18. Berlibur Bersama

663 37 0
                                        

Hari itu sangat cerah di Bali. Matahari bersinar terik, menciptakan suasana hangat dan menyegarkan. Setibanya di bandara, Luna merasakan hembusan angin tropis yang membawa aroma laut, membuatnya merasa lega bisa meninggalkan kesibukan kota sejenak.

Kevin menjemputnya di bandara dengan senyum yang menawan, Ia langsung melambaikan tangan dan berjalan mendekatinya.
Kevin mengenakan kemeja linen putih santai dan kacamata hitam yang membuatnya tampak sempurna di bawah terik matahari Bali. "Selamat datang di Bali," ucap Kevin lembut, sambil membukakan pintu mobil untuk Luna.

Perjalanan menuju villa keluarga Kevin tak memakan waktu lama. Villa itu terletak di tepi pantai, dengan pemandangan laut Bali yang memukau. Setibanya di sana, Kevin langsung mengajak Luna berkeliling, menunjukkan berbagai sudut villa yang mewah namun terasa hangat. Salah satu daya tarik utama villa itu adalah balkon kamar Luna, yang langsung menghadap laut.

Luna berdiri di balkon, menatap ombak yang berdebur pelan di pantai. Angin laut menyapu wajahnya, membawa ketenangan yang sudah lama ia rindukan.

"Ini tempat yang luar biasa indah," katanya, mengagumi pemandangan.

"Aku harap kamu suka kamar ini. Pemandangannya indah, tapi rasanya masih kalah indah dibandingkan orang yang akan tidur di sini," ucap Kevin sambil tersenyum menggoda.

Luna merasa pipinya memanas. "Kamu selalu bisa membuat segalanya terdengar seperti rayuan."

Kevin mendekat, matanya serius namun hangat. "Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku, Luna. Aku senang kamu bisa datang, aku tahu kamu pasti sibuk."

Luna tersenyum lembut, menatap keluar jendela menuju pantai yang membentang luas. "Aku sudah meluangkan waktu, dan ini pasti akan jadi pengalaman yang menyenangkan."

Kevin tersenyum semakin lebar. "Bagus. Aku sudah menyiapkan beberapa rencana untuk kita. Tapi sebelum itu, kamu istirahat dulu. Kalau ada yang kamu butuhkan, panggil saja aku."

Luna mengangguk, menikmati suasana nyaman yang tercipta di antara mereka. "Terima kasih, Kevin. Dan... aku juga senang bisa ada di sini."

"Jangan terlalu banyak berterima kasih, Luna. Aku masih punya banyak hal yang ingin aku tunjukkan di Bali," jawab Kevin sambil menatapnya dalam-dalam, lalu melangkah keluar, meninggalkan Luna dengan senyuman yang tak bisa ia sembunyikan.

Kini, Luna tak bisa lagi menyembunyikan rona merah di pipinya. Sejak tiba di villa, Kevin terus membuatnya terkejut, termasuk sekarang—saat ia memasak untuknya di dapur terbuka villa yang langsung menghadap laut. Luna duduk di meja, menyaksikan punggung Kevin yang tegap dan berotot saat ia dengan luwes menyiapkan makanan. Angin laut yang lembut menerpa wajahnya, tetapi yang lebih membuat Luna terpana adalah Kevin.

Sambil berusaha menyembunyikan rasa kagumnya, Luna akhirnya bertanya, "Jadi, kamu bisa masak juga, ya?"

Kevin menoleh sebentar, tersenyum lebar dengan penuh kebanggaan. "Tentu saja. Apa kamu kira aku cuma jago di lapangan bola?"

Luna terkekeh, "Aku pikir kamu lebih suka makan di luar atau memesan makanan."

Kevin kembali mengaduk masakannya sambil menambahkan beberapa bumbu, kemudian menjawab dengan santai, "Sesekali, aku suka menantang diriku sendiri. Memasak adalah salah satu cara untuk itu."

Luna tertawa pelan, "Oh, jadi ini tantangan buatmu?"

Kevin mengangguk mantap, lalu menoleh lagi dengan tatapan penuh percaya diri. "Tentu saja. Tapi kali ini, tantangan terbesarku adalah memastikan kamu menikmati makan malam ini."

Luna tertawa kecil, tapi di balik tawa itu, pikirannya melayang. Seperti apa sebenarnya perasaan Kevin terhadapnya? Apakah ia juga merasakan ketegangan aneh yang terus hadir di antara mereka? Luna berusaha mencari tanda, tetapi Kevin tampak begitu santai, seolah semuanya biasa saja.

Namun, semakin lama mereka bersama, semakin banyak tanda-tanda kecil yang membuat Luna semakin penasaran. Tatapan Kevin yang sesekali tampak lebih lembut dari yang ia duga, caranya berbicara yang seolah ingin menyampaikan lebih dari sekadar kata-kata. Tapi tetap saja, Kevin tidak pernah berkata langsung, membuat Luna semakin bingung dengan perasaannya sendiri.

Meskipun suasana di antara mereka terasa akrab, Luna tetap tidak bisa mengabaikan pertanyaan yang terus menggelitik pikirannya—apakah ini sekadar pertemanan, atau ada sesuatu yang lebih, sesuatu yang belum bisa Kevin ungkapkan atau mungkin bahkan ia sendiri belum menyadarinya?

Kevin menaruh piring hasil masakannya di hadapan Luna dengan senyum puas. Aromanya menggoda, dan penampilannya pun tak kalah dari restoran mewah. Luna tak bisa menyembunyikan kekagumannya, menatap piring itu sejenak sebelum beralih menatap Kevin.

"Kamu serius? Ini kelihatannya seperti hidangan restoran bintang lima," ujar Luna, setengah bercanda, setengah terkesan.

Kevin tertawa kecil, lalu duduk di hadapannya. "Cobalah dulu, baru kamu bisa bilang seberapa hebat masakanku."

Luna mengambil garpu dan mulai menyantap hidangan di depannya. Rasa yang kaya dan tekstur yang sempurna membuatnya terkejut. “Wow... aku nggak nyangka. Kamu benar-benar bisa masak.”

Kevin tersenyum lebih lebar. "Tentu saja. Aku nggak mau kamu pulang dari sini dengan kecewa."

Luna menelan makanannya dan menatap Kevin, hatinya mulai bertanya-tanya lagi. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi ia menahan diri. Ia hanya tersenyum lembut sambil berkata, "Aku nggak kecewa. Jauh dari itu."

Kevin memandangnya sejenak, mata mereka bertemu untuk beberapa detik yang terasa lebih lama dari biasanya. Meski tidak ada kata-kata yang diucapkan, Luna merasakan sesuatu yang tak terucapkan. Tapi lagi-lagi, Kevin hanya tersenyum dan melanjutkan makan, tanpa memberi petunjuk lebih.

Di tengah suasana hangat itu, Luna semakin penasaran. Apa yang sebenarnya dipikirkan Kevin tentang dirinya? Apakah ada sesuatu di balik sikap santainya, atau hanya pertemanan yang tulus? Kevin selalu membuatnya merasa nyaman, tetapi pada saat yang sama, membuat hatinya tak menentu, selalu bertanya-tanya.

HIDDEN FLAMES[END]✓Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang