- UPDATE SETIAP HARI
- DUA EPISODE SETIAP UPDATE
- JANGAN LUPA BERIKAN VOTE, KOMENTAR, DAN FOLLOW AKUN WATTPADKU.
* * *
Jajang--Ketua RT di desa tersebut--dan Dudung--Ketua RW--mencoba meredam emosi warga yang saat itu tersulut usai mendengar suara tawa kuntilanak. Harsa yang sebenarnya juga bagian dari para warga desa pun mencoba ikut membantu keduanya, agar keadaan malam itu tetap kondusif di tengah suasana mencekam.
"Cepat usir Ceu Desi! Jangan kasih ampun ataupun maklum! Sesat jalan hidupnya teh!"
"Sabar dulu, Bapak-bapak ... Ibu-ibu ...! Sabar dulu!" pinta Dudung.
"Sabar, Pak ... Bu ... jangan anarkis dan jangan sampai ada yang main hakim sendiri. Sudah ada satu orang Polisi di sini bersama kita. Insya Allah Bapak Polisi ini yang akan meringkus Ceu Desi, nanti, apabila kuntilanak dan juga ritual pesugihannya sudah diatasi oleh orang-orang yang sedang menangani," jelas Jajang.
"Tapi kapan Ceu Desi akan segera diamankan, Pak RT? Kapan? Gimana kalau seandainya Ceu Desi malah melawan?" tanya salah satu warga.
"Tenang ... tenang ...!" Harsa buka suara. "Maka dari itulah di dalam rumah Ceu Desi sekarang ada orang-orang yang bisa menangani makhluk halus. Mereka yang akan menangani kuntilanak peliharaan Ceu Desi dan ritual pesugihannya, baru setelah itu Ceu Desi bisa diamankan oleh Polisi dan dibawa pergi dari desa kita. Jadi, sabar dulu. Jangan terburu-buru."
"Kalau kuntilanak peliharaannya Ceu Desi mengundang kuntilanak-kuntilanak lain bagaimana, Juragan? Apakah desa kita nantinya enggak akan jadi angker?"
"Insya Allah enggak akan jadi angker, Ceu Ida. 'Kan kuntilanaknya juga lagi dicoba untuk diusir dari sini sama mereka yang sedang bekerja. Jangan paranoid duluan, atuh. Jangan nakut-nakutin warga lain," jawab Dudung.
"Muhun, Ceu Ida. Sok, kurang-kurangin hobi nyebar isu teh. Jangan dramatis disaat orang lagi serius menunggu hasil," tambah Jajang, yang tahu persis sifat salah satu warganya.
Hasbi dan Rijad tidak berani ikut campur. Mereka jelas bukan bagian dari desa itu, sehingga untuk menenangkan para warga yang sedang bergejolak bukanlah ranah wilayah yang bisa mereka tangani. Keduanya kini hanya bisa menunggu kabar dari ketujuh anggota tim yang sedang mendekat ke rumah milik Desi.
"HI ... HI-HI-HI-HI-HI-HI-HI-HI-HI!!!"
Para warga yang gaduh sejak tadi mendadak diam kembali dengan kompak, saat suara tawa kuntilanak itu kembali terdengar. Suaranya begitu nyaring dan sepertinya sangat dekat. Beberapa orang mulai menoleh ke kanan dan kiri, untuk memastikan kalau kuntilanak itu tidak ada di samping mereka.
"Duh, semakin merinding saya, Pak Rijad," bisik Harsa.
"Mau bagaimana lagi, Pak Harsa. Tidak ada jalan lain bagi kita selain membiarkan ketujuh orang tadi menghadapi kuntilanak itu. Kuntilanak itu sangat agresif, jadi hanya orang-orang tertentu yang bisa menghadapinya," balas Rijad, ikut berbisik.
"Insya Allah semuanya akan baik-baik saja. Sebaiknya kita sama-sama berdoa agar semuanya lancar sampai tuntas malam ini," saran Hasbi, berharap bisa sedikit menenangkan orang-orang di sekitarnya.
Di belakang rumah Desi, Nadin dan Karel telah bersiaga lebih dulu daripada Iqbal. Iqbal masih menatap ke arah tampah sesajen, meski keadannya sudah tak berbentuk lagi.
"Nyai Murti enggak pernah bilang padaku, kalau kuntilanak sangat suka disajikan hal-hal yang ada hubungannya dengan buah segar. Untuk apa jeruk dan nanas ada di atas tampah sesajen? Aneh sekali rasanya saat aku melihat kedua buah itu," batin Iqbal.
"Energi negatifnya mulai mendekat, guys," ujar Nadin, menyampaikan apa yang dirasakannya saat itu.
"Dari arah mana, Nad?" Karel bersiaga.
"Katakan saja, My Princess. Dari sudut manapun datangnya energi negatif kuntilanak itu, Insya Allah aku akan berusaha menghadapinya," janji Iqbal.
Nadin kembali mencari titik paling tepat dari energi negatif yang ia rasakan. Kali ini ia tidak mau kehilangan titik tersebut, sebagaimana yang ia alami di kandang ayam menjelang maghrib tadi. Itu adalah momen paling menyebalkan bagi Nadin, karena untuk pertama kalinya ia kehilangan energi negatif dari radarnya.
"Di sana!" tunjuk Nadin, saat melihat wujud kuntilanak yang baru saja melayang turun dari atap.
Pandangan mata Karel dan Iqbal pun tertuju pada titik yang Nadin tunjuk. Kuntilanak itu benar-benar terpancing turun dari atap, setelah Iqbal mengobrak-abrik tampah sesajen di belakang rumah milik Desi. Apa yang Iqbal lakukan sudah jelas bukan pekerjaan sembarangan. Mengobrak-abrik sesajen untuk kuntilanak pastilah pernah ia lakukan sebelumnya, sehingga tahu bagaimana cara memancing kuntilanak itu dengan tepat.
"HI ... HI-HI-HI-HI-HI-HI-HI-HI-HI!!!"
Tatapan kuntilanak itu terarah pada tampah sesajen yang sudah morat-marit tak beraturan. Dia tampak marah, sehingga tidak segan menunjukkan taring-taringnya ketika tahu bahwa itu adalah hasil perbuatan manusia. Tapi meskipun sedang marah besar, kuntilanak itu tetap saja menjaga jarak dari Iqbal. Rasa takutnya terhadap Iqbal sama sekali tidak bisa disembunyikan. Kuntilanak itu ingin menunjukkan murkanya pada Karel dan Nadin, namun harus terhalang oleh keberadaan Iqbal di antara mereka.
"Kenapa diam terus di situ, hah? Ayo, maju ke sini cepat! Jangan lari-lari lagi, atau aku akan membuat sarangmu di rumah ini hancur lebur seperti wadah sesajen itu!" ancam Iqbal, tak main-main.
Kuntilanak itu membuka mulutnya lebar-lebar. Taring-taringnya terlihat mengkilap, seakan sedang mencoba memperlihatkan sisi menakutkannya pada Iqbal. Sayang, Iqbal sama sekali tidak takut. Yang terjadi justru sebaliknya, yaitu kuntilanak di hadapan mereka kembali menjaga jarak agar tak perlu berhadapan dengan Iqbal seperti tadi.
"Kamu sama sekali tidak terlihat menyeramkan! Kamu lebih terlihat ... jelek!" ejek Iqbal, seraya tersenyum miring.
Kuntilanak itu pun mencoba memberikan serangan ke arah Iqbal. Karel dan Nadin segera mengeluarkan energi mereka untuk melindungi Iqbal, namun sayang hal itu terlambat dilakukan oleh mereka. Iqbal berhasil dilewati oleh kuntilanak itu dengan mudah. Namun pemuda itu tetap berdiri di tempatnya dan sama sekali tidak terjadi apa pun. Justru, kuntilanak yang mencoba menyerangnya kini mengalami hal yang sama sekali tak pernah mereka duga.
"Eh? Itu kuntilanaknya kenapa, ya?" heran Iqbal.
"Barusan kami terlambat melingkupi kamu menggunakan energi dari diri kami, Bal," ujar Karel.
"Ya. Dan seharusnya kamu barusan sudah terkena serangan dari kuntilanak itu," tambah Nadin, usai mengamati diri Iqbal yang masih baik-baik saja.
"Lah, terus ... kenapa malah dia yang menggelepar begitu, kalau memang seharusnya aku yang terkena serangan? Tadi aku enggak sempat ngapa-ngapain juga, loh. Aku kalem-kalem saja di sini sejak tadi. Bergeser pun, tidak," Iqbal semakin heran.
Karel dan Nadin saling pandang selama beberapa saat, sebelum akhirnya Karel terpikirkan sesuatu.
"Mm ... mungkin yang terjadi adalah kebalikannya, Bal. Dia yang justru terkena serangannya sendiri, saat dia nekat ingin menyerang kamu," jawab Karel, mencoba menafsirkan keadaan sebisanya.
* * *
KAMU SEDANG MEMBACA
KUNTILANAK
Terror[COMPLETED] Seri Cerita SETAN Bagian 4 Perjalanan kali itu berbeda dari biasanya. Iqbal merasa ada yang begitu mengganjal dalam hatinya selama perjalanan berlangsung. Sejak mendengar soal permintaan tolong klien dari Ruby, sesuatu seakan langsung me...
