19. Layangan Putus

1.6K 148 3
                                        

Suasana meriah menyambut Nabila diacara festival buku yang sedang berlangsung dipusat kota, sehabis pulang sekolah ia menyempatkan datang seorang diri dengan setelan yang lebih santai.

Gadis itu ikut berpartisipasi dalam diskusi buku dan mendengarkan pengalaman penulis favoritnya lalu kembali berkeliling menikmati pemandangan sekitar yang dipenuhi dengan stan buku, kafe, dan panggung pertunjukan.

Nabila mengunjungi salah satu stan novel disana, ia terpesona oleh deretan buku-buku menarik yang menghiasi rak-rak, ia berjalan perlahan memilih novel yang menarik perhatian dan memicu rasa ingin tahu.

Ketika sudah menemukannya, sebuah tangan mendahuluinya. "Eh," Nabila sontak menoleh melihat wajah familiar itu. "Paul,"

Lelaki itu tersenyum tipis, "Nih, Nab." katanya mengulurkan buku tersebut tapi Nabila menggeleng.

"Gapapa kamu aja yang ambil." balasnya tersenyum tapi Paul terlihat tak bersemangat, "Lagi ada masalah Powl?"

Paul terkekeh kecil, "Keliatan banget ya," justru ia datang kesini untuk mengalihkan perhatiannya dan menghibur hatinya yang tengah terluka.

Sambil memilih buku, Paul menceritakan semuanya dari mulai kejadian polisi salah paham hingga berujung berdebat dengan mamih, belum pernah dirinya seterbuka ini pada gadis yang baru saja dikenalnya beberapa minggu lalu tapi hatinya cukup lega.

Nabila menghela napas, "Kalo menurut kamu orang tua yang sayang ke anaknya itu kayak abi yang protektif ke aku, ngejaga aku, anter jemput aku, kamu salah Powl."

Lelaki itu menoleh meminta penjelasan lebih.

"Bahasa cinta orang tua itu beda-beda," lanjutnya, "Kamu sadar gak kalo mamih kamu sayang banget sama kamu, walaupun lewat pihak sekolah tapi dia tetep mantau perkembangan kamu disekolah gimana."

"Emang menurut kamu selama ini mamih kamu tau dari siapa?"

Paul terdiam.

"Mungkin emang gak secara langsung tapi dengan begitu bukannya udah nunjukin kalo kamu tetep prioritasnya,"

Dalam hati, Paul mengangguk membenarkan, pantas saja kemarin mamih tahu tentang ikut andilnya diacara osis seketika rasa bersalah memenuhi relung hatinya.

Nabila tersenyum kecil, "Pulang ya Powl, mamih kamu pasti khawatir nyariin kamu."

***

Ketika malam tiba, Paul pulang kerumah tapi ia tak menemukan sang ibu disana. Langkahnya membawa kekamar mamih, pintu yang setengah terbuka membuat Paul bisa melihat mamih tengah mondar-mandir dengan wajah cemas sembari memegang ponsel.

"Mamih," panggil Paul memecah kesunyian.

Wanita itu berhenti berjalan dan mengalihkan pandangannya kearah pintu, "Sayang," ia menatap putranya dengan berkaca-kaca, suaranya terdengar bergetar.

Ia melangkah masuk dan disaat itu juga mamih menariknya lembut kedalam pelukan menumpahkan semua rasa bersalah dan rindunya. "M-maafin mamih nak," ujarnya diiringi isak tangis.

Paul memeluk mamih tak kalah erat, melepaskan rasa sakit yang telah lama menjeratnya karena ia sadar jika terus dipendam hanya memperpanjang penderitaannya. "Aku yang minta maaf mih,"

Mamih menggeleng tegas, "Enggak sayang, kamu gak salah apa-apa." ucapnya seraya mengurai pelukan, "Mamih yang udah gagal jadi ibu buat kamu, maafin mamih ya nak biar mamih perbaikin kesalahan mamih."

Paul mengangguk, keduanya larut dalam suasana haru. Paul harap mamih menepati perkataannya supaya tak ada luka lama yang membuat hubungan anak dan ibu itu retak lagi.

PANAROMA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang