang sama sekali belum pernah dikeringkan. Hal itu membuatnya merasa bingung, karena tahu bahwa tidak mungkin ada banyak cengkih di wilayah pinggiran hutan Desa Ciasem Tengah sementara satu pohon cengkih pun tidak ada di sana.

"Ini mah sudah jelas asalnya dari sini, Pak Rijad. Enggak mungkin dari tempat lain. Tapi masalahnya, di area tempat saya menanam pohon cengkih ini enggak pernah ada kuntilanak. Kami bahkan biasa mengarungi cengkih-cengkih basah sampai tengah malam. Tapi sama sekali enggak pernah diganggu dengan kemunculan-kemunculan makhluk halus, terutama kuntilanak," ujar Harsa.

"Kecuali di desa, Juragan," sahut salah satu pekerja.

Harsa, Rijad, dan yang lainnya kini menatap ke arah pekerja yang baru saja buka mulut tersebut.

"Gimana, Mang Uuy? Bisa diulang?" pinta Harsa.

"Kalau bisa, ceritakan saja lebih jelas, Pak. Biar orang-orang yang menangani makhluk halus ini bisa segera mengambil tindakan," pinta Hasbi.

Uuy pun mendekat bersama salah satu rekan kerjanya yang bernama Bana. Kedua pria paruh baya itu tampaknya siap mengatakan yang mereka tahu dan berkaitan dengan kuntilanak.

"Juragan tahu Ceu Desi, 'kan?" tanya Uuy.

"Iya, saya tahu. Ceu Desi yang biasa ikut jemur cengkih sama Istri saya di lahan samping rumah, 'kan?" jawab Harsa.

"Muhun, Juragan. Ceu Desi yang itu. Dia teh bukan tanpa alasan ambil jam kerja dari pagi dan cuma bisa sampai jam empat sore. Dia sengaja ambil jam kerja hanya segitu, karena kalau pulang dia harus segera menyiapkan sesajen di belakang rumahnya. Kayaknya teh, sesajen yang dia siapkan enggak boleh terlambat disimpan di belakang rumahnya," jelas Uuy.

"Dan kalau waktu maghrib sudah dekat, pas langit sudah mulai gelap, ada kuntilanak yang selalu datang ke belakang rumahnya. Kuntilanak itu sering ketawa kalau datang, tapi suaranya samar sama suara tonggeret dari arah hutan. Jadi weh, enggak ada warga sekitar yang sadar kalau di sana sering ada kuntilanak," tambah Bana.

"Atuh kalau enggak ada warga yang sadar ada kuntilanak di belakang rumahnya Ceu Desi, kenapa Mang Uuy sama Mang Bana bisa tahu?" tanya Harsa, masih agak bingung dengan cerita yang didengarnya.

"Itu gara-gara saya dan Mang Uuy terlambat pulang ke rumah waktu maghrib, Pak Harsa. Kami akhirnya ambil jalan paling cepat menuju rumah, yaitu lewat jalan dekat rumahnya Ceu Desi yang jauh dari rumah-rumah lain. Waktu kita lewat di situ, pas banget lihat Ceu Desi baru selesai menyimpan sesajen di belakang rumahnya. Enggak lama, datang itu kuntilanak sambil ketawa meni nyaring," jawab Bana.

"Astaghfirullah," lirih Harsa. "Itu teh cerita benar, 'kan? Mang Uuy dan Mang Bana mau enggak, ikut antar orang-orang ini ke rumah Ceu Desi?"

"Mau atuh, Juragan. Karena sebenarnya kami juga resah kalau ada orang yang pelihara kuntilanak di desa ini. Seram," jawab Uuy.

"Lagi pula, kami teh enggak mau kalau nanti kuntilanak yang datang ke rumah Ceu Desi bukan hanya satu. Takutnya nambah dan jadi banyak," tambah Bana.

* * *

SAMPAI JUMPA BESOK 🥰

KUNTILANAKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang