Luna duduk di balkon rumah orang tuanya di Seattle, menatap langit sore yang berwarna jingga keemasan. Udara segar berhembus lembut, membawa aroma hujan yang masih tertinggal di dedaunan. Seattle, dengan udaranya yang sejuk dan suasananya yang tenang, memberinya perasaan damai yang sangat dibutuhkannya. Terlalu banyak yang telah terjadi dalam hidupnya, dan kini, untuk pertama kalinya sejak semua kekacauan ini dimulai, ia merasa bisa bernapas lega.
Beberapa hari yang lalu, ketika ia tiba di depan pintu rumah keluarganya tanpa pemberitahuan, kedua orang tuanya, Michael dan Sari, terkejut namun bahagia melihatnya. Ibunya segera memeluknya erat, seolah tidak ingin melepaskannya lagi.
"Luna, sayang... kenapa tiba-tiba datang tanpa kabar?" tanya ibunya lembut dengan sorot mata penuh tanya.
Luna hanya tersenyum lelah, mengusap bahu ibunya yang masih memeluknya erat. “Aku hanya butuh waktu untuk sendiri, Bu. Di sini... rasanya lebih tenang.”
Michael, ayah Luna yang sedikit lebih pendiam, hanya mengangguk penuh pengertian sambil menepuk punggung putrinya. “Kau selalu disambut di sini, Luna. Ini juga rumahmu.”
Malam itu, orang tuanya merasakan keheningan dalam diri Luna, sesuatu yang berbeda dari biasanya. Meskipun Luna berusaha tersenyum dan tampak baik-baik saja, sebagai orang tua, mereka bisa merasakan kekhawatiran di hatinya.
Beberapa hari berlalu, dan Sari, ibu Luna, mulai menyadari ada sesuatu yang lebih dari sekadar kelelahan emosional dalam diri putrinya. Luna sering terlihat mual di pagi hari, wajahnya tampak lebih pucat, dan ia selalu tampak kelelahan. Pada suatu pagi, ketika mereka sarapan bersama, Sari memandang Luna dengan mata yang sedikit menyelidik.
"Luna, kau tidak tampak seperti biasanya," kata ibunya lembut, mencoba membuka percakapan tanpa membuat Luna merasa terpojok. "Apa ada sesuatu yang ingin kau ceritakan?”
Luna diam sejenak, menunduk sambil mengaduk kopinya tanpa benar-benar meminumnya. “Aku baik-baik saja, Bu. Hanya… sedikit lelah,” jawabnya pelan.
Ibunya menghela napas, masih belum puas dengan jawaban itu, tetapi memilih untuk memberinya waktu. Namun, keesokan harinya, ketika Luna tampak lebih lesu dan memilih tidak sarapan, Sari tidak bisa menahan lagi kekhawatirannya.
"Luna… apakah kau hamil?" tanyanya perlahan, suaranya penuh kelembutan namun juga menyiratkan keingintahuan yang mendalam.
Luna terdiam, air matanya menggenang di sudut matanya. Pertanyaan itu seperti menghancurkan benteng yang selama ini ia bangun untuk menutupi rasa takutnya. Akhirnya, ia mengangguk pelan, membiarkan air matanya mengalir.
Melihat hal itu, Sari segera beranjak dari kursinya, mendekati Luna dan menariknya ke dalam pelukan hangat. “Sayang… kenapa tidak mengatakan apa-apa pada kami?” tanya ibunya dengan suara lembut, jari-jarinya membelai rambut Luna dengan penuh kasih.
Luna menggeleng lemah. “Aku… tidak ingin merepotkan kalian. Aku juga… tidak yakin apa yang harus kulakukan.”
Michael, yang mendengar percakapan dari ruang tamu, mendekat dan duduk di sebelah mereka. “Luna,” panggilnya dengan suara lembut namun tegas, “kami selalu di sini untukmu, tak peduli apa pun. Kau tidak perlu menghadapi ini sendirian.”
Luna mengusap air matanya dan menatap kedua orang tuanya dengan tatapan penuh rasa syukur, namun juga ada kekhawatiran dalam matanya.
“Ayah, Ibu… kalian tidak kecewa padaku?” tanyanya dengan suara pelan, hampir berbisik.
Michael tersenyum tipis, menggeleng. “Tentu saja tidak, Luna. Kami bangga padamu. Mempertahankan anak ini adalah keputusan besar, dan kau sudah membuat pilihan yang luar biasa.”
Sari ikut mengangguk setuju, memegang tangan Luna dengan erat. “Kami malah sangat bahagia. Sebentar lagi kami akan menjadi kakek-nenek. Ini… adalah anugerah, Luna.”
Perkataan itu membuat Luna merasa lebih ringan. Namun, ada satu hal yang masih menghantui pikirannya. Ia tahu, pada akhirnya, ia harus berbicara tentang Kevin. Tetapi untuk saat ini, ia belum siap.
Melihat keraguan di mata putrinya, Sari bertanya dengan hati-hati, “Lalu, bagaimana dengan ayah dari bayi ini, Luna?”
Luna menunduk, menghindari tatapan ibunya. Ia merasa sulit untuk menjawab pertanyaan itu, merasa berat untuk mengungkapkan perasaannya yang bercampur aduk tentang Kevin. Dalam keheningan yang panjang itu, Michael dan Sari saling bertukar pandang, menyadari bahwa putrinya mungkin belum siap untuk berbagi tentang hal itu.
“Ayah anak ini… dia tahu?” tanya Sari sekali lagi, dengan suara yang penuh kelembutan.
Luna menggeleng pelan. “Tidak, Bu. Aku belum memberi tahunya. Aku… tidak ingin membuatnya merasa terbebani. Ini adalah keputusanku, dan aku sudah memutuskan untuk membesarkan anak ini… sendiri,” ucapnya dengan suara yang bergetar namun tegas.
Michael menghela napas, lalu meraih tangan Luna dengan hangat. “Kami di sini, sayang. Kau tidak sendirian dalam hal ini. Apa pun yang kau putuskan, kami mendukungmu.”
Sari mengusap bahu Luna dengan penuh kasih, lalu berbisik lembut, “Kau kuat, Luna. Kami percaya kau akan menjadi ibu yang hebat bagi anak ini. Dan jika suatu hari nanti kau merasa siap, ceritakanlah padanya. Bukan karena kau membutuhkan bantuannya, tetapi karena anak ini juga memiliki hak untuk tahu.”
Luna hanya mengangguk pelan, menguatkan hatinya. Dukungan dan cinta dari kedua orang tuanya memberi kekuatan yang selama ini ia cari. Meskipun masih banyak ketakutan dan kebimbangan dalam hatinya, Luna merasa bahwa ia telah membuat keputusan yang benar. Kini, ia hanya perlu menjalani hidup barunya dengan penuh keberanian, menghadapi setiap tantangan yang ada untuk dirinya dan bayi kecil yang tumbuh dalam dirinya.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIDDEN FLAMES[END]✓
RomanceLuna Bailey terjebak dalam skandal lama yang menyeruak ke publik. Tuduhan anonim bahwa ia pernah menjadi pembully viral, diperparah oleh sorotan fans fanatik Joe, idol pria yang menjadi lawan mainnya dalam film terbaru. Di tengah krisis, masa lalu L...
![HIDDEN FLAMES[END]✓](https://img.wattpad.com/cover/379088752-64-k993666.jpg)