6 | Efek Yang Berbeda

1K 91 68
                                        

- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Karel menggosok rambutnya yang masih basah setelah mandi. Ia kini berada disalah satu penginapan yang ada di Desa Ciasem Tengah. Ruby memutuskan mengambil beberapa kamar di penginapan tersebut, karena bukan hanya Karel yang harus diberi waktu untuk membersihkan diri serta memulihkan keadaan. Nadin juga membutuhkan tempat yang nyaman, agar kakinya yang terkilir bisa segera diobati.

Siomay dibiarkan berguling-guling di atas tempat tidur. Karel meraih ponsel yang tadi ia simpan di atas meja samping tempat tidur. Setelah memakai kaos dan menyimpan handuk, ia mencoba menghubungi Ibunya karena harus membicarakan sesuatu. Beberapa saat ia menunggu. Nada sambung terdengar jelas di seberang sana saat Karel tengah menatap keluar jendela kamar penginapan. Siomay terus bermain-main dengan handuk yang Karel pakai. Perasaan Karel masih sedikit kacau, setelah mendapat serangan tak terduga dari kuntilanak seperti tadi. Iqbal jelas jauh lebih tenang daripada dirinya saat itu. Dan hal tersebut membuat Karel ingin membicarakannya dengan Ziva, tak peduli jika nanti ia harus mendengar penilaian dari Ibunya.

"Halo, Nak. Assalamu'alaikum," sapa Ziva, ketika akhirnya mengangkat telepon.

"Wa'alaikumsalam, Bu," balas Karel.

"Ada apa, Nak? Kenapa kamu terdengar tidak bersemangat seperti biasanya? Apakah ada hal yang mengganggu pikiranmu saat ini?" duga Ziva.

Karel terdiam sesaat. Tatapannya masih tertuju ke arah luar jendela penginapan. Ia benar-benar sedang mencoba untuk menenangkan diri, sebelum membicarakannya dengan Ziva.

"Karel? Nak? Apakah suara Ibu terdengar jelas olehmu?"

Ziva ingin memastikan setelah tidak adanya jawaban dari Karel.

"Iya, Bu. Aku dengar suara Ibu dengan jelas. Maaf ... barusan aku masih berusaha menenangkan perasaanku," jawab Karel, akhirnya.

"Menenangkan perasaan? Katakan, ada apa? Apakah telah terjadi sesuatu padamu atau pada anggota timmu yang lain?"

"Iya, Bu. Telah terjadi sesuatu padaku dan Nadin, saat kami berdua sedang menuju ke hutan di dekat desa yang kami datangi ini. Aku dan Nadin mendapat serangan mendadak dari kuntilanak, Bu. Kuntilanak itu muncul entah dari mana dan bahkan energi negatifnya sama sekali tidak bisa diprediksi oleh Nadin. Aku dan Nadin terperosok ke dalam kubangan darah di hutan. Kubangan itu adalah tempat terjadinya pembantaian ayam-ayam para peternak di desa ini yang hilang secara misterius. Aku masih baik-baik saja setelah serangan mendadak itu terjadi. Tapi, kaki kanan Nadin terkilir setelah terperosok ke dalam kubangan bersamaku. Dia sampai kesulitan berjalan dan harus digendong oleh Reva sampai ke penginapan."

Ziva benar-benar mendengarkannya tanpa menyela. Ia tahu bahwa Karel saat ini sedang memikirkan banyak hal, terutama keselamatan anggota timnya. Maka dari itu ia memutuskan untuk menjadi pendengar lebih dulu, sebelum nanti memberikan pendapat atau masukan disaat yang tepat.

"Dan ternyata, setelah kuntilanak itu menyerangku dan Nadin di hutan, kuntilanak itu mendatangi salah satu kandang ayam milik warga. Kandang ayam itu sedang diperiksa oleh Samsul, Iqbal, dan Revan. Menurut keterangan Revan, kuntilanak itu sangat agresif saat melihat mereka. Tapi anehnya, yang diserang oleh kuntilanak itu hanyalah Revan dan Samsul, Bu. Iqbal adalah satu-satunya yang tidak diserang dan justru sangat dihindari oleh kuntilanak itu, ketika Iqbal mencoba mengejarnya keliling kandang ayam. Baik itu Samsul ataupun Revan, keduanya mengatakan bahwa Iqbal sama sekali tidak menunjukkan rasa takut ketika menghadapi dan mengejarnya. Bahkan, Iqbal sampai memaki-maki kuntilanak itu beberapa kali, Bu, hingga akhirnya kuntilanak itu memutuskan melarikan diri dari kandang ayam saat Iqbal mulai memanjat dinding untuk mencapai ke arahnya."

