"Lo balik-balik galau Powl, kenapa sih?" Roni melirik sekilas pada temannya yang sedang menyetir dengan raut wajah lesu. "Sedih gara-gara temen berantem lo gada?"
Paul mendelik kesal, "Bukan! Itu mah elu kali,"
Roni terkekeh, "Ya terus?"
"Nabila."
Dahi Roni mengkerut mendengarnya, "Kenapa dia? Ikut pergi juga?"
Tebakan lelaki itu tepat sasaran karena Paul mengangguk meski pelan.
"Hah? Yang bener lu?" katanya tak percaya.
"Gue aja dikasih tau sama Salma,"
"Kapan ngomongnya?" tanya Roni, perasaan dirinya tak mendengar percakapan kedua sejoli itu.
"Dia ngebisikkin gue."
Wajah Roni langsung berubah, entah memang tak suka atau bagaimana, hanya lelaki itu yang merasakan.
"Gimana ya Ron?" Paul gusar, tak tahu harus melakukan apa.
"Apanya?"
Mendengar jawaban itu seketika Paul emosi, "Tukang cilok!" raungnya asal membuat Roni terkekeh, "Ya Nabila-lah, pake nanya lagi!" lanjutnya kesal.
Roni menghela napas sembari menatap Paul, "Mau lo gimana? Kan lo sendiri yang bilang kalo bokap dia gak ngizinin lo lagi," ucapnya mengingatkan.
"Nah itu yang bikin gue bingung," kata Paul resah sambil satu tangannya memijat pelipisnya yang terasa pening.
Roni ikut berpikir membantu persoalan Paul, sedetik kemudian ia menjentikkan jarinya dengan bersemangat, "Oh! Gue punya ide," serunya.
"Apaan?" sebenarnya Paul sedikit tak percaya dengan ide sahabatnya, cara berpikirnya selalu diluar nalar.
"Lo terobos aja Ul."
***
Keesokan harinya, seluruh keluarga Nabila sudah bersiap akan pergi, koper-koper berjejer disana. "Gada yang ketinggalan lagi?" tanya abi yang dibalas gelengan oleh sang istri.
"Enggak."
Nabila menghela napas melihat suasana rumahnya yang akan ditinggalkan, dia bersekolah disini, punya sahabat disini tapi ujungnya harus berpisah. Gadis itu juga sempat memberikan pesan pada Salma memberitahukan tentang keberangkatannya.
"Bi, kenapa sih harus pindah-pindah terus?" Nabila menoleh pada abi yang baru saja menutup panggilannya.
Sang ayah tersenyum mengusap kepala putrinya penuh lembut, "Itu resiko pekerjaan abi sayang." jawabnya memberi pengertian. "Yaudah, yuk berangkat."
Keluarga itu bergegas masuk kedalam mobil, Nabila mengambil duduk dibelakang. Sebelum melesat pergi, ia melirik keluar jendela menatap rumah sederhana tersebut, "Pasti bakal kangen banget sama Bandung," batinnya.
***
Mereka sudah tiba dibandara dan segera check-in terlebih dulu, lagi-lagi Nabila menghembuskan napasnya, "Kenapa berat ya rasanya pergi tanpa pamit," batinnya memperhatikan sekitar, berharap pada angan sama saja hasilnya mustahil, salah dirinya juga mengapa memilih merahasiakan.
"Yuk," kata abi, mereka lanjut berjalan.
Baru beberapa langkah seseorang memanggil namanya. "Nabila!"
Gadis yang merasa namanya dipanggil itu seketika menoleh tapi tak menemukan si pemilik suara itu hingga abi menyadari putrinya berhenti terdiam. "Kenapa kak?"
KAMU SEDANG MEMBACA
PANAROMA (END)
RomanceNote: Cerita ini hanya fiksi! *** Naik ke kelas 11 seperti tak ada perubahan dalam diri Roni. Sikapnya masih sama, suka terlambat, tidur dikelas, bolos bahkan tak mengerjakan tugas. Paul yang digadang-gadangkan menjadi good boy pun ikut terbawa ajak...
