26. Cinta Sendirian

438 29 0
                                        

Setelah sesi pemotretan yang melelahkan, Luna duduk santai menikmati segelas es teh manis yang menyegarkan. Senyumnya tak bisa lepas dari wajahnya, membayangkan hasil pemotretan yang akan segera dipublikasikan di majalah Bazar. Namun, suasana tenangnya tiba-tiba buyar ketika asistennya, Dina, berlari menghampirinya dengan wajah cemas.

"Luna, ada yang ingin aku tunjukkan," ucap Dina dengan napas tersengal. Ia menggenggam ponselnya erat-erat, terlihat ragu untuk menunjukkan layar.

Luna mengernyitkan dahi. "Ada apa?"

Dina akhirnya menyerahkan ponselnya dengan perlahan. "Ini… lihat ini."

Luna mengambil ponsel dan melihat layar, di mana sebuah unggahan dari salah satu selebgram ternama muncul. Foto tersebut menampilkan Kevin sedang berpose ceria di pantai bersama Renata Gilsa, seorang influencer terkenal. Keterangan di bawah foto itu berbunyi,

"Bersantai di Bali bersama @KevinBlake. Terima kasih sudah membuat liburanku semakin seru!"

Mata Luna melebar, dan jantungnya berdegup kencang. Rasa cemburu menyergapnya, namun ia berusaha untuk tetap tenang. "Apa… apa mereka benar-benar bersama?" pikirnya, berusaha meyakinkan diri bahwa ini hanyalah sebuah kebetulan. Namun, kepalanya dipenuhi berbagai pertanyaan yang mengganggu.

Dina melihat reaksi Luna yang berubah.

"Luna, kamu baik-baik saja?"

"Ya, aku… aku hanya butuh waktu sejenak," jawab Luna, berusaha menutupi kegelisahannya. Gengsi dan rasa ingin tahunya berperang dalam benaknya. Ia tidak berani bertanya langsung pada Kevin, apalagi setelah semua momen indah yang mereka habiskan bersama. Belum ada kejelasan antara mereka, dan sekarang semuanya terasa rumit.

"Kamu tidak perlu memaksakan diri," Dina berkata lembut. "Jika ada yang mengganggumu, lebih baik kamu bicarakan."

"Tapi aku tidak ingin terlihat cemburu atau posesif," Luna menjawab, suaranya terdengar ragu. "Dia punya hidupnya sendiri, dan aku tidak punya hak untuk mempertanyakannya."

Dina mengangguk. "Tapi kamu juga berhak tahu. Bagaimana kalau kamu bilang kamu ingin berbicara dengan Kevin? Mungkin dia bisa menjelaskan semuanya."

"Ya, mungkin," jawab Luna, namun keraguan masih menghantui pikirannya. "Tapi bagaimana jika dia hanya menganggapku teman biasa? Aku tidak bisa mengganggu hidupnya dengan pertanyaan ini."

Setelah melihat unggahan itu, rasa marah, takut, kecewa, dan harapan Luna berkecamuk dalam pikirannya. Setiap emosi saling beradu, menciptakan badai yang sulit dijinakkan.

Luna menatap layar ponsel yang masih menampilkan foto Kevin dan Renata dengan senyum senyuman di wajah mereka. Rasa marah mulai menghanguskan harapannya. Mengapa dia tidak memberitahuku jika dia memiliki hubungan dengan orang lain? pikirnya. Luna merasa dikhianati, meski mereka tidak pernah secara resmi menjelaskan hubungan mereka.

“Dia bisa saja memberitahuku, kan?” gumam Luna pada dirinya sendiri. Namun, di sudut hatinya, dia merasa bodoh karena berharap lebih dari seorang pria yang jelas-jelas memiliki kehidupan di luar dirinya. Ketakutan juga mulai merayap masuk; ia takut kehilangan momen-momen indah yang mereka habiskan bersama. Rasa sakit dan cemburu melambung tinggi, mengisi ruang di dalam dadanya.

“Apa selama ini hanya aku yang jatuh cinta?” pikirnya lagi, menyalahkan dirinya sendiri. Luna merutuki kepalanya yang penuh dengan kekhawatiran. Rasa kecewa ini terasa menyakitkan. Dia sudah berusaha keras untuk menjaga perasaannya tetap dalam batasan, tetapi semuanya seolah runtuh dalam sekejap.

Dan di antara semua perasaannya itu, harapan masih bertahan. Harapan bahwa semua ini hanyalah kebetulan. Mungkin Kevin hanya berkumpul dengan teman-teman, atau foto itu mungkin sudah lama diambil dan baru diunggah sekarang. Tapi kenapa dia tidak memberitahuku? Pikiran itu menghantui Luna, membuatnya semakin terpuruk.

HIDDEN FLAMES[END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang