Setahun berlalu, keempat remaja itu sudah naik kekelas 12 dan bersyukurnya mereka masih satu kelas.
Karena telah disibukkan ujian sekolah dan hal lainnya, satu demi satu ekstrakulikuler yang menjadi tanggung jawab mereka perlahan ditinggalkan terutama osis, jabatan Salma dan Nabila sudah pindah tangan ke adik kelasnya.
Begitupun Roni, semenjak mengenal kedua gadis itu, hidupnya semakin baik, tak ada kata bolos lagi dalam kamusnya meskipun sesekali suka khilaf.
Pagi ini, pelajaran matematika sedang berlangsung, jika dulu bersama bu Sari sekarang berbeda guru. Pria paruh bayah dengan kacamata tebal itu tengah menulis soal dipapan diikuti dengan murid-muridnya, "Jika sudah beres, bapak akan panggil satu per satu untuk mengerjakan kedepan."
Semuanya mengangguk, suasana begitu hening hampir sebagian dari mereka ketar-ketir takut namanya dipanggil.
"Ada yang sudah?"
"Belum pak!" semua kompak menjawab.
"Paul no 2 udah kah?" bisik Nabila, ia ingin minta diajari karena soalnya sedikit sulit.
Lelaki itu menggeleng datar sebagai balasan.
Nabila menghela napas.
Sudah setahun ini juga es yang ada didalam tubuh Paul belum mencair, Nabila sudah sering bertanya tentang apa yang membuat lelaki itu seperti ini tapi jawabannya selalu sama, "Kamu gak ada salah apa-apa." katanya.
"Berhubung waktunya akan habis jadi selesai atau tidak selesai yang namanya dipanggil tolong kedepan," ucap guru itu.
"Semoga jangan gue," batin Roni dengan harap-harap cemas.
"Dita,"
Roni menghela napas lega ternyata bukan namanya.
"Silahkan nak maju, kerjakan nomor satu."
Gadis berhijab itu berjalan menuju papan tulis lalu mengambil spidol.
"Nab udah?" Salma menoleh.
"Belum euy, 3 lagi," jawabnya sembari terburu-buru menghitung.
"Sudah pak," sahut Dita seraya memperlihatkan hasilnya.
Bapak berkemeja itu mengangguk, "Jawabannya benar, silahkan kamu tunjuk teman kamu untuk mengerjakan soal selanjutnya,"
"Jangan gue Dita, please."
"Dita baik deh, tugas gue belum selesai, suer dah."
"Ta jangan gue Ta, ntar gue jajanin cilok mang Asep ya."
Dita memperhatikan satu demi satu teman sekelasnya yang memohon, pandangannya jatuh pada seseorang. "Nabila, pak." ucapnya.
Merasa namanya dipanggil sontak gadis itu panik bukan main, ia masih menyelesaikan beberapa soal lagi.
"Silahkan Nabila," ucap guru tersebut.
Melihat itu, seseorang dengan inisiatif tinggi mengangkat tangannya. "Saya dulu aja pak, boleh?"
Nabila menatap orang itu dengan tatapan tak bisa diartikan.
"Kan gue minta Nabila bukan lu!" jawab Dita kesal.
"Apa bedanya sih? Kan bisa setelah gue."
"Tapi gue yang berhak nunjuk!"
"Udah woi udah, masalah sepele doang elah. Biar si Paul aja duluan," lerai Roni yang mengerti situasi, ia paham betul mengapa temannya itu tiba-tiba mengajukan diri.
"Ya sudah Paul dulu," sahut guru itu mendukung membuat Dita menghentakkan kakinya kesal menuju tempat duduknya.
Paul bangkit berdiri.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANAROMA (END)
RomanceNote: Cerita ini hanya fiksi! *** Naik ke kelas 11 seperti tak ada perubahan dalam diri Roni. Sikapnya masih sama, suka terlambat, tidur dikelas, bolos bahkan tak mengerjakan tugas. Paul yang digadang-gadangkan menjadi good boy pun ikut terbawa ajak...
