Akhirnya, setelah perjuangan yang melelahkan, mereka tiba di Kalimati. Pemandangan di depan mereka sungguh menakjubkan, namun awan gelap di atas kepala mereka menjadi pengingat bahwa waktu tidak berpihak kepada mereka.
Aldi, yang dari tadi paling bersemangat, kini terlihat kelelahan. Dia menjatuhkan ranselnya di dekat tempat perkemahan dengan tawa kecil.
"Akhirnya, Kalimati! Tempat istirahat yang udah ditunggu-tunggu," katanya dengan nafas terengah-engah, lalu duduk di tanah sambil membuka sepatunya.
Kayla langsung melemparkan pandangannya ke sekeliling, takjub dengan keindahan alam yang mereka saksikan.
"Lihat! Matahari terbenamnya indah banget!" serunya sambil mengeluarkan ponselnya untuk memotret pemandangan.
Kalimati adalah sebuah tempat perkemahan yang terletak di lereng Gunung Semeru, dikenal sebagai pos terakhir sebelum pendakian menuju puncak Mahameru. Dikelilingi oleh hutan cemara yang rimbun dan padang rumput luas, suasana di Kalimati terasa sangat sejuk, terutama saat malam mulai turun. Pohon-pohon cemara menjulang tinggi, memberikan keteduhan dan perlindungan dari angin gunung yang terkadang datang dengan kencang.
Kalimati Di malam hari, terdapat kabut tipis kerap turun, menyelimuti area perkemahan, menciptakan atmosfer dingin yang menusuk tulang. Di kejauhan, puncak Mahameru terlihat gagah, seolah-olah mengawasi setiap pendaki yang datang dan pergi.
Malam semakin larut saat mereka tiba di Kalimati, pos terakhir sebelum puncak Mahameru. Udara terasa dingin menggigit, membuat semua orang terbungkus rapat dalam jaket tebal mereka.
Api unggun yang mereka nyalakan di tengah area perkemahan memberikan sedikit kehangatan, menemani makan malam mereka namun keheningan malam mulai terasa berat. Di balik langit malam yang dipenuhi bintang, kelelahan mulai menyelimuti tubuh mereka setelah perjalanan panjang.
setelah sekesai makan malam mereka semua mulai masuk ke tenda masing-masing.kecuali dengan rania yang ingin duduk sendirian di dekat api unggun, mencoba menhangatkan tangannya yang mulai dingin.
"jangan lama lama ran,diluar dingin"teriak kayla dari dalam tenda
rania hanya mengangguk ,Pikirannya melayang jauh, menikmati ketenangan yang hanya sesekali terganggu oleh suara angin malam yang berhembus pelan. Namun, keheningan itu perlahan pecah ketika Arga tiba-tiba duduk di sebelahnya.
"Rania," suara Arga terdengar tenang, namun ada sesuatu yang berbeda dalam nada bicaranya malam itu.
Rania menoleh, sedikit terkejut dengan kedekatan Arga.
"Ada apa, ga?" tanyanya dengan nada lembut, mencoba mencari tahu apa yang ada di pikiran pria itu.
Arga menatap lurus ke depan, seakan mencari kata-kata yang tepat. Untuk sesaat, ia terdiam sebelum akhirnya berbicara.
"aku nggak bisa ran terus menyimpan ini... aku harus bilang sesuatu yang sudah lama aku rasain."
Rania terdiam, merasakan jantungnya berdegup kencang tanpa ia sadari. Suasana di antara mereka tiba-tiba terasa berubah.
Arga, yang biasanya tampak ceria , kini tampak berbeda. Ada ketegangan yang tersirat di wajahnya.
"Aku suka sama kamu, Rania," ucap Arga akhirnya, suaranya tegas namun terdengar pelan di tengah sepinya malam. "Aku nggak peduli berapa lama kita kenal atau apa pun yang terjadi... Aku cuma tahu kalau perasaan ini nyata."
Rania tertegun, jantungnya berdegup semakin kencang. Dia tak tahu harus berkata apa, karena pernyataan itu begitu mendadak. Namun, sebelum dia sempat merespons, suara langkah cepat terdengar di belakang mereka.
Amara, yang ternyata mendengar semuanya dari kejauhan, tiba-tiba muncul. Wajahnya memerah, bukan karena dingin, tapi karena kemarahan dan kesedihan yang bercampur jadi satu. Tanpa menunggu Rania atau Arga berkata apa pun, amara melangakah pergi namun tanganya di cekal berhasil oleh rania.
"marr dengerin aku dulu"
~~
KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Mahameru
Teen FictionEnam sahabat memutuskan untuk melakukan pendakian menuju puncak Mahameru, gunung tertinggi di Pulau Jawa. Masing-masing dari mereka memiliki alasan yang berbeda untuk mengambil langkah berani ini. Dalam perjalanan menuju puncak, mereka tidak hanya m...
