17. Tidak Terjadi Apapun

586 37 0
                                        

Kevin menghentikan mobilnya di depan hotel tempat Luna menginap. Malam sudah semakin larut, dan suasana kota London terasa tenang, seakan hanya ada mereka berdua di dunia ini. Cahaya lampu jalan yang lembut memantul ke dalam mobil, menciptakan suasana hangat dan intim di antara mereka.

Luna menoleh ke Kevin dengan senyum kecil.

"Terima kasih untuk hari ini. Aku benar-benar menikmati waktuku."

Kevin menatapnya dengan lembut, dan balas tersenyum. "Aku juga. Terima kasih karena sudah menyempatkan waktumu untuk bertemu denganku, di tengah semua kesibukanmu."

Keduanya saling terdiam sejenak, membiarkan kata-kata itu meresap di udara. Jantung Luna berdebar cepat, dan ia bisa merasakan hal yang sama dari Kevin. Ada sesuatu di antara mereka yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sesuatu yang hanya bisa dirasakan.

"Besok aku akan kembali ke Indonesia," ujar Luna akhirnya, memecah keheningan. "Kabari saat kamu tiba di Bali. Jangan sampai lupa." Sambungnya.

Kevin mengangguk, matanya tidak lepas dari Luna.
"Aku pasti akan mengabari. Dan... aku harap kamu tetap cemerlang seperti biasa."

Luna tersenyum, meski ada sesuatu di dalam hatinya yang terasa campur aduk. Ia tahu mereka akan kembali ke kehidupan masing-masing, Kevin dengan karier sepak bolanya, dan dirinya dengan dunia hiburan. Namun, malam ini terasa berbeda, seperti ada sesuatu yang mengubah cara pandangnya terhadap Kevin.

Di dalam mobil yang sedikit redup, suasana tiba-tiba terasa lebih intens. Hening, namun penuh dengan perasaan yang tak terucap. Kedua jantung mereka berdetak cepat, merasakan ketegangan yang lembut tetapi kuat. Mungkin ini adalah awal dari sesuatu yang lebih, sesuatu yang belum sepenuhnya mereka pahami.

Kevin perlahan memandang Luna, dan untuk sesaat, dunia seakan berhenti berputar. Di antara mereka, ada perasaan yang menggantung, sebuah romansa yang tumbuh tanpa pernah mereka rencanakan. Apakah ini cinta? Atau hanya sebuah momen yang tercipta karena kebersamaan yang singkat?

Luna tersenyum lagi, kali ini dengan sedikit gugup. "Selamat malam, Kevin."

Kevin membalas senyum itu, namun dalam suaranya ada kehangatan yang mendalam. "Selamat malam, Luna. Sampai jumpa."

Luna keluar dari mobil dengan perasaan tak menentu, dan ketika pintu mobil ditutup, ia merasa seperti meninggalkan sesuatu di dalam sana, sebagian dari dirinya yang tak bisa ia pahami. Keduanya mungkin belum mengartikan sepenuhnya apa yang terjadi malam ini, tetapi mereka tahu bahwa ada sesuatu yang berbeda di antara mereka.

--

Luna baru saja memasuki kamar hotelnya ketika langsung disambut oleh Dina, asistennya, dan Maria, makeup artist yang sudah menjadi seperti sahabatnya. Suara mereka riuh, penuh antusiasme, membuat Luna langsung tersenyum meski sedikit kewalahan.

"Kamu sudah pulang? Astaga, cepat ceritakan!" Dina langsung menyerbu dengan pertanyaan. "Apa kalian berciuman?"

Luna terkekeh, lalu melepas jaketnya dan meletakkannya di sofa. "Kami hanya ngobrol... serius, tidak lebih."

Dina dan Maria langsung bereaksi dengan tatapan kecewa, hampir serempak.
"Hah, masa sih?!" Dina memeluk bantal, seolah sedang mendramatisasi kekecewaannya.

"Luna, ini Kevin Blake! Gimana bisa tidak terjadi apa-apa? Apa kamu lupa dia itu atlit internasional yang digilai ribuan wanita?"

Luna tersenyum, berusaha tetap tenang meski pipinya sedikit merona. "Ya, aku tahu siapa Kevin. Tapi itu bukan berarti kita harus... you know," jawab Luna, membela diri.

Maria menatap Luna penuh skeptisisme, lalu mencondongkan tubuhnya lebih dekat.
"Tunggu, tunggu... kalian cuma ngobrol? Tidak ada momen intens di tengah malam dengan lampu-lampu London yang redup? Luna, come on!"

Luna hanya tertawa lagi, mengangkat bahu.
"Ya, ada sedikit momen hening... tapi itu saja. Tidak ada yang terjadi seperti di film."

Dina langsung memegang kepala, berpura-pura frustrasi.
"Luna, kamu ini terlalu polos! Kalau aku jadi kamu, sudah dari tadi momen itu jadi adegan romantis!"

Luna tertawa lebih keras, tapi tak bisa mengelak bahwa pikirannya juga melayang kembali ke momen-momen itu, ketika mereka berdua duduk di dalam mobil, suasana begitu hening dan intens.
"Ya, aku tahu. Tapi nggak semua pertemuan harus berakhir dengan adegan film romantis, kan?"

Maria menghela napas panjang, lalu ikut-ikutan menggoda.
"Iya sih, tapi kesempatan itu... wah, sayang banget kalau nggak ada 'sesuatu'. Aku tahu kamu ini aktris, tapi please, jangan bawa akting terlalu serius di kehidupan nyata!"

Dina tiba-tiba duduk tegak, seolah baru mendapat ide cemerlang. "Tunggu, kamu benar-benar yakin nggak ada tanda-tanda Kevin tertarik sama kamu? Maksudku, dia mengajaknya jalan-jalan di London! Pasti ada kode tersembunyi!"

Luna mengerutkan kening, mencoba mengingat lebih banyak.
"Ya... Kevin memang baik, dia bilang akan mengajakku liburan ke Bali nanti. Tapi, itu mungkin hanya basa-basi."

Dina mengangkat alis tinggi.
"Liburan ke Bali? Basa-basi apanya, Lun?! Itu jelas kode keras! Bali itu romantis, kalian akan di pantai, menikmati matahari terbenam... ahh, kebayang nggak sih?" Dina mendramatisir suasana, membuat Luna semakin tergoda untuk membayangkannya.

Maria mengangguk penuh semangat. "Bener banget! Dia pasti tertarik sama kamu. Nggak mungkin dia ngajak liburan kalau cuma mau berteman!"

Luna, meski berusaha tetap rasional, tidak bisa menyangkal bahwa ide itu membuatnya tersenyum sedikit lebih lebar dari biasanya.

"Ya, mungkin kamu benar... tapi aku nggak mau terlalu berharap juga."

Dina tertawa kecil, lalu melempar bantal ke arah Luna.
"Dasar kamu ini, terlalu merendah! Lihat saja, nanti kita akan lihat foto kalian di Bali, berdua di atas pasir putih, dan kamu akan kembali ke sini dengan cerita yang berbeda!"

Luna hanya bisa menggelengkan kepala sambil tertawa, tetapi dalam hatinya, sedikit keinginan mulai muncul. Mungkin, mungkin saja Dina dan Maria benar, ada sesuatu antara dirinya dan Kevin, sesuatu yang lebih dari sekadar obrolan biasa.

HIDDEN FLAMES[END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang