- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Aroma kemenyan tercium begitu menyengat dari sebuah rumah yang cukup jauh dari pemukiman warga. Meski begitu, aromanya hanya bisa dirasakan samar-samar, akibat menguarnya aroma cengkih yang ada di sekitaran belakang rumah tersebut. Apabila ada yang mencoba mencium bau-bau yang menguar dari rumah itu, maka mereka akan terkecoh dengan aroma cengkih yang jauh lebih menusuk. Sulit untuk bisa membedakan, mana aroma kemenyan dan aroma cengkih ketika sudah bersatu padu menusuk indera penciuman seseorang.
Keadaannya rumah itu tidak terlalu gelap, namun juga tidak terlalu terang. Bagi yang memiliki pandangan rabun, maka rumah itu bisa jadi tidak terlihat jelas. Namun pemilik rumah itu berusaha keras agar rumahnya tidak menarik perhatian siapa pun, sekalipun itu adalah warga desanya sendiri. Ia lebih senang jika tidak ada orang yang datang berkunjung, karena hal itu jelas bisa membuatnya menyembunyikan kegiatan terselubung di dalam rumah.
Di rumah tersebut hanya ada satu orang yang tinggal. Ia selalu keluar rumah ketika pagi menjelang dan berbaur dengan warga sekitar untuk bekerja. Ia terkenal cukup ramah kepada siapa saja, meskipun jarang menghabiskan waktu bagitu lama di luar rumah kecuali untuk bekerja. Hal itu dilakukannya agar tidak ada yang curiga padanya, bahwa ia adalah orang yang menjalani ritual pesugihan. Orang itu sengaja memilih membangun tempat tinggal yang agak jauh dari pemukiman warga, karena ia tidak ingin ada orang yang berkunjung ke rumahnya. Tidak ada yang tahu kalau menjalani ritual pesugihan adalah hal yang paling ia sukai. Ia ingin memperkaya dirinya meski hanya dengan melakukan sedikit pekerjaan, karena ia tidak suka membuat dirinya merasa lelah akibat bekerja terlalu keras.
Malam itu, ia akhirnya selesai melakukan ritual lebih cepat dari biasanya. Ia keluar dari ruang ritualnya dan hendak menuju ke ruang tengah rumah untuk bersantai. Sayang, langkahnya mendadak terhenti sebelum sampai ke ruang tengah rumah, saat melihat keberadaan kuntilanak peliharaannya sedang menatap penuh amarah ke arahnya.
"Kenapa kamu ada di sini? Bukankah seharusnya saat ini kamu sedang menikmati tumbal segar dari desa sebelah yang aku persembahkan?" tanyanya.
"Tidak bisa! Tidak lagi bisa! Tumbal segar persembahanmu sama sekali tidak bisa aku sentuh sekarang!"
"Apa? Tidak bisa disentuh? Apa yang kamu katakan itu, hah? Bagaimana mungkin ayam-ayam milik para peternak itu tidak bisa disentuh? Jangan mengada-ada kamu!" balasnya, marah.
"Pergi saja sendiri ke sana dan ambil tumbal segar untukku! Biar kamu tahu, bahwa tumbal segar yang kamu persembahkan itu sudah tidak lagi bisa aku sentuh!"
Mendengar hal itu, orang tersebut mendadak gelisah dan takut tanpa alasan. Ia jelas tidak mungkin pergi ke desa sebelah saat hari sudah malam, hanya untuk membuktikan pangkuan kuntilanak perliharaannya. Namun di sisi lain--jika ia tidak pergi--maka kuntilanak peliharaannya tidak akan mendapatkan tumbal dan besok pagi ia tidak akan mendapatkan perhiasan-perhiasan baru seperti biasanya.
"Aku tidak mungkin pergi ke sana malam ini. Apakah kamu tidak bisa kembali ke sana dan mencoba lagi?" tanyanya, masih berusaha mendorong kuntilanak peliharaannya.
Kuntilanak itu pun memperlihatkan sebuah bekas serangan yang menganga begitu besar pada wujudnya. Luka itu adalah hasil dari serangan yang Iqbal berikan kepadanya terakhir kali, sebelum ia melarikan diri dari kandang ayam.
"Ada seseorang yang sangat kuat di desa itu dan aku takut menghadapinya! Dia sedang menjaga tumbal segar yang kamu berikan, agar aku tidak bisa mengambilnya! Luka ini adalah hasil serangannya kepadaku. Jadi, ambil tumbal segar itu dan bawakan padaku, atau kamu akan kutinggalkan selamanya!"
Lokasi kubangan tempat terperosoknya Karel dan Nadin sore tadi akhirnya berhasil didatangi kembali. Ukuran kubangan itu cukup besar dan dalam. Sorot lampu senter membuat jelas penglihatan semua orang soal adanya sisa-sisa bangkai ayam dan juga genangan darah yang belum menyerap ke tanah.
"Pak Rijad dan Pak Hasbi di sini saja menunggu. Kami akan turun ke kubangan itu untuk mencari petunjuk," saran Revan.
"Iya. Kami akan menunggu di sini," tanggap Rijad.
"Kami akan bantu mengarahkan senter ke kubangan. Semoga saja hal itu bisa membuat penglihatan kalian semakin jelas malam ini," ujar Hasbi.
"Terima kasih banyak, Pak Hasbi. Maaf apabila kami sedikit merepotkan Bapak malam ini," ucap Ruby, mewakili yang lainnya.
Perlahan, ketujuh anggota tim itu turun ke dalam kubangan dari arah yang berbeda-beda setelah memakai masker dan sarung tangan. Mereka sengaja menyebar, karena tidak mau bertumpu pada satu orang soal pencarian petunjuk malam itu. Mereka semua harus bekerja sama, agar hasil yang didapatkan dari pencarian menjadi lebih maksimal. Rijad dan Hasbi benar-benar mengarahkan senter ke arah tengah kubangan, sehingga cahaya yang dihasilkan jauh lebih luas daripada cahaya dari senter masing-masing anggota tim. Senter yang dipakai oleh masing-masing anggota tim digunakan untuk melihat sesuatu lebih dekat, sehingga bisa mengamati apa pun yang mereka temukan.
Iqbal dan Samsul mencari-cari yang bisa ditemukan di atas tanah kubangan tersebut. Keduanya sama-sama fokus menatap pada dua area berbeda namun berdekatan. Revan juga melakukan hal yang sama. Tatapannya sama sekali tidak beralih dari sisa-sisa bangkai ayam yang ada di sekitarnya. Menurutnya, sisa-sisa bangkai ayam itu juga patut untuk diperiksa secara menyeluruh.
Reva memungut sesuatu dari atas tanah kubangan berlumur darah ayam. Ia mengamati selama beberapa saat, sebelum akhirnya memecahkan benda kecil sejenis tumbuhan yang dipegangnya. Ia membuka maskernya sedikit agar bisa mengendus aromanya. Meski benda itu telah bercampur dengan aroma amis darah ayam, aroma aslinya sama sekali tidak hilang ketika dipecahkan oleh Reva.
"Hei, guys! Aku menemukan cengkih. Ada cukup banyak cengkih di area yang kupijak saat ini," lapornya.
Nadin dan Ruby segera mendekat pada Reva. Mereka ikut memeriksa yang baru saja diperiksa dan dipastikan oleh gadis itu.
"Ya. Reva benar. Ini memang tumbuhan cengkih," Nadin membenarkan, sambil mengendus beberapa kali.
"Cengkih? Memangnya di hutan ini ada pohon cengkih, ya?" heran Samsul.
"Kalau di hutan bagian sini, sama sekali tidak ada pohon cengkih dan tidak ada yang pernah menanamnya. Tapi kalau di hutan bagian pinggir desa sebelah, ada beberapa pohon. Itu karena warga desa sebelah ada yang sengaja menanam pohon cengkih sebagai mata pencaharian mereka," jawab Rijad.
"Dan apakah ada orang dari desa sebelah yang sering datang ke desa ini melalui jalur hutan, Pak Rijad, terutamanya jika orang itu adalah petani atau pemetik cengkih?" tanya Karel.
"Sering. Sering ada yang datang ke sini dari desa sebelah melalui jalur hutan. Tapi kebanyakan mereka yang datang adalah pemetik cengkih, bukan pemilik pohon-pohon cengkih."
Karel pun segera menatap ke arah seluruh anggota timnya. Kini ia tahu persis ke mana arah yang harus mereka tuju untuk bisa menemukan asal-usul kuntilanak yang mengambil dan membantai ayam-ayam milik para peternak.
"Tujuan kita selanjutnya malam ini adalah desa sebelah. Kita akan mencari keberadaan kuntilanak itu ke sana, karena cengkih yang Reva temukan adalah satu-satunya petunjuk yang kita dapatkan dari kubangan ini," tegas Karel.
* * *
SAMPAI JUMPA BESOK 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
KUNTILANAK
Terror[COMPLETED] Seri Cerita SETAN Bagian 4 Perjalanan kali itu berbeda dari biasanya. Iqbal merasa ada yang begitu mengganjal dalam hatinya selama perjalanan berlangsung. Sejak mendengar soal permintaan tolong klien dari Ruby, sesuatu seakan langsung me...
