Kevin sedang bersantai di apartemennya di Inggris, menikmati momen tenang setelah seharian sibuk dengan sesi latihan pemulihannya. Jam menunjukkan pukul delapan malam, saat teleponnya tiba-tiba berdering. Di layar terlihat nama ibunya.
Dengan senyum tipis, Kevin mengangkat panggilan itu. Namun, senyumannya segera memudar ketika mendengar nada suara ibunya yang serius dan sedikit mendesak.
"Kevin," suara ibunya terdengar tegas, "kamu sudah tahu berita tentang Luna yang hamil, kan?"
Kevin terdiam sejenak, mengernyitkan dahi. "Hamil?" tanyanya perlahan, berusaha mencerna maksud pertanyaan ibunya.
"Ya!!" lanjut ibunya,
"ada foto Luna dengan perut yang sangat besar. Mungkin usia kehamilannya sudah sembilan bulan. Apakah anak itu… anakmu?"
Pikiran Kevin mulai berkecamuk. Ia menelan ludah, masih berusaha memahami apa yang baru saja ia dengar.
"Mama, tunggu... Luna hamil?" ucapnya, tidak mampu menutupi keterkejutannya.
Suara ibunya kembali, lebih tajam,
"Jadi kamu sungguh tidak tau? jika anak itu anakmu, bagaimana mungkin kamu membiarkan Luna melewatinya sendirian!!!, tapi kalau anak itu bukan anak mu, apakah artinya Luna berselingkuh..???"
Pertanyaan itu mengguncang Kevin. Bayangan masa lalu mereka berdua, saat-saat terakhir bersama Luna sebelum hubungan mereka kandas, seolah berputar kembali dalam benaknya. Jika benar Luna hamil, dan anak itu anaknya, berarti Luna telah melalui semuanya sendirian. Namun, jika bukan... Kevin menggelengkan kepalanya, tidak sanggup memikirkan kemungkinan itu.
Seketika, Kevin langsung menutup telepon, tidak bisa lagi mendengarkan lebih lanjut. Ia segera membuka media sosial dan mencari berita yang dimaksud ibunya.
Berita itu muncul di layar ponselnya, lengkap dengan foto Luna yang sedang berbelanja di sebuah supermarket, mengenakan gaun longgar yang jelas menunjukkan perutnya yang besar. Kevin memandangi foto itu dengan hati yang bergejolak.
"Bagaimana ini bisa terjadi?" gumamnya, tangan menggenggam ponsel dengan erat, seakan ingin meraih jawaban dari foto tersebut. Dia merasa hatinya tersayat, tercampur antara rasa sakit dan penyesalan yang dalam. Gagasan bahwa mungkin saja Luna telah menjalani kehamilan ini sendirian membuat dadanya terasa sesak.
Dia mengingat saat terakhir mereka bersama. Momen-momen penuh tawa, pelukan, dan janji-janji kecil yang mereka buat. Mereka memang pernah berpisah, tetapi tidak pernah menyangka bahwa kenyataan sekeras ini yang menantinya di ujung hubungan mereka.
Dengan berat hati dan pikiran yang kacau, Kevin membiarkan dirinya larut dalam kesedihan, menimbang-nimbang langkah apa yang harus ia ambil selanjutnya.
Kevin mencoba menelepon Luna berulang kali, tetapi sambungan selalu berakhir tanpa jawaban. Dia merasa ada sesuatu yang salah, mungkin Luna sudah memblokirnya.
Namun, Kevin tidak kehabisan akal. Ia mencari kontak Dini, asisten Luna, yang pernah ia temui. Untunglah saat itu Luna memberikan nomer Dini untuk berjaga-jaga saat Luna sibuk dan sulit di hubungi.
Setelah beberapa saat, Dini akhirnya menjawab panggilan itu, terdengar sedikit kebingungan.
“Halo? Maaf Ini siapa ya?”
Kevin menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri,
“Ini Kevin. Kevin Blake.”
Suasana di ujung telepon mendadak sunyi. Dini tampak tak siap mendengar nama itu, suaranya terdengar gugup ketika akhirnya berbicara.
“Oh, Kevin… ada apa ya? Kenapa kamu menghubungi saya?”
Kevin tak mau berbasa-basi.
“Dini, aku hanya butuh kejujuran. Aku lihat berita tentang Luna, dan… aku tahu itu anakku,”
Dini terdiam lama. Kevin bisa mendengar suara napasnya yang berusaha tenang, tapi nada gugupnya tidak bisa disembunyikan.
“Aku… nggak tahu apa-apa, Kevin.”
Kevin merasa frustrasi. Suaranya penuh dengan permohonan ketika ia melanjutkan,
“Dini, tolong sampaikan ini pada Luna. Kalau aku berhak tahu. Aku ingin ada di sampingnya, apa pun yang terjadi.”
Dini masih bungkam, namun Kevin tahu pesannya sudah tersampaikan.
“Aku mohon Dini,” tambahnya dengan suara pelan, “Beritahu Luna kalau aku akan menunggu. Dan aku akan bertanggung jawab.”
Setelah hening sesaat, Dini hanya bisa mengucapkan pelan,
“Baik, aku akan sampaikan.”
Kevin mengakhiri panggilan itu dengan harapan besar, namun tetap dihantui perasaan tak menentu.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIDDEN FLAMES[END]✓
RomantikLuna Bailey terjebak dalam skandal lama yang menyeruak ke publik. Tuduhan anonim bahwa ia pernah menjadi pembully viral, diperparah oleh sorotan fans fanatik Joe, idol pria yang menjadi lawan mainnya dalam film terbaru. Di tengah krisis, masa lalu L...
![HIDDEN FLAMES[END]✓](https://img.wattpad.com/cover/379088752-64-k993666.jpg)