EPILOG

1.6K 98 262
                                        

- DUA EPISODE TERAKHIR
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.

* * *

Alwan berada di hadapan Iqbal dan Nadin saat itu. Keduanya sudah siap untuk dinikahkan, setelah penghulu akhirnya datang meski agak sedikit terlambat. Halaman rumah Keluarga Sadewa yang luas menjadi tempat pernikahan mereka. Rere berulang kali menyeka airmatanya, saat menatap ke arah Iqbal yang sebentar lagi akan mempersunting gadis impiannya.

"Sudah, Re. Doakan yang terbaik untuk Iqbal dan Nadin. Insya Allah mereka akan menjadi pasangan suami-istri paling bahagia, apabila selalu mendapatkan doa dari kamu," bisik Ziva, seraya merangkul sepupu kesayangannya tersebut.

"Iqbal sudah besar, Ziv. Iqbal akan membangun keluarganya sendiri sekarang. Aku merasa waktu begitu cepat berlalu, Ziv. Padahal rasanya kemarin dia masih anak-anak dan masih kugendong saat merajuk," ungkap Rere.

"Ya. Begitulah waktu berjalan, Re. Memang selalu tidak terasa, sampai akhirnya kita mengantar anak-anak ke pelaminan seperti yang sedang kamu dan Vano lakukan hari ini."

Alwan menjabat tangan Iqbal, saat penghulu telah memberikan tanda. Iqbal balas menjabat tangan Alwan dengan tegas, sebagai tanda bahwa ia akan mengemban tugas untuk menjaga Nadin sebaik mungkin pada pundaknya setelah menikahi gadis itu. Nadin menatap Ayahnya dengan kedua mata berkaca-kaca. Ia tahu bahwa Ayahnya akan selalu menyayanginya, meski nanti ia sudah menjadi seorang istri di sisi Iqbal. Rasa sayang itu tidak akan berubah, sehingga Nadin selalu tahu bahwa Alwan dan Karin sesekali akan menjadi tempat pulangnya bersama Iqbal.

"Bismillahirrahmanirrahim. Saya nikahkan dan kawinkan ananda Iqbal Bareksa bin Rere Hardiman kepada Putri saya Nadin Sadewa binti Alwan Sadewa dengan mas kawin berupa satu set perhiasan emas seberat dua puluh tiga gram beserta seperangkat alat shalat dan Al-Qur'an dibayar tunai karena Allah."

"Saya terima nikah dan kawinnya Nadin Sadewa binti Alwan Sadewa dengan mas kawin berupa satu set perhiasan emas seberat dua puluh tiga gram beserta seperangkat alat shalat dan Al-Qur'an dibayar tunai karena Allah."

Penghulu pun menatap ke arah para saksi.

"Bagaimana para saksi? Apakah sah?"

"SAH!!!" jawab semua saksi yang hadir untuk menyaksikan ijab kabul.

"Alhamdulillah, pernikahan ini sah karena Allah!" putus penghulu.

"Alhamdulillahi rabbil 'alamiin!!!" sahut semua orang.

Nadin dan Iqbal pun tersenyum lega. Hati mereka dipenuhi rasa bahagia dan syukur, karena acara pernikahan tersebut berjalan dengan lancar tanpa ada hambatan sedikit pun. Niki menangis bahagia saat Kakaknya telah resmi menikah dengan salah satu sahabatnya. Ia benar-benar lega, karena tahu bahwa Iqbal akan selalu dicintai oleh Nadin sampai akhir hayatnya. Reva dan Ruby memeluk gadis itu, bahkan membantunya menyeka airmata agar tidak merusak riasan. Mereka tahu, bahwa Niki adalah pendukung utama kisah cinta Iqbal dan Nadin, sehingga tidak ada pertimbangan yang menyulitkan saat Iqbal memperkenalkan Nadin pada Vano dan Rere sebagai calon istrinya.

Semua orang kini mengangkat kedua tangan untuk berdoa bersama, yang akan dipimpin langsung oleh penghulu. Mereka akan mendoakan kedua mempelai pengantin, agar kehidupan pernikahan mereka selalu berjalan dengan baik dan mulus meski berada di tengah waktu sulit sekalipun.

"Bismillahirrahmanirrahim. Baarakallaahu laka wa baaraka 'alaika wa jama'a bainakumaa fii khairin."

"Aamiin!!!"

"Allaahumma allif bainahumaa kamaa allafta baina Adam wa Hawwa, wa allif bainahumaa kamaa allafta baina sayyidinaa Ibraahiim wa Saarah, wa allif bainahumaa kamaa allafta baina sayyidinaa Yuusuf wa Zulaikha, wa allif bainahumaa kamaa allafta baina sayyidinaa Muhammadin shallallaahu 'alaihi wa sallama wa sayyidatinaa Khadiijatal kubraa, wa allif bainahumaa kamaa allafta baina sayyidinaa 'Aly wa sayyidatinaa Faathimah az-Zahraa."

KUNTILANAKTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang