Ujian sekolah berhasil dilewati dengan lancar meski belajarnya harus tergopoh-gopoh supaya bisa mencapai hasil maksimal dan kini seluruh murid kelas 12 tengah merayakan kelulusan disalah satu hotel yang ada di Bandung.
Suasana di ballroom hotel begitu meriah, dekorasi yang indah memenuhi ruangan, semua tampil cantik dan menawan begitupun guru-gurunya beserta orang tua murid yang turut hadir.
Sebagian dari mereka juga membawa buket entah mungkin untuk diberikan pada orang terkasih ataupun untuk dirinya sendiri, semua orang disana tersenyum lebar menikmati acara yang telah disiapkan oleh sekolah.
Sama halnya dengan kedua lelaki yang memakai jas hitam membuat ketampanannya berkali-kali lipat, dia Paul dan Roni sudah datang disana sambil berbincang tentang rencana apa yang akan dilakukan setelah lulus nanti.
Mata Paul tak sengaja melirik ke arah pintu, dua gadis yang sangat ia kenali baru saja masuk. Paul sontak mengalihkan pandangannya ketika tak sengaja beradu tatap pada salah satu diantara mereka.
Ya, dia Nabila baru saja tiba bersama Salma.
Gadis berkebaya merah dengan make-up yang natural membuat Paul benar-benar pangling melihatnya, dibalut hijab pashmina hitam yang menutup dada begitupun dengan Salma terlihat anggun dimata Roni.
"Cantik banget Nabila," gumam Paul yang terdengar sahabatnya saat Nabila berlalu melewati mereka.
"Kalo cantik milikin dong," sahut Roni menepuk pundaknya membuat lelaki itu kembali pada kesadarannya dan memasang wajah kesal.
"Dikira gampang kaya beli permen apa?!"
Roni tergelak, "Lagian betah banget dianggurin," celetuknya, melihat sikap Paul kemarin-kemarin membuatnya gemas sendiri.
Paul menatap tajam, "Heh! Gue juga kalo bukan karena atasan, enggak mau kayak gini." ucapnya mengundang tawa kecil Roni.
"Iya dah ngerti, restu bapak emang susah."
"Kayak udah pengalaman aja," kata Paul dengan santai membuat Roni mendelik sebal.
Disisi lain, kedua gadis itu duduk dibarisan tengah bergabung bersama kelas lain. Salma memperhatikan sekitar, "Abi belum kesini Nab?"
"Bentar lagi nyusul sama umma." jawabnya sembari membalas pesan dari sang ayah.
"Dia cakep ya," puji Salma pada seseorang membuat Nabila mengangkat kepalanya dengan penuh penasaran.
"Siapa?"
Salma melirik lelaki yang duduk paling belakang, "Tuh pangeran kamu."
Gadis itu jadi tersipu malu saat Salma menunjuk pada Paul.
"Ciee..." goda Salma terkekeh.
Nabila juga melihat ada Roni disana, ia tersenyum jahil. "Pangeran aku atau pangeran kamu yang cakep," ledeknya sembari menyenggol bahu Salma membuat Salma tiba-tiba jadi salah tingkah.
***
Acara kelulusan pun dimulai oleh pembawa acara dari salah satu perwakilan guru, pria yang masih terlihat muda itu menyambut tamu undangan dengan senyum ramah dan penuh semangat.
Kemudian semua yang hadir diminta untuk berdiri menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, suara mereka menggema diseluruh ruangan.
Beberapa rangkaian acara telah terlaksana dan tibalah pada pengumuman nama-nama siswa berprestasi yang ditunggu-tunggu. Salma menahan napas, apakah namanya akan dipanggil?
"Penerima penghargaan siswa terbaik, selamat untuk..."
Jantung mereka berdetak dua kali lebih cepat, harap-harap cemas mengiringi suasana.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANAROMA (END)
RomanceNote: Cerita ini hanya fiksi! *** Naik ke kelas 11 seperti tak ada perubahan dalam diri Roni. Sikapnya masih sama, suka terlambat, tidur dikelas, bolos bahkan tak mengerjakan tugas. Paul yang digadang-gadangkan menjadi good boy pun ikut terbawa ajak...
