- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
ZYA
Wa'alaikumsalam, Van. Hai. Alhamdulillah aku baru saja selesai shalat maghrib bersama Om Raja, Kakek, Nenek, Ai, dan Tante Ziva. Oliv, Sandy, Sammy, dan Niki sudah pulang sebelum waktu maghrib tadi. Mereka hampir enggak jadi pulang gara-gara Niki mengajak Bakso dan Bakmi lomba makan kuaci 😅. Yang tertinggal di sini hanya Bakso dan Bakmi. Bakpau sepertinya senang memerhatikan mereka yang selalu main-main di dalam kandangnya.
ZYA
Insya Allah aku enggak akan lupa makan. Mana mungkin aku bisa lupa, 'kan, kalau orang-orang di rumah selalu saja mencariku saat waktu makan tiba? 😅 Aku berusaha diet pun, dietku pasti gagal total. Soalnya, masakan Tante Ziva bersaing enak dengan masakan Nenek Mila 🤣 bikin aku jadi lupa diri akhirnya.
ZYA
Insya Allah aku enggak akan banyak melamun lagi, Van. Aku sudah curhat banyak pada Oliv sore tadi. Dia menyarankan beberapa hal padaku, setelah aku curhat. Agar aku tidak merasa sendirian ataupun kesepian di tengah-tengah keramaian. Dan aku putuskan, bahwa aku akan mendengarkan saran baik dari Oliv.
ZYA
Oh, ya. Bagaimana pekerjaanmu, Van? Apakah semuanya lancar? Apakah kamu baik-baik saja saat ini? Kota mana yang kali ini kamu kunjungi? Apakah kamu akan memberi tahu aku?
ZYA
Balaslah jika kamu sudah ada waktu. Jangan buru-buru dan tetaplah fokus pada pekerjaan yang sedang kamu hadapi. Aku akan tunggu balasan dari kamu. Semangat ☺
Revan telah selesai membaca semua pesan balasan yang Zyana kirimkan padanya. Ia terus tersenyum tanpa sadar, saat menatap layar ponselnya. Bahkan saat Samsul, Iqbal, dan Karel telah berdiri di belakangnya untuk ikut membaca pesan balasan itu, Revan tetap saja tidak segera menyadari keadaan.
PLAK!
"Balas! Jangan cuma senyam-senyum doang!" dorong Samsul, usai menggeplak bahu Revan.
"Jangan kayak orang kesambet, dong, Van. Sadar! Segeralah sadar dan balas pesannya!" tambah Karel.
"Heh! Aku susah-susah turun dari atap kandang ayam hanya demi ikut membaca pesan balasan Zya buat kamu, ya, Van! Tolong jangan buat usahaku turun dari atap seperti ayam jago menjadi sia-sia! Balas, enggak! Cepat!" omel Iqbal.
Reva melipat kedua tangannya di depan dada, sambil menatap sebal ke wajah Revan yang masih tersenyum-senyum sendiri.
"Mungkin dia memang butuh ponselnya dibajak, Bal. Cepat rebut ponselnya, biar kita-kita yang eksekusi soal membalas pesannya Zya," saran Reva.
Revan langsung mengarahkan ponselnya ke atas, agar tangan Samsul, Karel, dan Iqbal sama sekali tidak berhasil merebut ponselnya. Ia tahu persis, kalau Reva telah mendukung satu niatan gila ketiganya, maka tidak ada satu pun dari mereka yang akan berhenti sampai berhasil mendapatkan.
"Woy! Sabar! Aku pikirin dulu mau balas apa! Biarkan hatiku tenang dulu, dong!" tegas Revan, sambil menahan tawa atas kekonyolan para sahabatnya.
"Kamu mencoba menenangkan hati, Van. Lah, kita di sini serba penasaran sama alur kisahmu dengan Zya. Pikirin perasaan kita juga, dong," protes Nadin.
"Tahu, nih. Enggak peka banget jadi cowok," Ruby setuju dengan protes yang Nadin layangkan.
Revan langsung menyelamatkan ponselnya ke dalam saku. Ia benar-benar tidak mau ponselnya kena bajak oleh siapa pun, terutama jika pelakunya adalah Samsul, Iqbal, dan Karel. Ia tahu akan mendapat balasan segila apa Zyana nantinya, apabila mereka yang mewakili dirinya membalas pesan.
"Aku akan balas pesan dari Zya setelah kita mengurus pekerjaan. Toh Zya juga menyarankan padaku, agar aku tetap fokus dulu pada pekerjaan dan boleh membalas nanti kalau sudah ada waktu luang. Jadi, aku enggak perlu buru-buru," ujar Revan.
"Salah!!!" balas yang lainnya, kompak.
Revan berjengit kaget, usai mendengar betapa kompak sahutan dari para sahabatnya. Ia tidak menyangka, kalau dirinya akan mendapat tanggapan seantusias itu setelah mereka tahu usahanya mendekatkan diri pada Zyana.
"Kalau kamu menunda-nunda balas pesan itu, maka Zya akan berpikir kalau kamu tidak benar-benar serius ingin mencoba dekat dengannya. Meski dia mengatakan kamu boleh membalas kapan pun, dalam hatinya dia ingin mendapat balasan secepat kilat dari kamu, Van," ujar Nadin.
"Hanya saja, dia enggak mau memberatkan kamu dengan tuntutan semacam itu, karena tahu bahwa kamu sedang bekerja saat ini. Dia enggak mau juga terlihat seperti wanita yang banyak menuntut, karena takut kalau kamu akan menjauh," tambah Ruby.
"Kamu enggak mau dia berpikir bahwa kamu itu sama saja dengan mantan suaminya, 'kan? Jangan sampai dia membanding-bandingkan kamu dengan mantan suaminya, loh. Bisa jatuh sejatuh-jatuhnya itu nama baikmu," Reva mengingatkan.
"Intinya ... kamu harus lebih peka dengan hal-hal kecil macam itu, kalau memang serius mau mendekati Zya. Jadi, balaslah sekarang. Biar dia tahu kalau kamu memang serius ingin mendekatkan diri dan hati pada dia," dorong Samsul.
Karel dan Iqbal langsung merangkul Revan dengan kompak. Revan tahu kalau dirinya tidak akan bisa mengelak lagi sekarang. Terutama saat Samsul yang biasanya hanya membicarakan hal-hal konyol mendadak bicara begitu serius.
"Balaslah, Van. Enggak akan memakan waktu, kok, untuk membalas pesannya Zya. Jangan buat dia menunggu, karena ini sudah malam. Dia harus segera beristirahat setelah nanti waktu isya sudah lewat," bujuk Karel.
"Soal kuntilanak, serahkan padaku dan yang lain. Fokus dulu pada perasaanmu selama lima sampai sepuluh menit. Baru setelah itu kita lanjutkan pekerjaan," saran Iqbal.
Revan pun segera mengeluarkan kembali ponselnya dari dalam saku. Ia akhirnya memilih untuk mengikuti semua saran sahabatnya, untuk membalas pesan dari Zyana agar wanita itu tidak perlu lama menunggu dalam ketidakpastian. Revan diberi waktu sendirian selama sepuluh menit. Anggota timnya yang lain kini berkumpul untuk membicarakan langkah selanjutnya dalam pekerjaan mereka. Setelah ia selesai membalas pesan, ia pun kembali bergabung dengan yang lainnya. Ada perasaan lega yang mengiringi langkah Revan saat itu, dan rasa lega itu berasal dari pikirannya tentang Zyana.
"Oke. Karena semua kandang ayam telah selesai kita ruqyah, sekarang saatnya kita beralih ke tugas lain. Kita harus kembali ke hutan dan mengamati kubangan yang tadi membuatku dan Nadin terperosok. Kita juga harus mencoba untuk masuk lebih jauh ke hutan, agar tahu ke arah mana tepatnya hutan itu membawa langkah kita," ujar Karel, mengarahkan.
"Karena siapa tahu, dengan menelusuri hutan itu kita akan menemukan jawaban tentang asalnya kuntilanak yang mencuri ayam-ayam para peternak untuk dibantai. Bagaimana pun, kita harus bisa menemukan sumber utamanya, agar masalah yang terjadi pada para peternak ayam bisa segera diselesaikan," tambah Nadin.
Semua saling menatap satu sama lain, setelah Nadin dan Karel selesai bicara.
"Kami setuju. Kalau begitu, sebaiknya kita segera saja pergi hutan. Mumpung saat ini masih pukul setengah tujuh dan waktu isya belum tiba. Pak Hasbi dan Pak Rijad jelas tidak bisa berlama-lama ikut kita. Karena risikonya jauh lebih besar bagi kita ketika mereka ikut terlalu lama," saran Reva.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
KUNTILANAK
Horror[COMPLETED] Seri Cerita SETAN Bagian 4 Perjalanan kali itu berbeda dari biasanya. Iqbal merasa ada yang begitu mengganjal dalam hatinya selama perjalanan berlangsung. Sejak mendengar soal permintaan tolong klien dari Ruby, sesuatu seakan langsung me...
