Kevin mengangkat tubuh mungil Aletha Brielle Blake dengan hati yang penuh haru. Saat tangan-tangannya yang besar dan kokoh memeluk sosok kecil itu, ia merasakan perasaan luar biasa yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Matanya berkaca-kaca, dan seketika air mata mulai menetes. Melihat wajah mungil anaknya yang cantik, dengan mata indah yang tampak begitu mirip dengannya, Kevin hampir tak percaya bahwa keajaiban kecil ini adalah bagian dari dirinya.
"Luna…"
bisiknya dengan suara yang gemetar, menatap penuh kasih pada Luna yang tersenyum lelah dari tempat tidurnya.
"kamu luar biasa. Terima kasih karena sudah melahirkan putri kita."
Luna menatapnya, air matanya berlinang, merasakan kehangatan yang selama ini ia rindukan. Mereka berdua terdiam, terhubung oleh perasaan mendalam yang menyelimuti mereka, sebuah kebahagiaan yang tak terlukiskan di tengah kehadiran keluarga kecil mereka yang baru terbentuk.
Di tengah ruangan itu, Luna memperhatikan Kevin yang tampak begitu penuh kasih sayang saat menggendong Aletha. Ia tak bisa menahan senyum kecil yang tumbuh di bibirnya, tapi dalam hati, ada rasa ragu yang tak kunjung sirna. Perasaan itu mengendap-endap, memunculkan pertanyaan yang belum bisa ia jawab:
"Apakah hubungan mereka kini sekadar sebagai orang tua Aletha? Atau mungkinkah ada lebih dari itu?"
Namun, ketidakpastian itu kembali menghantuinya. Ia teringat saat Kevin tak ada di sisinya selama masa kehamilan. Apakah semua yang mereka lakukan hanya berakhir pada komitmen sebagai orang tua untuk Aletha? Ataukah ada tempat di mana perasaan mereka juga berhak untuk kembali diperhitungkan?
"Bagaimana kita bisa menjalani ini?" tanya Luna pelan, hampir seperti bisikan yang hanya terdengar oleh dirinya sendiri.
Kevin menangkap keraguan di matanya, dan ia menghela napas panjang. .
"Luna," ucapnya dengan lembut,
"aku ingin ada di sini, untukmu, untuk Aletha. Bukan sekadar sebagai ayah. Aku ingin menjadi bagian dari hidup kalian… jika kau mengizinkan."
Luna menatap ke arah Kevin, tapi masih ada keraguan yang terlukis jelas di wajahnya.
“Apakah ini karena Aletha, atau...?”
Kevin menggenggam tangannya lebih erat, seakan tahu persis apa yang ia rasakan.
“Luna, aku ada di sini bukan hanya karena Aletha. Aku di sini karena aku menyadari kalau kalian adalah hal yang paling berarti dalam hidupku sekarang. Aletha mungkin mempertemukan kita lagi, tapi kehadiranku di sini adalah untukmu Luna, Aku merindukanmu,”
Luna tak dapat menahan gejolak perasaannya. Ia ingin mempercayai Kevin, tapi bayang-bayang ketidakpastian masih menyelimutinya. Mereka sama-sama diam, tenggelam dalam pikiran masing-masing, sementara Aletha tidur pulas dalam dekapan ibunya.
Luna tersenyum lembut saat menatap Aletha yang tidur di dalam pelukan Kevin.
Wajah mungil bayi itu tampak damai, seolah tidak ada yang bisa mengusiknya dari mimpi indah.
"Kau tahu, Kevin," ucap Luna pelan sambil menatap dalam ke matanya,
"kau akan menjadi cinta pertama Aletha."
Kevin terpaku sejenak, tak menyangka mendengar kata-kata itu dari Luna. Matanya mulai berkaca-kaca, merasakan kebahagiaan sekaligus tanggung jawab besar. Ia tersenyum hangat, lalu membelai lembut kepala Aletha yang masih terlelap.
“Aku berjanji, aku akan selalu ada untuknya,” jawab Kevin dengan suara yang hampir bergetar.
“Aku akan menjadi ayah yang bisa ia banggakan dan andalkan.”
Luna tersenyum lagi, hatinya terasa lebih tenang. Mungkin belum ada jawaban pasti tentang masa depan mereka berdua, tapi ia tahu satu hal bahwa Kevin akan selalu menjadi sosok yang dicintai dan dihormati oleh Aletha. Dan itu sudah cukup baginya untuk saat ini.
Di dalam ruangan yang hening, mereka berdua berpegangan tangan, merasakan kehangatan yang tumbuh dalam kebersamaan mereka, seiring dengan cinta yang mulai mereka bangun untuk putri kecil mereka.
Kevin meletakan Aletha di ranjangnya. Kevin menghampiri Luna dan menggenggam tangan Luna dengan lembut, menatap matanya dengan kesungguhan yang jarang Luna lihat sebelumnya. Ia menarik napas dalam, berusaha menenangkan debar di dadanya, sebelum akhirnya berkata,
“Luna… aku ingin kita menjadi lebih dari sekadar orang tua bagi Aletha.”
Luna terdiam, menatap Kevin dengan pandangan penuh tanya. Ia tahu betapa berat perjalanan mereka sejauh ini, dan kehadiran Aletha telah membuat segalanya berubah. Namun, ada keraguan dalam hatinya, apakah mereka siap untuk melangkah lebih jauh?
“Aletha pantas tumbuh dalam keluarga yang utuh,” lanjut Kevin, suaranya penuh harapan. “Aku ingin kita menjadi keluarga, bukan hanya sebagai ayah dan ibu untuknya… tapi juga sebagai pasangan untuk satu sama lain.”
Luna terhenyak, hatinya bergetar mendengar permintaan tulus dari Kevin.
“Kevin…,” bisiknya pelan, matanya mulai berkaca-kaca. “Aku masih takut… takut akan banyak hal. Apakah kita benar-benar bisa melupakan masa lalu?”
Kevin mengangguk mantap, “Luna aku tau kamu pasti ragu, Aku juga takut mengecewakanmu lagi, Tapi Aletha mengubah segalanya untukku. Setiap kali melihatnya, aku hanya ingin memberikan yang terbaik untuknya… dan untukmu. Karena itu, aku ingin kita mencoba.”
Luna tak mampu berkata apa-apa lagi, hanya merasakan genggaman hangat Kevin di tangannya.
“Aku… aku akan mencoba, Kevin,” akhirnya ia berbisik. “Aku tak tahu bagaimana kelanjutannya, tapi untuk Aletha… aku akan berusaha.”
Dengan lembut, Kevin merengkuh Luna dalam pelukannya, membisikkan janji-janji manis tentang masa depan yang mereka bangun bersama. Di dalam hati, mereka tahu bahwa perjalanan ini tak akan mudah, tapi demi cinta untuk Aletha dan mereka sendiri, mereka siap menghadapi apapun yang datang di hadapan mereka.
KAMU SEDANG MEMBACA
HIDDEN FLAMES[END]✓
RomanceLuna Bailey terjebak dalam skandal lama yang menyeruak ke publik. Tuduhan anonim bahwa ia pernah menjadi pembully viral, diperparah oleh sorotan fans fanatik Joe, idol pria yang menjadi lawan mainnya dalam film terbaru. Di tengah krisis, masa lalu L...
![HIDDEN FLAMES[END]✓](https://img.wattpad.com/cover/379088752-64-k993666.jpg)