"Oke," tanggap Ziva. "Sekarang Ibu tahu tentang apa yang sedang kamu resahkan selain daripada keadaan kaki Nadin yang terkilir. Kamu sedang meresahkan Iqbal yang tidak punya rasa takut dan justru ditakuti oleh kuntilanak. Benar, 'kan, dugaan Ibu?"

"Ya, Ibu benar. Itulah yang aku resahkan sejak tadi, Bu. Aku sejak dulu hanya menganggap wajar, soal Iqbal yang sama sekali tidak punya rasa takut terhadap makhluk halus. Tapi sekarang, aku tidak bisa menganggap itu sebagai hal yang wajar, Bu. Karena Iqbal ternyata bukan hanya sangat berani menghadapi makhluk halus, melainkan juga ditakuti oleh salah satu jenis setan yang tidak lain adalah kuntilanak. Hal itu benar-benar tidak bisa dianggap wajar, menurutku. Aku ingin tahu, apa sebenarnya penyebab yang membuat Iqbal ...."

"Efek teluh kain kafan yang pernah menjerat Tante Rere," potong Ziva, dengan cepat, "terserap oleh Iqbal sepenuhnya. Karena saat teluh kain kafan itu terjadi, Tante Rere sedang mengandung Iqbal di dalam rahimnya. Jujur saja, saat itu Ibu pesimis bisa menyelamatkan bayi dalam kandungan Tante Rere, Nak, karena teluh kain kafan yang menjeratnya sangatlah kuat melebihi teluh kain kafan lain yang pernah Ibu hadapi. Tapi setiap kali Ibu menyentuh perut Tante Rere, Ibu bisa merasakan bahwa bayi yang sedang dikandungnya terus bergerak tanpa henti. Seakan-akan, bayi itu ikut memberi perlawanan atas apa yang sedang menjerat Ibunya. Dan ketika Iqbal lahir, Ibu sudah tahu kalau dia memang akan menjadi seperti itu. Tidak takut terhadap makhluk halus dan juga akan ditakuti sekaligus dihindari oleh beberapa makhluk halus. Teluh kain kafan itu membuat Iqbal terlihat berbeda bagi beberapa makhluk halus, Nak. Jadi kamu tidak perlu mengkhawatirkan dia terlalu jauh. Iqbal tetap akan menghadapi dan melawan sesuai dengan kapasitas dirinya. Kamu hanya perlu membantunya, apabila dia akhirnya membutuhkan bantuan."

Setelah mendengarkan penjelasan itu, Karel pun akhirnya paham bahwa Iqbal tak jauh berbeda dengan Nadin. Nadin juga mengalami hal yang sama, karena Karin dulu pernah terjerat teluh gantung jodoh sebelum menikah dengan Alwan. Begitu pula dengan Iqbal. Dia tengah berada dalam kandungan Rere, ketika Rere terjerat teluh kain kafan. Bedanya, Iqbal bukan mendapatkan energi yang besar seperti bagaimana Nadin mendapatkannya. Iqbal justru mendapatkan pengaruh yang besar pada dirinya, sehingga dia ditakuti oleh beberapa makhluk halus yang salah satunya adalah kuntilanak.

"Baik, Bu. Aku paham sekarang. Aku benar-benar paham. Terima kasih atas penjelasannya, Bu. Aku akan mengabari Ibu dan Ai setelah pekerjaan kami selesai nanti," ujar Karel.

"Iya, Nak. Ingat ... tetaplah berhati-hati dan waspada pada setiap kesempatan. Jangan lupa berdzikir dan berdoa, agar kamu selalu ada dalam perlindungan Allah ketika jauh dari rumah," pesan Ziva.

"Iya, Bu. Insya Allah aku akan selalu berdzikir dan berdoa seperti yang Ibu pesankan. Kututup dulu teleponnya, Bu. Assalamu'alaikum," pamit Karel.

"Wa'alaikumsalam, Nak."

Setelah sambungan telepon terputus, Karel segera memasukkan ponsel ke saku celananya. Ia meraih Siomay serta ransel, lalu keluar dari kamar penginapan. Ia bertemu dengan Revan, yang ternyata sudah berdiri sejak tadi di depan pintu kamarnya.

"Van? Mana yang lain?" tanya Karel.

"Sudah turun duluan. Mereka menunggu kita di bawah. Jangan khawatir soal keadaan kaki Nadin. Kakinya sudah membaik, setelah menerima gombalan-gombalan gila dari Iqbal," jawab Revan.

"Wah ... itu jelas informasi yang sama sekali tidak sedikit pun kuduga-duga sejak tadi, Van. Haruskah informasi absurd seperti itu kamu sampaikan padaku?" heran Karel.

"Harus! Biar aku enggak stress sendiri, gara-gara kelakuan bucinnya Iqbal," jawab Revan, tenang dan meyakinkan.

* * *

KUNTILANAKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang