Setelah kembali ke villa, suasana yang tadinya penuh tawa di pesta berubah menjadi lebih hening. Kevin dan Luna berjalan menuju kamar masing-masing, namun aura di antara mereka terasa sedikit tegang. Luna berusaha keras menyembunyikan rasa cemburu yang mengusik hatinya sejak pertemuan dengan Stella di pesta tadi. Ia mencoba terlihat biasa saja, namun Kevin tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiran Luna.
Di kamar, Kevin mendekati Luna yang sedang duduk di balkon, menatap pemandangan malam Bali yang tenang. Angin laut berhembus lembut, mengibaskan rambut Luna. Ia memandang langit penuh bintang, namun pikirannya masih tertuju pada Stella.
"Luna, ada yang ingin kau bicarakan?" Kevin bertanya dengan nada lembut, mencoba menebak perasaan Luna.
Luna tersenyum tipis, menatapnya sekilas sebelum kembali memandang jauh ke cakrawala. "Tidak, semuanya baik-baik saja," jawabnya, meski nada suaranya menyiratkan hal sebaliknya.
Kevin tidak menyerah begitu saja. Ia berjongkok di depan Luna, menatap wajahnya penuh perhatian. "Aku tahu ada yang mengganggumu. Ini soal Stella, ya?"
Luna menggigit bibirnya, menunduk sejenak sebelum menghela napas panjang. "Aku tahu semua orang punya masa lalu, termasuk aku. Tapi tadi… saat dia bicara, entah kenapa, aku merasa... aneh."
Kevin mengulurkan tangan dan menyentuh lembut tangan Luna. "Aku bisa mengerti perasaanmu. Tapi yang harus kau tahu, Luna, masa laluku dengan Stella sudah lama berlalu. Tidak ada apa-apa lagi antara kami."
Luna menatap Kevin, mencari kejujuran di matanya. "Kau yakin? Karena... dia tadi seolah-olah masih merasa ada sesuatu di antara kalian."
Kevin menggelengkan kepala. "Tidak ada apa-apa lagi. Apa yang kurasakan sekarang hanya untukmu." Ia berkata dengan tegas, namun tetap lembut.
Namun, Luna masih diliputi keraguan. "Aku percaya padamu, Kevin, tapi aku hanya... penasaran. Apa yang terjadi di antara kalian dulu?"
Kevin tersenyum tipis, seolah mengerti kekhawatiran Luna. "Hubungan kami sudah lama berakhir. Stella adalah bagian dari hidupku di masa lalu, tapi kau, Luna, adalah masa kini dan masa depan. Yang terjadi di antara kami tidak akan pernah mengubah perasaanku padamu."
Luna menunduk, merasakan sentuhan Kevin di tangannya yang memberi ketenangan. Namun, jauh di dalam hatinya, ada rasa penasaran yang sulit diabaikan. Mungkin bukan soal Stella, tetapi tentang bagaimana ia dan Kevin akan menghadapi masa depan bersama, dengan semua ketidakpastian yang ada.
Kevin mendekatkan wajahnya ke Luna, menatapnya dalam-dalam sebelum berbisik lembut, "Aku ingin kau tahu, Luna. Hanya kaulah yang ada di pikiranku sekarang. Dan aku akan terus membuktikan itu padamu."
Luna merasa hatinya melunak. Ia tersenyum dan menggenggam tangan Kevin lebih erat. Meski rasa cemburu masih sedikit mengusik, kehadiran Kevin yang tulus membuatnya merasa lebih tenang.
Dengan gerakan lembut, Kevin menarik Luna ke dalam pelukannya. Mereka duduk bersama di balkon, memandangi malam yang indah. Angin laut terus berhembus lembut, membawa keheningan yang menenangkan, seolah memberi mereka ruang untuk saling mengerti lebih dalam. Momen itu terasa indah, penuh keintiman yang tak membutuhkan kata-kata.
Dalam diam, Luna tahu bahwa Kevin serius dengan ucapannya. Namun, dia juga sadar bahwa hubungan ini tidak hanya tentang cinta, tetapi juga tentang kepercayaan. Dan malam ini, Luna memutuskan untuk percaya, memberi kesempatan pada dirinya dan Kevin untuk menikmati kebersamaan mereka tanpa bayangan masa lalu yang mengusik.
Luna duduk di sofa, menghela napas panjang sebelum menatap Kevin. Suasana malam yang tenang masih menyelimuti mereka setelah perbincangan tentang Stella. Dengan nada lembut, Luna berkata, "Kevin, aku harus memberitahumu sesuatu. Lusa aku harus kembali ke Jakarta. Ada jadwal pemotretan untuk majalah yang sudah dijadwalkan sejak lama."
Kevin mengangkat alis, sedikit terkejut namun berusaha tetap tenang. "Jadi, lusa? Begitu cepat?" tanya Kevin, meskipun ia sudah menduga hari itu akan datang.
Luna mengangguk pelan. "Iya, tapi aku ingin kamu tahu ini bukan karena aku marah atau tidak nyaman setelah tadi di pesta. Aku benar-benar harus kembali untuk pekerjaan. Kalau bukan karena itu, aku ingin lebih lama di sini."
Kevin tersenyum, mengerti. Ia menatap Luna dengan tatapan hangat dan penuh pengertian. "Aku mengerti, Luna. Pekerjaanmu penting. Dan aku senang kamu masih sempat datang ke sini. Tapi jangan khawatir, besok aku akan memastikan kita menghabiskan waktu yang menyenangkan sebelum kamu pulang."
Luna merasa lega melihat Kevin tidak tersinggung atau salah paham. Ia menghargai betapa pengertian Kevin terhadap komitmen pekerjaannya. "Besok kamu mau ajak aku ke mana?" tanya Luna dengan senyum penasaran.
Kevin berpikir sejenak, kemudian berkata, "Aku punya beberapa tempat yang ingin aku tunjukkan padamu. Tempat-tempat di Bali yang mungkin belum pernah kamu kunjungi, tempat yang lebih tenang, jauh dari keramaian."
Luna mengangguk, antusias. "Sounds perfect. Aku percaya pilihanmu."
Kevin menatapnya dalam-dalam, lalu berbisik lembut, "Aku hanya ingin memastikan bahwa setiap momen yang kita habiskan bersama di sini menjadi kenangan indah sebelum kamu kembali ke Jakarta."
Luna tersenyum manis, hatinya hangat mendengar kata-kata Kevin. Meskipun ia harus kembali ke rutinitasnya di Jakarta, momen di Bali bersama Kevin akan menjadi memori berharga yang selalu ia kenang.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIDDEN FLAMES[END]✓
RomansaLuna Bailey terjebak dalam skandal lama yang menyeruak ke publik. Tuduhan anonim bahwa ia pernah menjadi pembully viral, diperparah oleh sorotan fans fanatik Joe, idol pria yang menjadi lawan mainnya dalam film terbaru. Di tengah krisis, masa lalu L...
![HIDDEN FLAMES[END]✓](https://img.wattpad.com/cover/379088752-64-k993666.jpg)