"Ibu manggil kalian berempat kesini karena ulang tahun sekolah sebentar lagi, jadi dari sekarang ibu mau bentuk band," wanita itu menatap mereka bergantian.
"Serius band bu?" beo Nabila yang duduk diapit oleh Salma dan Roni.
Bu Dewi mengangguk, "Iya, kita kan ditunjuk buat tampilin acara dan kepsek mau ada band buat ngeramein. Makanya ibu bentuk band dari kelas 11 aja dan menurut ibu kalian yang paling mumpuni," jelasnya. "Kelas 12 juga udah mulai fokus ujian, kelas 10 masih baru jadi ibu pilih kalian berempat."
Melihat raut mereka yang seolah menolak, bu Dewi kembali berucap, "Ibu gak minta jawaban kalian, mau siap atau gak siap ya harus siap."
Terdengar helaan napas pasrah.
"Jadi mau apa nama bandnya, Four Circle?" tanya bu Dewi.
"Jangan itu bu," sanggah Paul membuat seulas senyum Bu Dewi terpancar karena akhirnya ada anak didiknya yang mau menanggapi.
"Apa dong, Music Geng?" sarannya lagi.
"Enggak bu, terlalu klasik."
"Terus apa? Kalian ada ide gak? Siapa tau kalo kalian yang kasih nama jadi tambah semangat," katanya.
Paul terdiam sejenak, otaknya ikut berpikir, tiba-tiba sebuah ide terlintas dibenaknya. "Panaroma, gimana?"
"Apaan tuh?" sahut Roni mengangkat sebelah alisnya.
"Paul, Nabila, Rony, Salma," jelasnya.
"Keren, gue setuju!" seru Roni bersemangat.
"Kalian?" Paul menatap kedua gadis itu.
"Aku juga setuju!" ujar Nabila.
"Sal?" semuanya menatap Salma.
Gadis itu hanya mengangguk sebagai balasan, sedang tak mau banyak bicara karena moodnya yang rusak. Melihat itu, Roni jadi merasa bersalah pasti semua masalah berasal darinya.
Bu Dewi tersenyum lebar, ia mengangkat tangannya membentuk kepalan diudara. "Panaroma?"
Mereka mengikuti gerakan bu Dewi. "Yes, yes, yes!" riuh tepuk tangan terdengar.
"Semangat guys H-7!"
***
Tak terasa jam pelajaran terakhir telah selesai, mendengar bel pulang semua murid sontak segera membereskan alat tulis mereka, sama halnya dengan Nadin dan teman barunya.
Ketiga gadis itu keluar dari kelas menuju parkiran, kebetulan sang ayah tengah libur membuat Nadin bisa leluasa menggunakan motornya. "Mampir dulu ke rumah gue yuk," ucap Mira.
"Ayoklah tapi beli dulu seblak, pengen yang pedes nih," sahut Nadin sembari menaiki motornya.
Mereka mengangguk.
Saat Nadin ingin meraih helm, seseorang menahan pergerakannya. "Nad, bisa ngobrol dulu sebentar?" tanya Roni, "Ada yang pengen gue ngomongin,"
"Ciee," goda Mira yang tahu perasaan Nadin pada Roni.
Nadin menahan senyumnya, "Apasih," tukasnya, ia menatap lelaki itu, "Ayo Ron, mau ngobrol dimana?"
"Dibelakang sekolah aja."
Gadis itu mengangguk, ia turun dari motor lalu mengikuti langkah Roni.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANAROMA (END)
RomanceNote: Cerita ini hanya fiksi! *** Naik ke kelas 11 seperti tak ada perubahan dalam diri Roni. Sikapnya masih sama, suka terlambat, tidur dikelas, bolos bahkan tak mengerjakan tugas. Paul yang digadang-gadangkan menjadi good boy pun ikut terbawa ajak...
