33. Saling Menyakiti

498 31 0
                                        

Di sisi lain, Kevin sedang berusaha keras membawa klubnya lolos kualifikasi UEFA Champions League, salah satu turnamen sepak bola paling bergengsi di Eropa. Pertandingan demi pertandingan dilalui dengan penuh semangat dan kerja keras, namun di tengah-tengah pertandingan yang menentukan, Kevin mengalami cedera parah pada kakinya.

Saat cedera terjadi, Kevin langsung merasakan sakit yang luar biasa. Ia mencoba untuk tetap berdiri, tetapi rasa sakitnya terlalu hebat. Para medis langsung membawanya keluar lapangan, dan Kevin hanya bisa menatap lapangan dengan frustrasi dan kecewa, merasa tidak berdaya.

Setelah menjalani pemeriksaan medis, Kevin diberitahu bahwa ia harus istirahat selama beberapa bulan untuk pemulihan penuh. Mendengar kabar ini, Kevin merasa marah pada dirinya sendiri. Semua kerja kerasnya, ambisinya untuk membawa klub lolos kualifikasi, seolah runtuh begitu saja. Ia merasa gagal, bukan hanya pada dirinya, tetapi juga pada tim yang mengandalkan kehadirannya di lapangan.

Malam itu, di kamarnya yang sunyi, Kevin memikirkan semuanya. Ia selalu berusaha memberikan yang terbaik di setiap pertandingan, dan kini ia harus menghadapi kenyataan bahwa pemulihan menjadi prioritas utamanya. Sementara itu, pikirannya mulai melayang ke Luna, mengingat waktu-waktu indah yang mereka habiskan bersama, dan entah kenapa rasa rindu yang mendalam mulai merayapi dirinya.

Hubungan Luna dan Kevin memang masih berlanjut, namun ada banyak hal yang berubah sejak mereka berpisah untuk menjalani kehidupan masing-masing. Jarak yang jauh, perbedaan waktu antara Indonesia dan Inggris, serta kesibukan mereka yang padat membuat komunikasi semakin sulit. Setiap kali mereka berusaha meluangkan waktu untuk berbicara, entah salah satu dari mereka terlalu lelah atau waktu tak pernah tepat.

Luna, yang kini menyimpan rahasia besar tentang kehamilannya, merasa emosinya semakin tidak stabil. Perubahan hormon membuatnya sering merasa cemas, takut, dan bingung. Namun, Luna memutuskan untuk menahan semuanya sendiri. Ia tidak ingin mengganggu Kevin yang sedang fokus pada pemulihan cederanya dan berusaha kembali ke lapangan. Luna takut memberi tahu Kevin akan membuat beban Kevin bertambah.

Semua perasaan ini membuat Luna semakin tertekan. Dia mulai sering marah dan sedih tanpa sebab yang jelas. Pada satu malam, ketika Kevin meneleponnya, percakapan yang awalnya baik-baik saja tiba-tiba berubah menjadi pertengkaran. Kevin, yang juga merasa frustasi dengan cedera dan jadwal yang padat, akhirnya tidak bisa menahan diri.

"Apa yang sebenarnya terjadi denganmu, Luna? Setiap kali kita bicara, kamu selalu terdengar marah atau kesal," ujar Kevin dengan nada kesal.

Luna mencoba menahan air matanya, namun akhirnya emosinya meledak. "Aku lelah, Kevin! Kau pikir mudah bagiku menjalani semua ini sendirian? Jarak, kesibukan, semuanya membuatku merasa kita semakin jauh. Kau sibuk dengan duniamu, dan aku... aku juga tidak tahu harus bagaimana lagi!" ujar Luna dengan suara bergetar.

Kevin terdiam, merasa tersudut namun tidak mengerti mengapa semuanya menjadi begitu rumit. Ia pun merasakan jarak itu, tetapi ia tidak tahu bagaimana mengatasinya.

Kevin yang tengah frustasi dan tidak stabil akibat cederanya, tanpa sadar melontarkan kata-kata yang menusuk hati Luna. "Apakah kamu ingin berpisah saja, Luna? Kalau kamu merasa tertekan dengan semua ini, aku tidak mau jadi bebanmu," ucap Kevin, suaranya terdengar berat, namun tegas.

Luna terkejut mendengar ucapan itu. Matanya membesar, seakan-akan dunia di sekelilingnya berhenti. Sesak yang sudah lama ia rasakan akhirnya memuncak. "Apa?" gumam Luna, suaranya hampir tak terdengar. "Kamu pikir aku mengeluh karena ingin meninggalkanmu?"

Kevin menelan ludah, bingung dengan apa yang baru saja ia katakan. "Aku hanya berpikir... aku tak ingin membuatmu semakin tertekan. Kalau ini terlalu berat buatmu, mungkin-"

"Terlalu berat buatku?" potong Luna dengan nada getir. "Kevin, aku... aku sudah mencoba untuk mengerti semua hal ini. Tapi kamu malah menyuruhku berpisah? Kamu tidak tahu betapa aku mencoba bertahan." Luna tidak bisa lagi menahan air matanya, membiarkan emosinya yang selama ini ia pendam meledak.

Kevin terdiam, menyadari bahwa apa yang ia ucapkan tidak seharusnya keluar. Di balik rasa frustasinya, ia hanya ingin Luna tidak terbebani oleh masalahnya, namun sekarang ia melihat betapa dalamnya luka yang sudah mereka berdua alami.

"Luna, aku tidak bermaksud seperti itu..." ujar Kevin pelan, tapi kata-kata itu terasa terlambat.

Luna menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum berbicara. "Mungkin... kita memang harus berpisah, Kevin. Semua ini terlalu sulit. Jarak, waktu, kesibukanmu... aku tidak tahu apakah aku bisa terus begini."

Di seberang, Kevin terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya suaranya terdengar tenang. "Jadi, itu yang kamu inginkan, Luna? Berpisah?"

Luna merasakan jantungnya berdebar lebih cepat. Sebenarnya, jauh di dalam hatinya, ia berharap Kevin akan membujuknya, mempertahankannya. Tapi nada suaranya dingin, seakan-akan dia menyerah begitu saja. "Mungkin... iya. Kita sepertinya tidak berjalan ke arah yang sama," jawab Luna, suaranya bergetar sedikit.

Kevin menghela napas, terdengar berat dan lelah. "Kalau itu yang membuatmu bahagia, aku tidak akan memaksa. Aku juga tidak ingin kamu merasa terbebani."

Jawaban itu menusuk hati Luna. Dia berharap Kevin akan mengatakan sebaliknya, berharap Kevin akan berkata bahwa dia tidak ingin kehilangan dirinya. Namun, dia hanya merasa kecewa. "Jadi, kamu tidak akan berusaha memperbaiki ini?" tanyanya pelan, berharap ada sedikit harapan.

"Tentu aku ingin semuanya baik," jawab Kevin dengan tenang. "Kalau kamu merasa perpisahan ini yang terbaik, aku akan menghormati keputusanmu."

Luna menggigit bibirnya, menahan perasaan sakit yang tiba-tiba meluap. "Baiklah, kalau begitu... mungkin ini memang yang terbaik."

Kevin terdiam, dan Luna pun tak punya lagi kata-kata. Setelah keheningan yang menyakitkan, Luna akhirnya berkata dengan nada lirih, "Selamat tinggal, Kevin."

Dia menutup telepon, air mata mulai mengalir di pipinya. Kevin tidak mempertahankannya, dan itulah yang paling menyakitkan.

HIDDEN FLAMES[END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang