Pagi terakhir sebelum Kevin pergi, suasana apartemen Luna terasa sunyi, seolah-olah hari itu datang lebih cepat dari yang mereka harapkan. Kevin sibuk mengemas barang-barangnya, mempersiapkan diri untuk kembali ke klubnya. Sementara itu, Luna duduk di sofa, memandangnya dengan perasaan campur aduk, antara ingin menghentikannya dan memahami bahwa ini adalah bagian dari kehidupan Kevin.
“Kau yakin sudah mengemas semuanya?” tanya Luna, mencoba mengalihkan perasaan berat di dadanya.
Kevin berhenti sejenak, menatap Luna dengan senyum lembut.
“Aku rasa begitu, tapi aku selalu bisa meninggalkan sesuatu di sini kan? Agar aku punya alasan untuk kembali lebih cepat.”
Luna tersenyum kecil mendengar candaan Kevin, tapi jauh di dalam hatinya, ia tahu akan merindukan setiap momen bersama. Mereka telah melewatkan seminggu yang penuh kenangan, dari memasak bersama, tertawa hingga tertidur di pelukan satu sama lain. Kini, pagi itu terasa seperti ujian terakhir sebelum mereka kembali menjalani kehidupan masing-masing.
Kevin mendekati Luna, duduk di sampingnya, lalu meraih tangan Luna dengan lembut.
“Aku akan segera kembali, Luna. Ini bukan perpisahan, hanya sementara.”
Luna mengangguk pelan. “Aku tahu. Aku hanya berharap waktu bisa berjalan sedikit lebih lambat hari ini.”
Kevin menarik Luna ke dalam pelukannya, mencium puncak kepalanya dengan penuh kehangatan. “Percayalah, setiap detik yang berlalu hanya membuatku ingin lebih cepat kembali padamu.”
Mereka menikmati keheningan itu bersama, seolah-olah berusaha menyimpan setiap detik dalam kenangan sebelum waktu memaksa mereka untuk berpisah.
Luna memeluk Kevin lebih erat, menempelkan pipinya ke dadanya yang bidang, merasakan detak jantungnya yang teratur. Setiap detakan itu seolah mengingatkan Luna akan cinta yang baru mereka ungkapkan, cinta yang tumbuh di antara tawa dan canda, dalam setiap momen yang mereka habiskan bersama.
“Kevin,” Luna berbisik, suaranya serak. “Aku tidak tahu bagaimana rasanya jika kamu pergi. Rasanya seperti ada bagian dari diriku yang hilang.”
Kevin mengusap punggungnya lembut. “Aku juga merasakannya, Luna. Tapi ingat, ini hanya sementara. Kita akan bertemu lagi.” Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan keduanya. “Ini tidak akan lama. Dan aku akan menghubungimu setiap saat.”
Luna mengangguk, meskipun hatinya berjuang melawan rasa takut kehilangan. Dia ingin mempercayai Kevin, tetapi ada sedikit rasa cemas di dalam dirinya. “Aku hanya… berharap semuanya baik-baik saja.”
Kevin mengangkat dagu Luna, memaksa mereka bertatapan.
“Semua akan baik-baik saja. Kita berdua saling mencintai, dan itu yang terpenting. Kita akan melalui ini bersama.”
Setelah beberapa saat berpelukan, mereka akhirnya melepaskan diri. Kevin kembali ke tasnya, melanjutkan mengemas barang-barangnya. Luna hanya bisa memandangi Kevin, merindukan kehadirannya sebelum dia pergi.
“Aku akan memasak makan malam terakhir kita sebelum kamu pergi,” kata Luna, berusaha menciptakan suasana yang lebih ceria.
“Bagus, aku tidak sabar!” Kevin tersenyum, semangatnya kembali. “Apa yang akan kamu masak?”
“Pasta favoritmu,” jawab Luna, berusaha untuk tersenyum.
“Mmm, pasti enak,” Kevin bersyukur. “Tapi aku ingin membantumu.”
“Jangan! Hari ini kamu hanya perlu bersantai,” Luna menyela, lalu tertawa. “Lagipula, aku tidak ingin kamu kembali ke klub dengan aroma bawang dan tomat.”
Kevin tertawa dan melanjutkan kemasannya. Di dalam hati, Luna merasa senang bisa melakukan sesuatu untuk Kevin sebelum ia pergi, meskipun tidak bisa menghindari rasa sedih yang menyelimutinya.
Setelah menyelesaikan pekerjaan di dapur, Luna kembali ke ruang tamu. Melihat Kevin yang sedang memeriksa ponselnya, Luna merasa ada yang tidak beres. Sementara Kevin tertawa dan membalas pesan, Luna merasakan sedikit kecemasan menjalar di dalam dirinya.
“Hey, ada apa?” tanya Luna, mencoba menjaga nada suaranya tetap santai.
“Cuma teman dari klub,” jawab Kevin, mengangkat pandangan ke arah Luna. “Mereka bertanya kapan aku kembali.”
Luna hanya mengangguk, berusaha tidak menunjukkan bahwa hatinya berdebar. Dia tahu Kevin memiliki kehidupan yang padat, dan terkadang rasa cemburu mengganggunya.
Saat makan malam tiba, mereka menikmati pasta yang Luna buat, tertawa dan berbagi cerita. Namun, di dalam hati masing-masing, ada rasa kerinduan yang mulai tumbuh, sebuah kesadaran bahwa mereka akan terpisah untuk sementara waktu.
“Luna,” Kevin memecah keheningan, menatap mata Luna dengan serius. “Aku akan merindukanmu lebih dari apapun.”
Luna tersenyum, tetapi air mata mulai menggenang di matanya. “Aku juga, Kevin. Hati-hati di sana, ya?”
Kevin meraih tangan Luna, mencengkeramnya lembut. “Selalu. Kita akan melalui ini. Setelah aku kembali, kita akan merayakan dengan cara yang luar biasa.”
Mereka saling tersenyum, tetapi keduanya tahu bahwa perpisahan itu akan menjadi tantangan tersendiri. Malam itu, mereka duduk berdua, saling berbagi rasa cinta yang tak terucapkan, dan mengingat setiap detik yang telah mereka habiskan bersama.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIDDEN FLAMES[END]✓
DragosteLuna Bailey terjebak dalam skandal lama yang menyeruak ke publik. Tuduhan anonim bahwa ia pernah menjadi pembully viral, diperparah oleh sorotan fans fanatik Joe, idol pria yang menjadi lawan mainnya dalam film terbaru. Di tengah krisis, masa lalu L...
![HIDDEN FLAMES[END]✓](https://img.wattpad.com/cover/379088752-64-k993666.jpg)