E P I L OG

2.3K 149 17
                                        

Hari demi hari telah berlalu begitu cepat, ada banyak kejadian yang sudah berubah menjadi kenangan, momen-momen indah yang takkan bisa terulang termasuk orang-orang yang ada didalamnya.

Banyak cerita yang sudah terbiasa dilalui bersama hingga dipisahkan keadaan, rasanya sedih dipaksa melepas tapi bahagia karena sudah lulus, intinya berat tapi ikhlas.

Mungkin saja takdir punya rencana lebih indah, mungkin saja memang tak bisa bersama untuk waktu yang lama tapi nanti semoga kembali dipertemukan menjadi pribadi versi terbaik masing-masing.

Beberapa bulan kemudian Paul dan Roni memilih melanjutkan kuliah, anak yang katanya sering bolos terlebih lagi title tersebut tersemat pada Roni kini menjadi mahasiswa seni sembari mengambil kerja part time berbeda dengan Paul memilih meneruskan hobi berhitungnya pada jurusan matematika.

Sementara di Jogja, Salma menseriusi bakatnya dijurusan musik bahkan gadis itu sekarang sangat lihai memainkan alat-alat musik dan Nabila yang masih berada di Aceh kini menekuni bidang sastra disalah satu kampus ternama seraya memulai awal karirnya menjadi seorang penulis.

Mereka berkembang dibidang dan bakatnya masing-masing, rasa tak menyangka sekaligus bangga mereka rasakan karena hasil jerih payah mereka selama ini berhasil membungkam semua mulut-mulut nakal diluar sana.

Lelaki dengan rambut sedikit gondrong itu mengadahkan kepalanya, menatap langit biru yang cerah. "Ngerasa ada yang beda gak sih Ul?" ucapnya sambil menoleh.

Paul mengangguk, sedetik kemudian ia tersenyum menggoda, "Kangen ya lo?" tuduhnya membuat Roni menyanggah cepat.

"Dih, gue? Kangen sama Salma? Ya enggaklah!" balasnya penuh yakin sambil mengalihkan pandangan.

Lelaki berkemeja hitam itu terkekeh, "Padahal gue gada nyebut nama dia lho,"

Roni jadi kikuk, ia terdiam sejenak. "Ngeselin lu!" ketusnya menutupi rasa salting, "Mentang-mentang komunikasi lo baik sama Nabila," lanjutnya menyindir membuat Paul tetap dengan tawanya.

Karena sama-sama sedang tak ada kelas, keduanya memilih bersantai dikafe tempat Roni bekerja yang berada didekat kampus seraya menikmati kopi favoritnya. Paul mengulas senyum, "Yaudahlah Ron, ikhlasin aja."

Ia mengusap bahu Roni, "Salma sama Nabila ada karena Tuhan pengen kita jadi lebih baik dan sekarang tugas mereka udah selesai, kita harus bisa hidup tanpa mereka." ujarnya.

Roni mengangguk sembari tersenyum kecil, ia sudah ikhlas tapi belum bisa lupa, masih ada kenangan yang tersisa membuatnya selalu mengingat masa lalu. Roni hanya mampu memandangi sapu tangan yang menjadi saksi dibalik kokoh tembok hatinya yang berhasil diruntuhkan oleh seseorang.

Ting!

Ponsel kedua lelaki itu sama-sama berbunyi.

Paul lebih dulu melirik.

Ternyata ada notifikasi dari grup mereka berempat, entah suatu kebetulan atau tak sengaja, gadis yang dibicarakan Roni akhirnya menanyakan kabar membuat senyum Roni merekah layaknya bunga yang tengah bermekaran.

"Cepet tuh bales dari ayang," goda Paul membuat temannya mendengus sebal.

Episode terbaik dalam hidup adalah ketika mampu bersyukur atas setiap takdir yang dialami. Mau berhasil atau gagal, patah atau tumbuh, bahagia atau kecewa, apapun hasilnya rayakanlah.

Pada akhirnya semua selesai, mereka sudah berdiri dititik akhir, mengejar tujuan masing-masing dengan keadaan yang berbeda tapi satu hal yang perlu digaris bawahi pertemanan mereka akan tetap ada karena mereka nyata.

PaNaRoMa.

Terima kasih sudah lahir dan hadir merwarnai perjalanan.

----------------------THE END---------------------

Alhamdulillah tamat juga...

makasih banyak udh nemenin aku nulis sampe selesai❤💙 mohon maaf kalo ada kesalahan yg disengaja/ga disengaja, seluruh cerita ini hanya fiksi

pantau trs info selanjutnya ditiktok aku ya @its.starri

see you next story!

PANAROMA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang