- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Adzan maghrib akhirnya berkumandang. Semua orang segera keluar dari kandang ayam karena harus melaksanakan shalat. Iqbal menyimpan celurit bulu ayam miliknya pada bagian samping ransel. Nadin terus berjalan di sisinya. Gadis itu tahu bahwa Iqbal saat ini sedang memikirkan sebuah rencana, yang mungkin akan mereka laksanakan ketika kembali berhadapan dengan kuntilanak tadi. Iqbal jelas tidak akan diam saja. Iqbal pasti akan terus berusaha, karena yakin bahwa dirinya bisa mengalahkan kuntilanak itu.
Revan membuka ponselnya. Beberapa bagian tubuhnya terasa sakit setelah mendapat serangan gila-gilaan dari kuntilanak di kandang ayam. Namun ia mengabaikan rasa sakit itu dan justru lebih memikirkan Zyana. Layar ponselnya sangat bersih. Sama sekali tidak ada notifikasi ataupun pesan yang masuk. Padahal ia sedikit berharap bahwa Zyana akan menghubunginya, setelah tadi dirinya mengutarakan perasaan dan harapannya terhadap wanita itu. Sayangnya, Zyana mungkin sama sekali tidak ingin memberinya respon, persis seperti yang dikatakannya secara langsung pada Revan.
REVAN
Assalamu'alaikum, Zya. Kamu sedang apa? Apakah sudah shalat maghrib? Jangan lupa makan dan jangan banyak melamun. Bicaralah dengan siapa pun yang saat ini ada di sisimu. Jangan biarkan dirimu merasa sendiri. Jangan sampai perasaan sendirian itu berkembang dan membuat kamu kembali mengunci diri.
Setelah mengirim pesan itu, Revan segera masuk ke kamar penginapan untuk membersihkan diri. Ia kembali keluar setelah siap pergi ke masjid bersama yang lain. Mereka melaksanakan shalat berjamaah di masjid desa bersama para warga. Pekerjaan yang mereka lakukan hari itu sama sekali belum menemukan titik terang. Mereka masih harus kembali ke kandang ayam dan juga ke hutan, untuk bisa mencari tahu dari mana asalnya kuntilanak yang mereka hadapi.
Setelah selesai shalat maghrib, mereka kembali berkumpul. Kali ini mereka berhadapan langsung dengan para pemilik peternakan. Para pemilik peternakan itu harus bisa mereka ajak bekerja sama, sebelum mereka melakukan sesuatu terhadap kandang-kandang ayam agar tidak lagi ada ayam yang diambil oleh kuntilanak malam itu.
"Terdapat enam bangunan kandang ayam yang ada di desa ini. Kami akan mulai mencari tahu dari mana asalnya kuntilanak yang mendadak mengganggu ayam-ayam milik Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian. Tapi sebelum itu, kami akan melakukan upaya ruqyah terlebih dahulu agar kandang ayam milik Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian tidak lagi bisa dicuri secara gaib oleh kuntilanak," jelas Ruby.
"Maka dari itu kami saat ini ingin memohon izin pada Bapak-bapak dan Ibu-ibu sekalian, untuk melaksanakan upaya ruqyah dan memakai persediaan air yang ada pada setiap kandang ayam," tambah Samsul, melengkapi.
Sesaat, semua orang saling menatap satu sama lain. Mereka tampaknya benar-benar tidak berani ikut campur dengan urusan yang terkait dengan kuntilanak. Sehingga saat Ruby dan Samsul mewakili anggota tim yang lain untuk berbicara, mereka langsung berpikiran untuk menyerahkan semuanya pada anggota tim tersebut.
"Silakan, apabila menggunakan persediaan air yang ada di kandang ayam kami bisa membantu pekerjaan kalian agar cepat selesai. Kami tidak akan melarang dan justru akan membantu menambahkan persediaan air, apabila air yang sudah ada masih belum cukup," ujar Yudi, mewakili para pemilik peternakan yang berkumpul malam itu.
"Terima kasih banyak jika memang demikian, Pak. Kami juga akan merasa sangat terbantu, jika ada usaha untuk menambahkan persediaan air di setiap kandang ayam," balas Ruby.
Persiapan untuk meruqyah keenam bangunan kandang ayam telah tersedia. Rijad dan Hasbi sama-sama memerhatikan dari jauh semua kegiatan yang dilakukan oleh anggota tim yang dipanggil ke desa itu. Sesekali, mereka menatap ke arah langit dan pepohonan. Mewaspadai jikalau mungkin akan muncul kuntilanak secara mendadak di sekitar mereka.
Iqbal kebagian tugas memantau situasi dari atap kandang ayam. Keenam anggota timnya masing-masing meruqyah satu kandang, sementara dirinya hanya disuruh bertengger di atap oleh Karel dan Revan.
