13. PaRon VS NaSa

1.9K 170 9
                                        

"Tumben yang satu lagi gak ikut," ucap Roni sembari berjalan beriringan.

"Siapa?" sahut Salma.

Mereka tengah bersiap untuk masuk ke lapangan, Paul juga sudah memastikan tubuhnya kembali sehat.

"Nadin?" tebak Nabila yang mendapat anggukan dari Roni, biasanya ketiga gadis itu layaknya lem dan perangko.

"Gatau," jawab Salma, "Dari pagi tadi bawaannya sensi mulu, serasa gue punya salah tapi gue juga gatau salah gue dimana," lanjutnya menjelaskan.

Roni menoleh heran, "Perasaan tadi gue ketemu dia dikantin baik-baik aja tuh malah dia traktir gue, entah rangka apa," ceritanya.

Salma sontak menggenggam lengan gadis disebelahnya, "Apa dia ultah ya Nab? Terus kita lupa," katanya seraya menatap.

Nabila mengangguk kecil, "Bisa jadi sih,"

Mereka tiba dilapangan, Paul yang malas meladeni memilih menyudahi. "Orang kayak gitu gausah dipikirin, fokus sama sekarang aja." ujarnya.

"Siap-siap buat kalah ya bro," ledek Salma.

***

"Baiklah, hari ini kita akan mendengarkan visi misi yang akan disampaikan oleh kedua calon ketos dan waketos kita," ucap pria paruh bayah dihadapan seluruh siswa itu. "Silahkan nak Salma,"

Salma maju beberapa langkah sambil menerima mic yang disodorkan, "Terima kasih pak." ia mengambil napas panjang dan tersenyum, "Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh teman-teman,"

"Izinkan kami menyampaikan visi misi kami selaku calon ketos waketos nomor urut 1,"

Nabila menatap bangga rekannya yang tengah berbicara menjabarkan visi misi yang telah dirundingkan kemarin sementara kedua lelaki itu menyimaknya. Dalam hati Roni, ia mengakui bahwa Salma dan Nabila memang pantas untuk dijadikan panutan tapi tetap saja egonya tak mau kalah.

"Cukup dan terima kasih." Salma kembali ke tempatnya.

"Silahkan nomor urut 2,"

Kini, giliran Paul yang maju, tepuk tangan heboh dari Roni terdengar. "Pilih 2 guys, ayo pilih 2," teriaknya.

"Nanti promosinya Roni!" tegur sang guru membuat lelaki itu menyengir.

Paul berdehem, "Hallo teman-teman," sapanya. "Saya izin memberikan visi misi kami calon nomor urut 2..."

"Temen gue tuh," bisik Roni bangga pada Salma.

Gadis itu memutar bola matanya malas sembari bersidekap dada, ia heran juga mengapa Roni bisa dipilih jadi wakilnya, apa tak ada murid lain yang baik sedikit?

"Sekian terima kasih."

"Keren lu bro!" puji Roni saat Paul kembali keposisinya.

Paul hanya tersenyum kecil sebagai balasan, jauh dilubuk hatinya ia tak percaya diri, ia juga sebenarnya tak mau menjadi penghalang bagi kedua gadis itu karena Paul tahu betul Salma begitu ambis ingin menjadi ketua osis begitupun Nabila.

Guru tersebut mengambil alih mic, "Baik anak-anak, hari berikutnya kita akan memasuki hari debat yang mana kita akan mengadu argumen setiap paslon, tentukan pilihanmu untuk SMA Biru Bangsa."

PANAROMA (END)Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang