- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
REVAN
Hai juga, Zya. Kasus yang kami tangani kali ini terjadi di Kota Subang. Kami kali ini enggak pergi terlalu jauh dari Jakarta. Uhm ... saat ini aku dan tim masih mencoba mencari cara untuk menghadapi kuntilanak yang mengambil dan membantai ayam-ayam para peternak di desa ini. Satu-satunya yang ditakuti oleh kuntilanak itu saat ini hanyalah Iqbal. Iqbal adalah yang paling sering dihindari, ketika mencoba mendekat untuk memberi serangan. Iqbal akan langsung mengomel, kalau kuntilanak yang dikejarnya mendadak hilang akibat memilih melarikan diri. Menurut Karel, Iqbal memang ditakuti oleh beberapa jenis makhluk halus akibat Tante Rere pernah terkena teluh kain kafan saat sedang mengandung. Sehingga kini Iqbal benar-benar dihindari oleh kuntilanak yang terus saja melancarkan aksinya di desa ini.
REVAN
Main-mainlah bersama Bakpau sementara waktu. Nanti aku juga akan belikan kamu kucing, apabila kamu merasa tidak enak pada Ai karena terus menyandera Bakpau. Kamu mau kucing warna apa? Jantan atau betina?
REVAN
Nanti aku kabari lagi. Aku akan kembali berdiskusi bersama yang lain, untuk mengambil langkah selanjutnya dalam pekerjaan kali ini. Jangan terlambat tidur. Segeralah tidur setelah shalat isya. Istirahatmu harus cukup, agar kamu tidak kekurangan energi saat bangun besok pagi. Jangan lupa berdoa sebelum tidur dan tepuk bantalmu tiga kali sambil membaca ayat kursi. Insya Allah tidurmu akan nyenyak jika kamu melakukannya.
Zyana membaca pesan itu di kamarnya seraya tersenyum tanpa sadar. Bakpau ada dalam dekapannya. Kucing betina berwarna orange-putih itu sangat tenang sejak tadi, meski belum kembali ke pelukan Ailin setelah waktu makan malam selesai. Apa yang Olivia sarankan padanya untuk mencoba memikirkan Revan sama sekali tidak salah. Perasaan Zyana berubah menjadi jauh lebih tenang, saat terus menerima kabar dari pemuda itu sejak beberapa jam lalu.
Ia tidak pernah membayangkan hal itu sebelumnya. Karena ia merasa tahu diri dan tahu posisi soal statusnya yang tidak sama dengan wanita lain di sekitar Revan selama ini. Revan memang tidak pernah dekat atau memiliki perasaan dengan wanita mana pun sejak ia pertama kali mengenalnya setahun lalu. Namun tentu saja hal itu tidak menutup kemungkinan, bahwa Revan seharusnya bisa memilih seorang wanita yang belum pernah menikah. Ia benar-benar tidak menyangka kalau Revan justru akan mengutarakan keinginan untuk mendekatkan diri dengannya yang notabene adalah seorang janda. Fakta itu adalah satu-satunya yang tidak bisa membuat Zyana membuka jalan untuk Revan dengan mudah, karena takut kalau kedua orangtua pemuda itu akan kecewa dengan wanita yang dipilih oleh putra mereka.
Senyum di wajah Zyana masih terukir, meski kini harus diiringi dengan setetes airmata yang mulai mengalir pelan di wajahnya.
"Andai aku mengenalnya saat belum memiliki masa lalu yang buruk, mungkin aku akan menerimanya tanpa perlu banyak pertimbangan. Andai aku mengenalnya saat masih berstatus gadis, bukan janda seperti saat ini, mungkin aku akan membuka jalan selebar-lebarnya agar dia bisa melangkah ke arahku. Tapi sekarang ... di tengah statusku yang seperti ini, mana mungkin aku membukakan jalan untuknya seakan tidak pernah terjadi apa-apa? Dia punya masa depan, Ya Allah. Dia punya orang-orang terdekat yang berharap lebih atas setiap keputusan yang diambilnya. Jadi bukankah tidak mungkin bagiku jika harus memberinya kesempatan? Aku merasa tidak pantas, Ya Allah. Aku merasa tidak pantas," batin Zyana, kembali merasa takut untuk memiliki harapan.
Reva berjalan di sisi Revan, saat akhirnya mereka meninggalkan kubangan yang telah selesai diperiksa. Semuanya sedang berjalan menyusuri satu jalur di hutan itu, agar bisa segera sampai ke desa sebelah. Keadaan hutan sangat gelap. Bahkan cahaya rembulan yang sedang bersinar cukup terang di langit sama sekali tidak bisa memberikan cahaya secara alami, saat sudah berada di dalam hutan tersebut. Untung saja beberapa dari mereka membawa senter yang memiliki pencahayaan cukup luas, sehingga mereka kini hanya perlu fokus pada jalur kecil yang sedang dilewati.
"Ada balasan dari Zya?" tanya Reva, berbisik.
Revan meliriknya sekilas, lalu kembali fokus menatap jalanan yang sedang ia pijak.
"Belum. Mungkin dia masih makan malam saat ini. Tidak enak tentunya, kalau dia harus membuka ponsel ketika ada orangtua di hadapannya dan sedang makan," jawab Revan, ikut berbisik.
"Kamu serius, soal perasaanmu terhadap Zya?" Reva ingin tahu.
"Ya. Insya Allah aku sangat serius mengenai perasaanku pada Zya dan aku benar-benar ingin meminangnya, apabila dia memberikan aku kesempatan."
"Sudah bicara pada Mamak mengenai niatanmu terhadap Zya?"
"Kenapa kamu cuma tanya apakah aku sudah bicara pada Mamak? Kamu tidak berharap aku bicara pada Bapak?" heran Revan.
"Mamak yang nomor satu harus kamu ajak bicara mengenai hal itu, Van. Kalau dengan Bapak urusannya bisa belakangan. Bapak pasti akan memberikan restunya padamu dengan mudah, tidak peduli siapa pun wanita yang kamu pilih untuk menjadi pendamping hidup. Bapak akan selalu percaya padamu dan juga pilihanmu. Tapi lain halnya dengan Mamak. Mamak akan sangat kecewa apabila kamu tidak bicara dengannya, lalu tiba-tiba mendadak ingin meminang seseorang," jelas Reva.
Revan mendengarkan sambil terus berjalan mengikuti langkah yang lainnya. Ia sama sekali tidak berusaha menghentikan Reva bicara, karena sadar bahwa dirinya memang sedang membutuhkan masukan dari seseorang saat itu.
"Kamu anak laki-laki dan kamu adalah yang paling Mamak andalkan dalam keluarga kita. Jadi akan lebih baik, apabila kamu bicara lebih dulu pada Mamak soal perasaanmu terhadap Zya. Aku yakin, Mamak juga akan memberimu restu seperti Bapak memberimu restu. Zya itu wanita baik-baik dan berasal dari keluarga yang baik. Tapi akan lebih bagus bagimu, kalau Mamak diberi andil untuk mengenal Zya lebih daripada Mamak mengenalnya selama setahun belakangan. Beda, loh, mencoba mengenal seseorang seperti biasa dengan mencoba mengenal seseorang saat akan menjadi menantu. Tante Santi selalu begitu saat aku, Oliv, dan Ruby datang ke rumahnya. Tante Santi selalu memperlihatkan rasa senang dan bahagia ketika bisa berbicara lebih dalam dengan kami, para calon menantunya. Jadi aku yakin, Mamak pun akan seperti itu apabila kamu biarkan ikut andil untuk mengenal Zya sebelum kamu meminangnya nanti."
Revan pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Pertanda bahwa ia kini memahami alur yang seharusnya ia ikuti soal perasaannya terhadap Zyana. Reva benar, Ibu mereka pasti akan merasa senang jika dibiarkan turut andil untuk mengenal Zyana lebih dari sebelumnya.
"Oke. Aku akan mendengarkan kamu. Uhm ... menurutmu, kapan sebaiknya aku bicara pada Mamak soal perasaanku terhadap Zya?" tanya Revan.
"Lebih cepat akan lebih baik, sih, menurutku. Jangan sampai Mamak mendengar lebih dulu dari mulut orang lain daripada dari mulutmu. Mamak bisa kecewa kalau seperti itu yang terjadi," jawab Reva.
Revan pun segera mengeluarkan ponselnya dan mengetik pesan untuk Tari. Ia benar-benar tidak ingin menunda membicarakan soal perasannya. Karena ia yakin bahwa Zyana adalah wanita yang benar-benar ia tuju untuk menghabiskan hidup bersama.
"Kita baru sampai di tengah hutan. Sebentar lagi kita akan mencapai pinggiran hutan desa sebelah," ujar Rijad, memberi tahu semua orang.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
KUNTILANAK
Horor[COMPLETED] Seri Cerita SETAN Bagian 4 Perjalanan kali itu berbeda dari biasanya. Iqbal merasa ada yang begitu mengganjal dalam hatinya selama perjalanan berlangsung. Sejak mendengar soal permintaan tolong klien dari Ruby, sesuatu seakan langsung me...
