- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Karel membantu Nadin berdiri, usai keduanya terperosok bersama ke dalam kubangan penuh darah dan sisa bangkai ayam. Keduanya terperosok ke dalam kubangan itu akibat adanya serangan kuntilanak yang melayang di atas kepala mereka. Warga yang menunjukkan jalan pada mereka sudah lari menjauh dari hutan akibat ketakutan, usai melihat wujud menyeramkan kuntilanak tersebut.
"Kamu baik-baik saja, Nad?" tanya Karel, seraya meraih earbuds miliknya dari tanah.
"Ya. Alhamdulillah aku baik-baik saja, Rel. Tapi ... aduh ... kakiku," rintih Nadin, sambil memegangi kaki kanannya yang terasa sakit.
"Kenapa, Nad? Kakimu terkilir?" duga Karel.
"M-hm. Sepertinya itulah yang terjadi, Rel. Duh ... padahal tadi aku baru saja ingin mengatakan pada Iqbal, bahwa makhluk halus yang sudah sering dia hadapi adalah kuntilanak. Eh, mendadak kita malah diserang oleh kuntilanak betulan saat hari masih terang begini," ujar Nadin.
Karel berusaha menenangkan dirinya selama beberapa saat. Ia menyodorkan earbuds milik Nadin yang ikut ditemukan barusan. Nadin mencoba membuka ponselnya dan ingin melihat apakah sambungan telepon dengan anggota tim masih terhubung. Sayangnya, sambungan telepon sepertinya sudah terputus sejak tadi. Kini mereka hanya berdua saja di tengah hutan itu, tanpa ingat ke arah mana jalan untuk bisa sampai kembali ke desa.
"Berarti perasaan tidak enak yang Iqbal rasakan adalah pertanda. Iqbal seharusnya sudah tahu kalau kita akan menghadapi kuntilanak, andai saja kita semua enggak berusaha membuatnya melupakan perasaan tidak enak yang dia rasakan," ujar Karel, sedikit menyesal.
"Ya. Seharusnya mungkin begitu," tanggap Nadin.
Keduanya terdiam lagi. Semilir angin yang berembus membawa aroma anyir darah yang menyengat. Kubangan darah ayam dan sisa-sisa bangkai tersaji di depan mereka secara terbuka.
"Aku sebenarnya agak heran, Rel, kenapa Iqbal bisa sepeka itu jika akan atau sudah berhadapan dengan kuntilanak. Dia enggak punya kelebihan apa pun, tapi dia selalu tahu bagaimana rasanya saat berhadapan dengan kuntilanak. Aneh, 'kan?"
"Mungkin itu adalah efek dari teluh kain kafan yang pernah menjerat Tante Rere, Nad. Entah apa hubungannya, Iqbal akhirnya terlahir tanpa memiliki rasa takut terhadap makhluk halus. Agak jauh apabila dipikir-pikir lagi. Karena teluh kain kafan berhubungan langsung dengan pocong, bukan kuntilanak. Tapi Iqbal justru sangat peka jika ada kuntilanak di sekitarnya, dan bahkan dengan sukarela akan mencari keberadaannya jika sudah merasa sangat penasaran. Sampai detik ini, aku sama sekali belum memahami yang satu itu, Nad. Mungkin ... aku harus coba bertanya-tanya lagi pada Ibuku mengenai teluh kain kafan yang pernah menjerat Tante Rere serta hubunganya dengan Iqbal," ujar Karel.
Ruby dan Reva akhirnya tiba di hutan bersama Rijad dan Hasbi tak lama kemudian. Keduanya segera menghampiri Karel dan Nadin, akibat tak bisa menahan rasa khawatir.
"Ya Allah, Nad ... Rel ...! Apa yang terjadi? Kenapa kalian sama-sama kotor dan penuh darah begini?" tanya Ruby, sambil memeriksa keadaan Nadin.
Reva memeriksa keadaan Karel. Ia mencoba mencari apakah ada luka yang belum terlihat olehnya, karena pria itu saat ini terlihat penuh sekali dengan darah.
"Kami berdua jatuh ke kubangan. Kuntilanak mendadak menyerang kami dari atas pohon ... entah pohon yang mana," jawab Nadin.
"Kaki Nadin terkilir, By," lapor Karel. "Coba periksa."
Ruby segera menggulung celana jeans yang Nadin pakai. Perlahan ia membuka sepatu dan kaos Kaki gadis itu, agar Nadin tidak perlu merasa kesakitan. Kaki Nadin terlihat memar pada bagian pergelangannya. Hal itu jelas terjadi, karena tadi dirinya benar-benar terperosok bersama Karel ke dalam kubangan.
"Apakah butuh tandu, Neng, biar temannya bisa dibawa kembali ke desa?" tanya Rijad.
"Jangan, Pak. Saya masih bisa jalan, Insya Allah," jawab Nadin, dengan cepat.
Nadin jelas tidak ingin merepotkan siapa pun. Keadaannya yang seperti itu hanya akan membuat susah orang-orang di sekitarnya. Jadi meski dirinya akan sulit berjalan jauh, Nadin memilih untuk mencobanya agar tidak membuat repot orang lain.
"Tenang saja, Pak Rijad. Kalau anggota tim kami tidak bisa berjalan sampai ke desa, maka saya yang akan menggendongnya," ujar Reva.
Samsul, Iqbal, dan Revan tiba di hutan itu tak lama kemudian. Ketiganya tetap mewaspadai keadaan sekitar, meski kini mereka ada bersama Karel dan yang lainnya. Iqbal segera mendekat pada Nadin saat melihat kalau Ruby sedang mencoba mengurut kaki gadis itu. Ia tahu, bahwa sudah terjadi hal yang buruk terhadap Nadin selama tak ada kabar darinya dan Karel.
"Terkilir?"
Nadin pun mengangguk, meski di wajahnya masih terukir senyum yang selalu Iqbal rindukan.
"Aku gendong, ya," tawar Iqbal.
"Jangan, My Prince. Biar Reva saja yang gendong aku. Kamu ..." Nadin berhenti sesaat, sambil menahan airmatanya, "... kamu hadapi saja kuntilanak yang tadi menyerangku dan Karel. Perasaan tidak enakmu sejak siang tadi ternyata memang karena kun--"
"Jangankan menghadapi, Nad," potong Samsul. "Kuntilanak itu sepertinya sudah kena mental, saat menghadapi Iqbal di kandang ayam yang kami periksa tadi. Kami berdua kena serangan dan terlempar jauh ke dinding belakang kandang ayam. Tapi Iqbal adalah satu-satunya yang tidak diserang oleh kuntilanak itu."
"Iya, itu benar. Kuntilanak itu terpojok saat Iqbal tidak berhenti mengejar dia. Dan saat Iqbal hampir mendapatkannya dan hendak menyiram dia dengan air yang sudah didoakan, dia langsung memilih menghilang dari kandang ayam. Jadi kamu enggak perlu meminta. Iqbal sudah jelas dengan penuh sukarela akan mengejar-ngejar kuntilanak itu hingga ke sarangnya sekalipun," tambah Revan.
Reva dan Ruby ternganga, begitu pula dengan Karel dan Nadin. Nadin kini melupakan rasa sakitnya, lalu memilih memeriksa keadaan Iqbal untuk meyakinkan diri bahwa pemuda itu baik-baik saja.
"Tapi kamu enggak kenapa-napa, 'kan? Enggak ada yang luka, 'kan, setelah menghadapi kuntilanak itu?" tanya Nadin, tak mampu menyembunyikan rasa khawatirnya.
Iqbal pun langsung tersenyum malu-malu, usai mendengar pertanyaan dan juga menerima perhatian dari Nadin. Hal itu jelas langsung menaikkan kadar kolesterol dalam darah Samsul dan Revan secara instan.
"Heh, Dek Nadin Sadewa, anak kesayangan Om Alwan Sadewa! Kamu kena gangguan telinga apa gimana? 'Kan sudah dibilang, yang diserang sama kuntilanak itu aku dan Revan. Kenapa kamu malah nanyain keadaannya Iqbal?" omel Samsul, sambil menjambak rambutnya sendiri.
Ruby segera mendekat pada Samsul, lalu menariknya agar menjauh dari Iqbal dan Nadin.
"Sudah ... jangan diperpanjang. Namanya juga mereka saling sayang, Sul. Wajarlah kalau Nadin khawatir sama Iqbal," bujuk Ruby.
"Tapi tadi jelas banget, loh, Samsul bilang kalau kami yang kena serangan dari kuntilanak, bukan Iqbal. Sayang sih, sayang. Jangan salah sasaran juga kali, kalau mau khawatir sama orang," sebal Revan, tak mau kalah.
Karel pun mendekat pada Revan, lalu berbisik tepat di telinganya.
"Kamu juga akan seperti Nadin, kalau sudah mendengar hal-hal buruk terjadi di sekeliling Zya. Jadi, maklumi saja," sarannya, sambil menahan senyum.
Revan pun terpaku di tempatnya. Ia tak lagi mengatakan apa pun dan hanya bisa menatap Karel yang kini mulai berjalan menjauh dari sisinya bersama Samsul.
* * *
SAMPAI JUMPA BESOK 🥰
KAMU SEDANG MEMBACA
KUNTILANAK
Horror[COMPLETED] Seri Cerita SETAN Bagian 4 Perjalanan kali itu berbeda dari biasanya. Iqbal merasa ada yang begitu mengganjal dalam hatinya selama perjalanan berlangsung. Sejak mendengar soal permintaan tolong klien dari Ruby, sesuatu seakan langsung me...
