Malam telah tiba, mereka sudah berada dipenghujung acara. "Sebelum acara ditutup, salah satu dari teman kalian ingin memberikan persembahan," ucap kepala sekolah tersebut yang akan memberikan sambutan penutup.
Suasana yang tadinya riuh kini perlahan berubah senyap. "Silahkan nak maju kedepan,"
Lelaki yang berada disamping Salma bangkit dari duduknya.
"Lho," Salma menoleh heran saat Roni mulai menaiki panggung dan memegang mikrofon. "Temen lu ngapain dah?" bisiknya pada Paul.
"Udah, liatin aja. Lo pasti seneng," Paul tersenyum misterius matanya menatap lurus kedepan.
Salma mengernyitkan dahinya, ia beralih pada temannya. "Ngapain ya Nab?"
"Mau nembak kamu kali," celetuknya terkekeh.
"Dih,"
Roni berdehem membuat semua mata memperhatikannya penuh penasaran, "Persembahan ini saya berikan buat teman-teman ... khususnya untuk Nadin." ucapnya sambil menatap gadis yang duduk paling depan membuat pipinya bersemu merah.
"Roni mau nembak Nadin?"
"Cie Nadin cie..."
"Ada yang mau official nih,"
"Pajak jadiannya jangan lupa,"
Nadin menahan senyumnya, apakah penantiannya akan segera berakhir?
Berbeda dengan Salma yang dibuat bingung sekaligus kesal, padahal kemarin dia sendiri yang emosi pada Nadin tapi sekarang malah mau menjadikannya pacar.
Roni memberikan kode pada panitia yang bertugas, lampu seketika dimatikan bersamaan dengan jantung Nadin yang berdebar kencang, kira-kira apa yang akan lelaki itu berikan untuknya.
Layar lebar berputar memperlihatkan sebuah video kompilasi.
"Itu Nadin bukan sih?"
"Eh iya bener,"
Wajah Nadin yang semula sumringah seketika berubah pucat tak berdaya, ia panik setengah mati saat video itu menunjukkan bukti kejahatannya pada Salma.
Video berakhir, Roni mengambil alih mic lagi. "Mungkin banyak orang yang gak percaya tapi semuanya fakta."
"Seneng gak Sal?" bisik Paul pada gadis yang kini masih terkejut mencerna semuanya.
"Lo gak boleh nuduh sembarangan dong!" sahut teman Nadin membela.
"Bisa jadi video yang lo buat itu editan biar lo bisa ngelindungin Salma," lanjutnya, "Zaman sekarang kan canggih,"
Suasana menjadi ricuh dan saling tuduh.
"Sudah-sudah," lerai kepala sekolah, "Betul seperti itu Roni?"
Baru saja Roni ingin membuka mulut, seseorang mendahuluinya, "Betul pak!" ucap Bagas seraya berdiri membuat semuanya terkejut.
Roni menatap tajam lelaki itu, ia ingin menyangkal tapi tertahan kala mendengar kalimat selanjutnya.
KAMU SEDANG MEMBACA
PANAROMA (END)
RomanceNote: Cerita ini hanya fiksi! *** Naik ke kelas 11 seperti tak ada perubahan dalam diri Roni. Sikapnya masih sama, suka terlambat, tidur dikelas, bolos bahkan tak mengerjakan tugas. Paul yang digadang-gadangkan menjadi good boy pun ikut terbawa ajak...