"Kalau begini caranya, apakah aku enggak terlihat seperti ayam yang lupa pulang ke kandang, ya? Kok, aku harus kebagian tugas bertengger di atap, sih? Apa enggak bisa, aku dapat tugas meruqyah kandang ayam seperti yang kalian lakukan?" protesnya, sambil berpegangan pada tiang kecil di atas atap.
"Sudah, Bal. Jalani saja. Kalau kamu mau ikut meruqyah, entah kandang ayam mana juga yang bisa kamu ruqyah. Kandang ayamnya cuma ada enam, loh," balas Reva.
"Ya, 'kan bisa, salah satu kandang ayamnya diruqyah oleh dua orang. Kenapa harus aku yang dipajang di atas atap begini, sih? Tadi aku dikucilkan dan disuruh menunggu di luar kandang. Sekarang aku dikucilkan lagi dan disuruh bertengger di atap kandang. Kurang mirip ayam bagaimana aku ini di mata kalian?"
"Bersyukur saja, kalau kamu kami bikin mirip sama ayam yang lupa pulang ke kandang. Akan lebih mengenaskan lagi, kalau kamu kami bikin mirip sama kuntilanak," sahut Samsul.
Tawa semua orang pun langsung terdengar di telinga Iqbal melalui earbuds miliknya. Apa yang Samsul katakan jelas sangat menyebalkan bagi Iqbal. Namun pemuda itu sudah pasti tidak mau dibuat mirip kuntilanak, dan akan lebih memilih dibuat mirip ayam yang lupa pulang ke kandang.
"Tujuanku dan Revan memberi kamu tugas bertengger di atap itu, agar tidak ada kuntilanak yang berani mengganggu pada saat proses ruqyah berlangsung, Bal. Kamu 'kan ditakuti oleh kuntilanak, makanya sudah sangat tepat kalau kamu bertengger di atas atap kandang ayam selama kami sedang meruqyah," jelas Karel.
"Kalau kamu merasa bosan bertengger di atas atap kandang ayam, cobalah panggil lagi teman gaibmu itu, Bal. Ajak dia ngobrol, biar kamu enggak kesepian saat sedang bertugas," saran Revan.
"Enak saja! Nyai Murti tidak bisa seenaknya kupanggil tahu! Kecuali keadaannya sangat darurat, baru aku mau memanggil dia."
"Wah ... haruskah aku cemburu, My Prince, karena kamu lebih akrab sama kuntilanak saat ini?" sindir Nadin, sambil menahan tawa.
"Eh ... bukan begitu maksudnya, My Princess. Aku cuma mau balas sarannya Revan doang, kok. Enggak ada maksudku mau bikin kamu cemburu. Demi Allah," Iqbal buru-buru memberikan penjelasan.
"Ha-ha-ha-ha-ha! Rasakan kamu, Bal. Nikmatilah kecemburuan Nadin sampai kamu turun dari atap kandang ayam," ejek Revan.
"Ish! Awas kamu, ya, Van! Kubajak nanti ponselmu dan kukirim balasan pesan pada Zya dengan kalimat-kalimat romantis nan konyol. Biar dia berpikir kalau itu adalah balasan dari kamu," ancam Iqbal.
"Eh? Apaan, tuh? Kok, mendadak bahas-bahas Zya?" tanya Ruby.
Revan memilih diam saja dan tidak memberi tanggapan sama sekali. Ia juga merasa kaget, karena Iqbal mendadak membahas soal Zyana. Seakan-akan pemuda itu tahu sesuatu yang Revan sembunyikan dari semua orang.
"Itu, By, Revan dapat balasan pesan dari Zya habis shalat maghrib tadi. Aku sempat baca notifikasi pesannya sekilas meski tidak komplit, sebelum kita berkumpul bersama para pemilik peternakan. Entah Revan sudah tahu kalau dia dapat pesan balasan atau tidak, aku enggak tahu pasti," jawab Iqbal, sengaja menyampaikannya sebagai bahan ghibah baru.
"Cieee ... Revan! Diam seakan enggak ngapa-ngapain, bergerak langsung pendekatan!" goda Samsul.
"Ekhm! Lanjutkan, Van! Jangan kasih kendor!" dorong Nadin, penuh semangat.
Revan pun buru-buru menyelesaikan tugasnya meruqyah, lalu segera membuka ponsel yang belum sempat dilihatnya lagi sejak tadi.
"Ya Allah, Iqbal Bareksa!!! Kenapa enggak dari tadi, sih, kamu kasih tahu aku kalau Zya balas pesan???" omelnya, menahan gemas.
* * *
SAMPAI JUMPA BESOK 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
KUNTILANAK
Terror[COMPLETED] Seri Cerita SETAN Bagian 4 Perjalanan kali itu berbeda dari biasanya. Iqbal merasa ada yang begitu mengganjal dalam hatinya selama perjalanan berlangsung. Sejak mendengar soal permintaan tolong klien dari Ruby, sesuatu seakan langsung me...
