- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Samsul membuka ranselnya setelah mengukur sekaligus memastikan, bahwa ukuran tubuhnya kemungkinan cukup dan bisa melewati jendela yang akan ia bobol. Ia mengamati beberapa benda yang saat itu baru saja dikeluarkan dan mulai berpikir selama beberapa saat. Ia sedang menimang-nimang, alat mana yang bisa membuatnya mencungkil daun jendela dengan cepat dan tidak menimbulkan kebisingan.
"Di ranselku ada linggis pendek, obeng, dan pisau lipat. Daun jendela bagusnya dicungkil pakai apa, ya, guys?" tanya Samsul.
"Pake sumpit kalau ada, Sul," jawab Revan, singkat, padat, dan membuat naik darah bagi yang mendengar.
"Eh? Kok, sumpit? Memangnya kita mau makan pangsit, hah, sehingga harus memakai sumpit? Jangan mengada-ada kamu, Van!" omel Samsul.
"Samsul ... Pangsit enggak bisa dimakan, Sayang. Dia itu kucing, bukan makanan," Ruby mengingatkan.
"Astaghfirullah! Enggak usah ikut-ikutan error kayak Samsul, deh, By. Ayolah ... fokus saja pada pintunya," mohon Reva.
Revan terkikik geli, usai mendengar nada-nada stress dari mulut Adiknya. Reva jelas mudah sekali merasa gemas, apabila Samsul dan Ruby sudah berulah. Ia tahu persis akan hal itu, sehingga dengan sengaja memancing agar Samsul dan Ruby bersuara. Kini Revan sendiri--di posisinya--segera mengarahkan ujung linggis pendeknya pada ujung daun jendela, agar bisa cepat terbuka. Daun jendela itu cukup mudah dicungkil, karena bukan terbuat dari kayu jati yang tebal.
"Oke! Aku memutuskan akan mencungkil daun jendela memakai linggis!" tegas Samsul.
"Enggak perlu kamu tegaskan pun, memang linggis adalah alat paling tepat yang bisa digunakan untuk mencungkil pintu atau jendela, Samsul Kanigara. Tolonglah ... kali ini saja, jangan bikin aku menjelma jadi Tante Hani," pinta Reva.
Ruby terkekeh pelan saat melihat bagaimana ekspresi Reva saat itu. Reva kembali fokus pada pintu, setelah suara Samsul tidak lagi terdengar olehnya.
"Oke, By, aku akan mencungkil pintunya sekarang," ujar Reva, usai meraba-raba daun pintu yang sedang mereka hadapi.
Ruby mengangguk setuju. Reva segera mengeluarkan linggis pendek dari bagian samping ransel. Ruby terus memerhatikan, karena kini Reva sudah memulai pekerjaannya membobol pintu rumah milik Desi. Reva sangat gesit ketika mengerjakan hal-hal yang paling dikuasainya. Kerja keras gadis itu sangat terlihat dimata Ruby, sehingga membuatnya yakin bahwa Reva tak pernah absen mempelajari sesuatu dari kedua orangtuanya.
"Usahakan jangan terlalu berisik, Va. Takutnya perempuan yang tinggal di rumah ini sudah curiga lebih dulu, sebelum kita berhasil masuk," saran Ruby.
"Oke, By. Akan aku usahakan, Insya Allah," tanggap Reva.
Reva melakukan pembobolan pintu itu dengan cepat. Ia tidak ingin terlalu lama membuang waktu hanya untuk mengurusi pintu. Baginya, masih banyak hal yang harus diurus, jadi tidak boleh ada waktu yang terbuang. Linggis pendek yang Reva gunakan akhirnya berhasil membuka pintu tersebut beberapa saat kemudian. Ia benar-benar tak membutuhkan tenaga yang banyak ketika membobolnya.
KRAK!
"Oke, guys. Pintu depan baru saja berhasil aku congkel dan sudah terbuka," lapor Reva.
"Kami akan masuk sekarang, untuk memancing perempuan itu agar keluar dari tempatnya berada saat ini. Siapa tahu dia masih berada di ruang ritual dan harus dipancing lebih dulu. Biar kalian berdua bisa lebih leluasa saat mencari di mana ruang ritualnya," tambah Ruby.
"Iya, Dek Ruby. Hati-hati, ya, Sayangku. Aku juga sudah membuka daun jendelanya dan sekarang masih berusaha memasuki jendela samping rumah ini, Dek. Jendelanya sempit, ternyata. Aku jadi agak tersangkut di sini," balas Samsul, setengah curhat.
"Badanmu saja yang terlalu besar, Sul. Aku sudah berhasil masuk lewat jendela dengan aman sentosa. Jendelanya enggak sempit. Badanku memang ramping, sixpack, dan muat untuk melewati jendelanya," balas Revan, sengaja mengompori.
"Enggak usah membanding-bandingkan postur badanku dengan badanmu, ya, Van! Papiku dan Bapakmu saja sudah beda perawakan dari zaman Paleolitikum. Ya, apalagi kita!" omel Samsul.
"Enggak usah bertengkar, Sul. Revan ada benarnya, loh. Kamu mungkin kurang olahraga, sehingga jadi kesulitan masuk lewat jendela akibat tubuhmu yang kurang ramping. Nanti cobalah untuk rajin-rajin olahraga," saran Ruby, sangat lembut.
"Iya, Dek Ruby. Siap! Aku akan olahraga yang rajin mulai sekarang, Sayang. Insya Allah," janji Samsul, dengan hati berbunga-bunga.
Reva hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala, saat menatap wajah Ruby yang sedang mengulum senyum usai mendengar janji manis dari Samsul. Ia langsung sadar bahwa setelah menikah dengan Sammy, nanti, dirinya akan selalu dihadapkan dengan ulah absurd Samsul dan Ruby yang tidak ada habisnya.
"Semoga saja stok sabarku kembali dipertebal oleh Allah. Aamiin yaa rabbal 'alamiin," doanya, lirih. "Ayo, By, sebaiknya kita segera masuk ke dalam."
"Ya, ayo," sambut Ruby.
Keduanya memasuki rumah itu dan mulai mengawasi keadaan di dalamnya. Setiap sudut yang mereka lihat akan mereka waspadai, karena tidak tahu apakah ada hal-hal tersembunyi atau gaib yang disimpan oleh Desi di dalam rumah tersebut. Desi keluar dari ruang ritualnya, karena ingin memeriksa suara-suara ribut yang tadi ia dengar dari luar rumah. Ia benar-benar merasa terganggu, sehingga pertapaannya tak bisa dilanjutkan sama sekali. Rasa penasarannya butuh untuk dipuaskan, agar tidak terus saja bertanya-tanya dalam hati.
Desi berhenti tepat di tengah ruangan depan, saat tatapnya bertemu dengan tatapan garang Reva dan Ruby. Ia merasa kaget saat itu. Ia tak menyangka kalau akan ada orang yang berani masuk ke rumahnya melalui pintu depan. Umumnya, orang yang ingin masuk tanpa izin akan masuk melalui jalan yang tidak terduga. Namun kedua gadis yang sedang ia tatap di hadapannya itu justru memilih masuk melalui pintu depan, seakan ingin menunjukkan bahwa mereka sedang ingin menantangnya.
"Siapa kalian??? Kenapa kalian berani memasuki rumahku tanpa izin???" tanya Desi, dengan suara cukup lantang.
Revan dan Samsul--dari posisi masing-masing--bisa mendengar suara perempuan itu dengan sangat jelas. Keduanya tahu, bahwa kini Desi sepertinya sudah berada cukup jauh dari ruang ritual. Hal itu membuat kedua pemuda tersebut memiliki waktu untuk segera menjalankan tugas yang mereka emban.
"Kami datang ke sini karena kuntilanak peliharaanmu berulah, perempuan sial!!! Kuntilanak peliharaanmu itu telah mengambil dan membantai ayam-ayam para peternak di desa sebelah!!!Seharusnya kami yang marah padamu, bukan kamu yang marah pada kami!!!" jawab Reva, sama lantangnya.
Amarah Desi mendadak meluap, usai mendengar jawaban Reva. Ia semakin marah, saat mendapati kalau kedua gadis itu bahkan membawa senjata di tangan masing-masing. Ia tahu persis, bahwa mungkin keduanya sudah tahu banyak soal ritual pesugihan dan juga kuntilanak peliharaannya. Mereka jelas bukan orang biasa, menurut Desi. Dan hal itu membuat Desi langsung mewaspadai setiap gerakan yang Reva dan Ruby lakukan, karena tidak ingin gegabah.
* * *
SAMPAI JUMPA BESOK 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
KUNTILANAK
Terror[COMPLETED] Seri Cerita SETAN Bagian 4 Perjalanan kali itu berbeda dari biasanya. Iqbal merasa ada yang begitu mengganjal dalam hatinya selama perjalanan berlangsung. Sejak mendengar soal permintaan tolong klien dari Ruby, sesuatu seakan langsung me...
