31.Kejutan Dari Tuhan

466 29 0
                                        

Setelah Kevin kembali ke Inggris untuk menjalani latihan dan pertandingan di klubnya, kehidupan Luna di Jakarta terasa kosong. Apartemen yang dulunya dipenuhi tawa dan canda kini hanya menjadi tempat sepi di mana bayangan Kevin terus menghantuinya. Meskipun kesibukan syuting iklan dan rutinitas sehari-harinya membantu mengalihkan pikiran, hatinya tetap merindukan kehadiran Kevin.

Di sisi lain, Kevin juga merasakan kehilangan yang sama. Di lapangan, dia bermain dengan semangat, tetapi di setiap momen tenang, wajah Luna selalu muncul di pikirannya. Meskipun ia mencoba untuk fokus pada latihan, saat-saat teringat senyum Luna atau suara tawanya membuatnya sulit berkonsentrasi. Ia menghabiskan waktu di luar lapangan dengan berbicara pada teman-teman satu timnya, menceritakan tentang Luna dan bagaimana hubungan mereka telah mengubah cara pandangnya tentang cinta.

Satu bulan berlalu sejak perpisahan mereka di Jakarta. Luna dan Kevin menjalani hubungan jarak jauh dengan segala tantangannya. Mereka berkomunikasi setiap hari, saling mengirim pesan atau menelepon saat ada waktu senggang. Namun, semakin hari, Luna merasa ada yang berubah dalam dirinya.
Dia sering merasa lelah, mood-nya tidak stabil, dan lebih sensitif dari biasanya.

Dina, asistennya, mulai memperhatikan perubahan ini. "Luna, kamu kelihatan pucat dan tidak bersemangat belakangan ini. Kamu sakit?" tanyanya suatu pagi saat mereka sedang bersiap untuk sebuah pemotretan iklan.

Luna hanya tersenyum kecil, mencoba menenangkan Dina. "nggak, Mungkin cuma kecapean aja," jawabnya sambil melanjutkan makeup-nya.

Sebuah kekhawatiran yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai menguasai pikirannya.
Sudah sebulan lebih ia tidak datang bulan, dan hal ini membuatnya semakin gelisah.
Akhirnya, setelah beberapa hari ragu, Luna memutuskan untuk membeli alat test kehamilan secara diam-diam.

Di pagi hari saat ia sendirian di apartemennya, Luna berdiri dengan cemas di depan kamar mandi. Tangannya gemetar saat memegang alat test kehamilan itu. Setelah beberapa menit yang terasa seperti berjam-jam, hasilnya keluar, dua garis.

Luna terdiam, matanya terpaku pada alat test tersebut. "Dua garis," bisiknya dengan suara serak.

Perasaannya bercampur aduk. Bingung, panik, sedih, dan takut. Bagaimana dia bisa memberitahu Kevin? Apakah Kevin akan senang atau malah merasa terbebani? Luna merasa sendirian dengan semua ini. Dia belum siap menjadi seorang ibu, tetapi kenyataannya sekarang tak bisa dihindari.

Luna duduk di sudut tempat tidurnya, memandangi alat tes kehamilan yang kini tergeletak di atas meja. Dunia terasa runtuh di sekelilingnya. Apa yang harus ia lakukan? Semua terasa membingungkan. Pikirannya langsung melayang pada karier yang sudah ia bangun selama bertahun-tahun. Selama ini, ia selalu fokus pada setiap proyek dan perannya di layar kaca. Bagaimana jika kehamilan ini menghancurkan segalanya?

Belum lagi soal Kevin. Bagaimana ia bisa memberi tahu Kevin di tengah jadwal latihan yang padat dan tekanan pertandingan yang sedang ia hadapi? Kevin sedang fokus meraih kemenangan untuk klubnya di liga besar. Luna tak ingin menjadi beban di tengah semua itu.

"Sekarang bukan waktu yang tepat," pikirnya dengan penuh kebimbangan. Ia terlalu takut untuk memberi tahu Kevin. Bagaimana jika Kevin tak siap? Atau lebih buruk lagi, bagaimana jika hubungan mereka tak bisa bertahan dengan situasi yang baru ini?

Luna memeluk dirinya sendiri, mencoba menenangkan kepanikannya. Setiap rencana hidup yang telah ia susun kini terasa buyar. Dunianya terbalik dalam sekejap. Kariernya, mimpinya, dan hubungan yang masih belum jelas dengan Kevin, semuanya kini terasa di ambang kehancuran.




HIDDEN FLAMES[END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang