13 | Gagal Pertama Kalinya

1.1K 91 35
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Rijad baru saja selesai menggambarkan jalan-jalan kecil yang ada di hutan dekat desa, pada sebuah kertas. Kertas itu kini sedang diamati oleh ketujuh orang anggota tim yang ada di hadapannya. Hasbi menyalakan senter dan mengarahkannya ke atas kertas yang tengah diamati saat itu. Ia ingin semua orang bisa melihatnya dengan jelas, agar tak perlu ada yang tersasar di hutan ketika nanti mereka akan mencoba masuk ke sana.

"Jadi yang ada di bagian barat ini adalah tepi sungai, dan bagian-bagian tengah ini adalah jalur yang akan mempertemukan kami pada satu titik menuju ke desa sebelah? Benar begitu, Pak Rijad?" tanya Revan.

"Iya. Benar sekali. Jadi di dalam hutan itu memang ada beberapa jalur kecil yang biasa dipakai orang-orang desa sini maupun desa sebelah, untuk mencari kayu bakar ataupun untuk memancing di sungai. Jalur-jalur itu sebenarnya mudah ditemukan kalau hari masih siang. Hanya saat malam saja jalurnya jadi susah terlihat. Jadi kalau saya gambarkan di kertas seperti itu, kalian mungkin akan bisa menemukan jalurnya dengan mudah dan Insya Allah tidak akan tersesat," jawab Rijad.

Revan langsung memberi tanda pada yang lainnya untuk mengambil gambar kertas itu pada ponsel masing-masing. Mereka jelas harus memegang satu buah gambar, agar tidak perlu saling meminjam kertas ketika sudah berada di hutan. Hal itu akan mempermudah penjelajahan dan mengurangi risiko tersesat tanpa arah.

"Kalau boleh tahu, apa saja hambatan yang mungkin ada di hutan, Pak Rijad?" tanya Reva.

"Kalau hambatan, paling hanya perkara jalanan yang terhalang oleh akar-akar pohon besar, Neng. Kalau hambatan-hambatan lain, sebenarnya saya juga kurang tahu. Saya jarang pergi ke hutan, karena enggak sering memancing ataupun cari kayu bakar seperti beberapa warga di sini."

"Tidak apa-apa, Pak Rijad. Jawaban Bapak barusan sudah cukup bagi kami untuk menjadi acuan ketika akan mengeksplor hutan. Kami merasa sangat terbantu," ucap Karel.

Rijad maupun Hasbi jelas merasa lega, usai mendengarkan tanggapan Karel. Tanggapan pria itu jelas mewakili tanggapan anggota timnya yang lain, sehingga nanti mereka tidak perlu mengalami kesulitan saat memasuki hutan. Rijad dan Hasbi memang akan ikut bersama mereka malam itu. Namun keduanya belum tentu akan diizinkan untuk berada terlalu lama di sisi mereka. Terutama saat masih ada ancaman serangan kuntilanak yang bisa datang mendadak sewaktu-waktu.

"Oh ya, apakah masing-masing dari kalian memiliki senter?" tanya Hasbi. "Keadaan di hutan sangat gelap saat malam. Jadi senter dari ponsel saja tidak akan cukup untuk bisa membuat keadaan menjadi terang. Takutnya salah satu dari kalian kembali terperosok ke dalam lubang-lubang tak terlihat, seperti yang terjadi siang tadi pada Nak Karel dan Neng Nadin."

"Alhamdulillah, masing-masing dari kami membawa senter, Pak Hasbi. Bahkan, kami juga tidak lupa membawa baterai cadangan, apabila senter kami mendadak kekurangan daya," jawab Ruby, mewakili yang lainnya.

"Kami sudah persiapkan lebih awal hal-hal yang memang diperlukan, Pak. Insya Allah, kami kini hanya perlu mempersiapkan diri untuk menjelajah di hutan," tambah Nadin.

"Alhamdulillah, kalau begitu. Jika seandainya tidak ada yang membawa senter, tadinya saya akan ambilkan dulu beberapa buah senter milik saya yang tersedia di mobil."

Semua persiapan telah selesai dilakukan. Masing-masing anggota tim telah menggendong ransel mereka, pertanda bahwa mereka telah siap untuk menjelajah ke hutan malam itu. Mereka sudah memastikan gambar dari jalur-jalur dalam hutan yang Rijad berikan telah stand by pada ponsel masing-masing. Air minum dan makanan secukupnya juga telah tersedia pada bagian samping ransel.

"Apakah botol-botol air yang sudah didoakan ada di dalam ranselmu, Van?" tanya Karel, ingin memastikan.

"Ya, ada. Tapi sebagian juga ada pada ransel milik Reva dan Ruby, Rel. Aku sengaja menyimpannya di ransel mereka. Aku ingin anggota tim tidak perlu ada yang mengalami kesulitan, jika mendadak harus menghadapi sesuatu saat kita sedang berpencar," jawab Revan.

Baru saja mereka hendak berjalan bersama meninggalkan kandang-kandang ayam menuju ke arah hutan, langkah mereka mendadak terhenti saat melihat kedatangan kuntilanak yang melayang begitu cepat di atas kepala mereka.

"HI ... HI-HI-HI-HI-HI-HI-HI-HI-HI!!!"

Kuntilanak yang lewat itu terasa seakan baru saja berusaha menyambar sesuatu. Samsul dan Revan segera melindungi Rijad maupun Hasbi agar tetap aman. Sementara yang lainnya kini mulai bersiap untuk menghadapi kuntilanak, apabila terlihat hendak menyerang ke arah mereka.

"Menyebar!" perintah Karel.

Sayangnya, dugaan mereka ternyata salah setelah menyebar ke beberapa arah. Kuntilanak itu sama sekali tidak berusaha menyerang orang-orang yang ada di dekat kandang ayam. Kuntilanak itu justru langsung mendarat pada salah satu atap kandang ayam, karena kemungkinan tujuannya adalah kembali mengambil ayam-ayam para peternak untuk dibantai di hutan.

"TOK-TOK, PETOK! TOK-TOK-TOK, PETOK!!! TOK-TOK, PETOK! TOK-TOK-TOK, PETOK!!!"

Suara gaduh ayam-ayam yang merasakan kedatangan kuntilanak itu mulai terdengar. Kuntilanak itu hendak masuk ke dalam kandang ayam, namun kali itu gagal melakukan aksinya akibat langsung terlempar dari atap kandang yang sudah diruqyah. Kuntilanak itu seharusnya bisa menembus dinding kandang ayam lain setelah terlempar dari atap kandang sebelumnya. Namun karena semua kandang telah diruqyah, kuntilanak itu pun akhirnya terus saja terlempar dari satu dinding luar kandang ke dinding luar kandang lainnya.

"Dia gagal, guys! Kuntilanaknya gagal masuk!" seru Ruby.

Iqbal segera berlari mendekat ke arah kandang ayam. Tujuannya adalah ingin memberi serangan pada kuntilanak itu, apabila ia telah berada di dekatnya. Nadin terus berada di sampingnya. Gadis itu tidak berhenti mengeluarkan energinya untuk melindungi Iqbal, agar pemuda itu tetap aman dari serangan kuntilanak.

"Mau kualirkan energiku ke celuritmu, My Prince?" tawar Nadin, saat mereka sudah dekat dengan posisi kuntilanak yang masih terlempar-lempar itu.

"Ya. Tentu saja boleh, My Princess. Aku akan sangat menghargai usahamu jika seperti itu," jawab Iqbal, dengan wajah penuh senyuman.

Nadin benar-benar mengalirkan energinya pada celurit bulu ayam yang telah digenggam kuat oleh Iqbal. Iqbal segera mendekat pada kuntilanak itu usai merasakan energi yang mengalir pada celurit miliknya. Ia langsung memberi kuntilanak itu serangan yang sama sekali tak bisa dihindari.

SLAASSSHHHH!!!

Kuntilanak itu terlihat tersiksa, usai menerima serangan tak terduga dari Iqbal. Kuntilanak itu langsung kembali melarikan diri, seakan serangan dari Iqbal benar-benar telah membuatnya berhasil dilukai meski tak terlihat. Dia terbang begitu cepat menuju hutan dan ayam-ayam dalam kandang para peternak kembali tenang dalam sekejap.

"Ayo! Kejar kuntilanak itu ke hutan!" seru Samsul, mengarahkan yang lainnya untuk bergegas.

* * *

SAMPAI JUMPA BESOK 🥰

KUNTILANAKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang