"Nih, uang jajannya kak,"
Nabila menerima beberapa lembar uang itu dengan senyum lebar, "Makasih abi." balasnya, "Doain kakak hari ini ya bi biar semuanya lancar,"
Pria dengan seragam kantor yang rapih itu mengangguk, "Aamiin." katanya.
"Terpilih atau enggaknya nanti itu gak jadi masalah kak karena bukan patokan keberhasilan," ucap abi, "Tapi yang penting belajar, kejar cita-cita." tambahnya.
Sedangkan disisi lain, kedua lelaki yang sedari tadi menongkrong dikantin dipagi buta seperti ini tengah membicarakan acara debat ketua osis yang sebentar lagi akan berlangsung.
Roni mengeluarkan ponsel disaku celananya lalu mendial nomor seseorang.
"Ngapain lo?" tanya Paul heran.
"Stt," Roni menaruh jari telunjuknya dibibir saat terdengar panggilan tersambung.
"Hallo mah,"
Paul menurut, ia terus memperhatikan sahabatnya, penasaran apa yang akan dilakukan oleh Roni.
"Doain abang ya mah biar menang di ketua osis, bagi-bagi nasi kuning juga ke tetangga hari ini,"
Lelaki dihadapan Roni itu memutar bola matanya malas, ia kira ada apa.
"Besok pemilihannya," jawabnya.
"Kayak bakal menang aja," gumam Paul sambil menggelengkan kepala.
Seluruh siswa SMA Biru Bangsa berkumpul dilapangan, hari debat yang ditunggu-tunggu pun akhirnya tiba. Kedua paslon bersama beberapa guru terlihat ada didepan.
"Baik, apa visi masing-masing paslon untuk meningkatkan kesejahteraan siswa disekolah ini?" tanya salah seorang guru menatap bergantian kedua paslon tersebut.
Salma dengan yakin mengambil micnya, "Izin bapak, saya berencana untuk..."
Disepanjang perdebatan panas yang tak ada ujungnya ini terdapat beberapa murid yang berbisik-bisik tentang mereka.
"Kata gue yang menang bakal PaRon sih,"
"NaSa dong, mereka lebih berwibawa,"
"Kalo lo bakal milih siapa?"
"Kak Paul, dari awal juga udah suka dia,"
"Dia udah punya teh Nabila,"
"Bodo amat."
Acara debat selesai bertepatan dengan jam istirahat, "Baik, siapkan pilihan kalian untuk besok ya."
***
"Bu mau beli mie jebewnya 2 tapi yang satu lagi chili oilnya banyakin aja,"
"Waduh, gak pedes tuh Nad?" sahut lelaki yang tak sengaja mendengarnya.
Gadis itu sontak menoleh kesebelah, "Eh, Roni," Nadin ingin bersikap dingin atas kejadian kemarin yang membuat hatinya sakit tapi situasinya saat ini tak mau membuat lelaki itu menaruh curiga. "Emang suka pedes sih," balasnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANAROMA (END)
RomanceNote: Cerita ini hanya fiksi! *** Naik ke kelas 11 seperti tak ada perubahan dalam diri Roni. Sikapnya masih sama, suka terlambat, tidur dikelas, bolos bahkan tak mengerjakan tugas. Paul yang digadang-gadangkan menjadi good boy pun ikut terbawa ajak...
