28. Ingatlah Hari Ini

1.7K 166 5
                                        

Jam makan siang sudah tiba, para tamu undangan mulai menikmati segala jenis makanan yang tersaji lezat disana. Layaknya prasmanan, barisan antriannya begitu panjang memenuhi ruangan dengan masing-masing tangan membawa piring.

Salma menarik kursi tepat disamping lelaki yang mulutnya tak berhenti mengunyah, ia menggelengkan kepala, "Makan mulu,"

Paul melirik dan menelan makanannya hingga habis, "Eh Sal, makan tuh kebutuhan pokok manusia lagian pura-pura kuat juga butuh tenaga kali," ujarnya sembari menyeruput es jeruk yang terlihat menggoda tenggorokannya.

"Banyak ngomong!"

"Ron, urus nih cewek lu,"

Mata Salma melotot, "Bilang sekali lagi coba?!"

Paul keburu menyengir dan menangkupkan kedua tangannya sebagai permintaan maaf sebelum jurus taekwondo Salma melayang padanya.

Mereka yang disana hanya terkekeh melihat tingkah tom and jerry itu termasuk Nadin yang kini bergabung bersama.

"Guys, besok kayaknya gue balik deh." ucap Salma membuat suasana menjadi hening bahkan Nabila sampai mengerjapkan matanya beberapa kali.

"Hah?" beo Paul tak paham.

"Oh.. maksudnya lo mau nginep dihotel, gak akan pulang ke kost, gitu?" sahut Roni sambil menyuapkan dessert penutup.

Semua menatap Salma meminta penjelasan, yang ditatap malah terkekeh kecil, "Bukan." balasnya.

"Terus?"

"Gue mau pulang kampung."

Suasana mendadak senyap.

"Secepet ini?" kata Nadin tak menyangka, baru saja ia berbaikan dengan gadis itu tapi Salma malah akan pergi.

Salma menghela napas panjang seraya memandang mereka bergantian, "Ya mau gimana lagi Nad, urusan sekolahku disini udah beres, sewa kost juga udah mau habis dan yang paling bikin aku pengen cepet pulang karena aku rindu rumah." diakhir kalimat suara Salma begitu lirih.

"Segampang itu ya Sal buat pergi dari Bandung?" timpal Nabila menatap temannya dengan ekspresi kecewa.

"Enggak gitu Nab," jelasnya dengan sendu, "Aku juga kangen keluargaku, kalian enak bisa liat keluarga kalian setiap hari sedangkan aku ... disini cuma sendiri."

"Jadi selama ini lo anggap kita siapa?" tutur Roni yang sedari tadi terdiam. "Sekedar angin yang numpang lewat?" wajah lelaki itu berubah datar, "Atau cuma orang asing yang nemenin lo di Bandung?" sindirnya.

Salma menggeleng cepat, menyanggah semua pernyataan Roni, mengapa keadaannya jadi runyam begini. "Kalian keluarga gue juga,"

"Terus kenapa lo beranggapan lo sendirian disini?" tukas Roni tak habis pikir membuat Salma menundukkan kepalanya merasa bersalah.

Teman-teman yang lain hanya diam menatap kedua sejoli itu.

"Sorry," cicit Salma, "Lo bener Ron, mungkin gue yang terlalu iri liat anak-anak lain dikelilingin orang-orang tersayang," lanjutnya.

Roni menghembuskan napas pelan, "Lo punya gue Sal."

"Hah?" ulang gadis itu diikuti dengan tatapan aneh teman-temannya.

Tersadar dengan ucapannya, ia jadi kikuk sendiri. "Nahkan, salah ngomong dah gue." batin Roni meneguk ludahnya.

"Eh, m-maksudnya lo punya gue, Nabila, Paul, Nadin yang peduli sama lo juga." jelas Roni berusaha terlihat sebiasa mungkin padahal tanpa tahu Paul tengah menahan tawanya.

"Oh..." Salma menganggukkan kepala.

Roni menggaruk tengkuknya yang tak gatal dan menyengir, "Yaudah gue ambil minum dulu, bae-bae lo."

PANAROMA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang