- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
SLASSHHH!!! SLASSHHH!!! SLASSHHH!!!
Iqbal terus menyerang ke arah kuntilanak bertaring yang ada di hadapannya. Karel dan Nadin juga ikut memberikan serangan, karena tahu bahwa tidak mungkin kalau Iqbal harus menyerang sendirian terus-menerus. Hanya saja, serangan dari mereka berdua selalu mendapat balasan dari kuntilanak bertaring itu, sehingga Karel dan Nadin menjadi sedikit kewalahan saat bertarung.
Mereka mundur selama beberapa saat, sementara kuntilanak bertaring itu kini sudah kembali terpojok di semak-semak. Kuntilanak itu masih terlihat beringas dan selalu menunjukkan taring-taringnya yang siap mencabik siapa pun lawan di hadapannya--kecuali Iqbal. Hanya Iqbal satu-satunya yang tidak akan dia serang untuk kedua kalinya malam itu. Kemungkinan, rasa sakit akibat serangan yang berbalik masih dirasakannya sampai sekarang.
"Kalau begini terus, tenaga kita akan terkuras dengan cepat, Rel," ujar Nadin.
"Ya. Kita bahkan tidak bisa meminta pertolongan Samsul. Karena Samsul harus menjaga Revan, Reva, dan Ruby di dalam rumah perempuan itu," tanggap Karel, sambil berusaha mengatur nafasnya.
"Kuntilanak kampret itu hanya tidak membalas serangan dariku. Rasa takutnya padaku jelas lebih besar dari nyalinya. Jadi, bagaimana kalau aku saja yang terus menyerang ke arahnya kali ini?" tawar Iqbal.
Karel dan Nadin saling menatap selama beberapa saat, usai mendengar tawaran tersebut. Mereka tahu kalau itu adalah tawaran yang menguntungkan. Namun sayang, Karel dan Nadin sudah cukup lelah malam itu akibat pertarungan yang tak ada habisnya.
"Kami paham apa tujuanmu, Bal. Kami juga tahu bahwa tawaranmu barusan adalah satu-satunya tawaran yang bisa membuat pertarungan ini akan ada akhirnya. Sayangnya, energi kami tidak lagi semaksimal tadi. Kami butuh sedikit jeda untuk bisa memberi kamu perlindungan seperti sebelumnya," jelas Karel.
"Kamu tidak mungkin mendekat pada kuntilanak itu tanpa dilindungi, My Prince. Kamu manusia biasa dan tetap akan terluka kalau sampai mendapat serangan tidak terduga," Nadin kembali mengingatkan.
Melihat Nadin dan Karel yang sudah kewalahan dan lelah, Iqbal jelas tak lagi memiliki pilihan. Meski kuntilanak itu sama sekali tidak bisa menyerangnya karena serangannya akan berbalik menyakiti dirinya sendiri, tetap saja permasalahan tidak akan selesai tanpa ada yang diakhiri. Jalan satu-satunya yang bisa Iqbal tempuh saat itu adalah dengan mendapat bantuan lain, selain dari bantuan Karel dan Nadin. Jika ada yang membantunya, Karel dan Nadin jelas akan memiliki waktu untuk memulihkan diri sebelum kembali bertarung bersamanya.
"Aku akan memanggil bantuan," ujar Iqbal.
"Ya. Cobalah panggil, Bal. Mungkin kali ini kita memang membutuhkan bantuan yang lain untuk menghadapi kuntilanak itu," Karel setuju.
"Panggil saja. Kami berdua harus memulihkan diri lebih dulu, agar bisa bertarung lagi," tambah Nadin.
Iqbal pun segera menenangkan dirinya. Ia melepaskan semua emosi yang ada di dalam dirinya, lalu mengembalikan perasaan tenang yang biasa ia gunakan untuk mengendalikan diri. Setelah merasa cukup tenang, ia menarik nafas lebih dalam dan mengembuskannya perlahan. Ketenangan itu membuatnya terlihat lebih santai, meski tahu kalau yang dihadapi belum ada ujungnya.
"NYAI MURTI!!! BANTU AKU!!!" panggil Iqbal, lantang.
Karel dan Nadin menatap tak percaya ke arah pemuda itu, setelah mereka mendengar siapa yang dipanggil olehnya. Mereka pikir Iqbal akan memanggil Samsul, Revan, atau yang lainnya. Mereka sama sekali tidak menduga, kalau Iqbal akan memilih memanggil kuntilanak lain agar ikut dalam pertarungan itu.
"Lah! Kok malah kamu panggil kuntilanak lain, sih, Bal?" ungkap Karel, tak bisa menahan diri.
"Duh ... pikiran kreatifmu, kok, harus kumat disaat seperti ini sih, My Prince?" keluh Nadin.
Sosok Nyai Murti akhirnya muncul tak lama kemudian. Meski kuntilanak satu itu sudah sangat akrab dengan Iqbal, nyatanya dia tetap saja memilih menjaga jarak karena tahu semengerikan apa diri asli Iqbal jika didekati. Karel dan Nadin bisa melihat, bahwa tatapan Nyai Murti saat ini langsung tertuju pada kuntilanak bertaring yang sedang terpojok di semak-semak. Tampaknya dia sudah tahu, kalau Iqbal benar-benar butuh dibantu untuk membuat kuntilanak bertaring itu berhenti membuat ulah.
"Menurutmu, bagaimana caranya Nyai Murti akan membantu Iqbal?" tanya Nadin.
"Belum kepikiran aku, Nad. Soalnya, belum pernah juga aku meminta bantuan makhluk halus dalam sebuah pertarungan," jawab Karel, apa adanya.
Iqbal berkacak pinggang, saat sadar bahwa Nyai Murti menjaga jarak darinya ketika muncul. Ia benar-benar ingin sekali mengikis jarak di antara mereka. Namun ia juga tahu, kalau pasti akan ada imbasnya bagi Nyai Murti jika berada terlalu dekat dengan dirinya.
"Bagaimana caranya kita bekerja sama, Nyai, meski jarak kita tetap sejauh dua benua terhalang samudera?" tanya Iqbal.
"Akan kuarahkan dari sini."
"Caranya, Nyai? Caranya gimana?" tanya Iqbal, sekali lagi.
Tubuh Iqbal mendadak melayang dari tempatnya berpijak.
"Oh ... wow! Bilang-bilang, dong, kalau mau mengangkat aku dari jauh. Aku 'kan bisa kagetan juga, Nyai," keluh Iqbal.
Nyai Murti mengangkatnya dari jauh, agar pemuda itu bisa menyerang ke arah kuntilanak bertaring yang akan dihadapi. Nadin kembali berdiri dan berlari mengikuti arah melayangnya tubuh Iqbal, lalu mengalirkan energinya yang tersisa kepada pemuda itu. Dengan sigap, Iqbal segera menebaskan celurit bulu ayamnya ke arah kuntilanak bertaring yang terpojok di semak-semak sebanyak tiga kali. Membuat kuntilanak itu memekik kesakitan akibat terkena serangan yang Iqbal layangkan.
"Curang!!! Kamu curang karena memanggil sekutu!!!"
Tubuh Iqbal kembali mendarat di tanah tak lama kemudian. Nadin kini kembali berdiri di sisinya seperti tadi.
"Lah, curang dari mana? Kamu saja bersekutu dengan manusia laknat yang ada di dalam rumah itu! Kenapa malah aku yang dituduh curang? Bilang saja kalau kamu iri, karena aku juga bisa minta bantuan kuntilanak lain yang lebih hebat daripada kamu! Aku malah enggak perlu tuh, ngasih-ngasih sesajen biar dibantu sama dia. Dia mau, loh, membantu aku secara sukarela meski tidak kukasih apa-apa selain tempat tinggal," balas Iqbal, setajam biasanya.
"SOMBONG!!! KAMU BENAR-BENAR MANUSIA SOMBONG YANG AKU BENCI!!!"
"Sama!!! Aku juga benci kuntilanak jelek kayak kamu!!!"
BLAMMMM!!!
Nyai Murti menyerang kuntilanak bertaring itu bersamaan dengan serangan yang Karel lancarkan. Kuntilanak bertaring itu akhirnya lenyap, setelah tak lagi bisa memberi perlawanan atas serangan terakhir yang datang ke arahnya.
"Alhamdulillah, Ya Allah! Alhamdulillah!" ungkap Nadin, merasa sangat lega.
Iqbal pun berbalik dan tersenyum ke arah Nyai Murti. Nyai Murti hanya menatapnya dengan datar seperti biasa, lalu menghilang dengan cepat karena tidak ingin mendengar Iqbal berterima kasih. Iqbal pun tertawa, karena tahu bahwa Nyai Murti lagi-lagi enggan mendengarnya berterima kasih.
"Aku akan berterima kasih di rumah, Nyai Murti. Tunggu aku pulang, ya!" serunya, jahil seperti biasa.
* * *
SAMPAI JUMPA BESOK 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
KUNTILANAK
Terror[COMPLETED] Seri Cerita SETAN Bagian 4 Perjalanan kali itu berbeda dari biasanya. Iqbal merasa ada yang begitu mengganjal dalam hatinya selama perjalanan berlangsung. Sejak mendengar soal permintaan tolong klien dari Ruby, sesuatu seakan langsung me...
